
Shaka dan Runa telah sampai di depan rumah, Runa langsung saja melompat dari motor dan berlari masuk. Untungnya motor Shaka sudah berhenti, jika tidak entah apa yang bakal terjadi.
"BUNDA!" langsung saja gadis itu memeluk sang bunda yang sedang menyapu halaman.
"Kamu ya, main lompat-lompat aja, kalau jatuh gimana?" tanya bunda membalas pelukan Runa.
"Runa kan kangen sama bunda, bunda kok gak bilang-bilang kalau pulang, bukannya lusa ya? kenapa juga bunda gak bilang kalau mau pulang?" tanyanya.
"Yang pulang lusa mah ayah, bunda pulang sekarang."
"Kenapa gak sama bunda aja?" gadis itu mendongak menatap sang bunda.
"Ayah ada kerjaan tambahan di sana, mau gak mau harus pulang pisah, bunda juga gak bisa ninggalin kalian berdua gitu aja." jelas Bunda.
"Oh gitu," Runa hanya mangut-mangut paham.
"Eh nak Shaka, ih ada temannya juga kok didiemin." Bunda menyenggol lengan Runa.
"Astagfirullah lupa," ujarnya. "maaf ya kak."
"Assalamualaikum tante." Shaka menyalami tangan Yuna.
"Waalaikumsalam, gimana kabarnya?"
"Alhamdullilah baik tan,"
"Syukur kalau gitu, oh iya makan siang bareng yuk, bunda baru selesai masa ikan mujaer kesukaan Runa. Kalian pasti belum makan kan?"
Runa dan Shaka menggelengkan kepala bersamaan. "Belum,"
"Yaudah, yuk masih anget baru selesai masak bunda." ajak bunda.
Runa menarik Shaka masuk ke dalam, mereka menyusul bunda yang sudah berada di meja makan. Mereka berdua sama-sama duduk bersebelahan.
"Shaka gak ada alergi kan sama ikan?" tanya bunda Yuna sambil menuangkan nasi ke piring.
Shaka menggeleng pelan. "Gak ada tante,"
…
"Makasih tante udah disuguhi makan siangnya, jadi repot-repot." ujar Shaka.
"Gak masalah, tante malah senang kok. Lagian tadi masaknya juga lumayan banyak daripada gak habis juga. Makasih juga ya nak udah antar jemput Runa selama ini."
"Sama-sama tante, shaka pamit pulang dulu ya udah sore juga." pamit Shaka.
"Iya hati-hati ya," Shaka mengangguk cowok itu menyalami tangan Yuna.
"Runa, aku balik ya." tak lupa juga cowok itu berpamitan ke Runa.
"Iya kak, Hati-hati jangan ngebut-ngebut."
Bunda dan Runa kembali masuk kedalam setelah motor Shaka tak terlihat kembali. "Shaka ganteng juga ternyata,"
"Kak shaka emang ganteng kali bun," Runa akui makin ke sini Shaka semakin tampan.
"Bunda lihat-lihat kalian berdua cocok tuh, kenapa gak jadian aja." seperti biasa bunda menggoda Runa.
"Kan udah jadian bun," ucap Runa pelan.
Bunda yang mendengarkan penuturan putrinya cukup kaget, wanita itu tersenyum menatap Runa. "Ya ampun putri bunda udah besar ya? Kenapa gak bilang-bilang ke bunda kalau kalian udah pacaran?" tanya bunda.
Runa menggaruk tengkuknya tak gatal, bingung mau menjelaskannya darimana. "Y-ya Runa takut aja, takut gak dibolehin sama bunda, bunda sama ayah kan ngelarang Runa sama bang Arfan pacaran."
"Iya bunda sama ayah larang kamu biar kalian fokus ke belajar, tapi, kalau kayak gini kamu harus bilang. Bunda gak mau lho kasih kamu ke orang yang gak tepat nantinya." Bunda memberi nasehat.
"Iya bun maaf," ucap Runa menyesal.
"Gak papa nak, lain kali bilang ya. Masuk yuk udah sore kamu juga belum beres-beres." Bunda merangkul pundak Runa dan membawanya masuk.
…
Shaka baru saja sampai rumah, cowok itu baru saja pulang setelah tadi mengecek basecamp sebentar.
"Masak apa lo?" tanya Shaka pada Ale yang sibuk menonton TV.
"Gue bikin sup ayam sama tempe, sana makan udah ada di meja." ujar Ale yang asik menatap TV.
"Gak ah, ntar aja belum laper," ujarnya.
"Tumben banget, biasanya lo teriak-teriak minta masakin, sekarang giliran dimasakin gak laper. Makan apa lo?" cibir Ale.
"Ikan,"
Ale langsung mengubah posisinya menjadi tegak. "Hah? kok gak lo bungkus buat gue?" tanya Ale.
"Makan barengan temen, yakali gue bungkus." ucapnya dengan santai.
Masa iya minta dibungkus, mau taruh mana muka Shaka?
Ale berdecak kesal. "Ck, tau gitu sup sama tempe nya gue habisin. Udah gue ambil sup nya dikit doang lagi."
"Kan lo udah makan berarti lo udah kenyang dong, yaudah sup nya buat gue. Gue masih laper," belum juga Ale bangkit, Shaka mencekal tangan Ale.
"Itu jatah gue, bentar lagi juga laper. Udah lo tonton tuh haluan lo sampai katarak sekalian, gue mau mandi." Shaka langsung pergi meninggalkan ruang tengah dan memilih ke kamar.
Langkahnya terhenti di depan sebuah kamar, yang bersebelahan di samping Shaka. Oke, lantai dua terdiri dari empat kamar. Kamar shaka berada di bagian pojok kanan dan memang disebelahnya ada kamar kosong yang sudah lama sekali tak ditempati oleh orang.
Jadi memang lantai dua ini hanya di pakai oleh Shaka dan Ale, dan dua sisanya, buat tempat lain. Mungkin sebagai tempat barang, tapi tak bukan kamar bertuliskan Qilla.
Cowok itu menghela nafasnya sebentar, sebelum memutar handel pintu. Perlahan pintu terbuka, suasana kamar ini masih sama. Aroma, warna dan interior kamar tak ada yang berubah.
"Gue kangen sama lo," gumam cowok itu.
Shaka masuk ke dalam, sudah lama sekali dia tak masuk ke dalam ruangan ini. Meskipun begitu kamar ini masih rapi, karena Shaka akan membersihkannya satu hingga dua bulan sekali.
Flashback masa lalu seakan berputar kembali pada pikirannya. Kejadian demi kejadian kembali satu-satu terukir, senyumnya, tawanya dan air matanya tercetak jelas dalam pikiran cowok itu.
"Lo jahat, lo gak tepati janji lo buat kita bersatu, lo jahat, lo wanita jahat. Tapi gue gak bisa benci lo. Gue sayang lo, sampai kapan pun dan dimana pun." Perlahan air mata yang mengenang lolos dengan suka rela.
..."Jangan pernah membuat kata jika tak bisa mengartikannya, begitu pun dengan janji. Jika tak bisa ditepati maka jangan membuat harapan." -Arshaka Virendra Aldebaran....
"Kamu gak papa?" tanya bocah tujuh tahun itu.
Gadis yang sedari tadi menunduk karena bullyan dari anak-anak perlahan mengangkat kepalanya. "Aku gak papa, aku kuat, aku punya papa dan aku punya mama." ujar gadis itu, sangat terlihat jelas bahwa gadis mungil itu sedang menangis.
Terlihat dari hidung peseknya yang memerah serta kantung mata yang memerah. Dengan genangan air di pelupuk matanya.
"Iya kamu punya mama papa kok," ujar cowok itu kembali, meskipun dia tak tau apa yang terjadi sebenarnya.
"Kamu kenapa disini? Kenapa gak main sama anak-anak yang lainnya?" tanya cowok itu.
"Anak-anak gak mau main sama aku, mereka bilang aku anak haram, aku gak punya bapak dan aku terlahir tanpa bapak." jelasnya, sesekali mengelap ingus nya.
"Yaudah, kalau mereka gak mau temani kamu. Gimana kalau kita aja yang temani kamu?" ajaknya.
Seketika mata gadis itu berbinar, dirinya mengangguk cepat. Ah baru kali ini ada yang mau berteman dengannya. "Mau dong mau banget, emang kalian mau temenan sama aku?" tanya gadis itu dengan suara pelannya di lima akhir katanya.
"Kenapa nggak? Mama selalu ajarin, buat kita temenan sama semuanya. Gak boleh pilih-pilih." ucap cowok berwajah datar tersebut.
"Oh iya nama kamu siapa? Kenalin aku Galang," ujarnya memperkenalkan diri.
"Ah aku Aqilla, kamu siapa?" tanya gadis itu pada cowok berwajah datar.
"Shaka," balasnya singkat.
"Yeayy! Akhirnya aku punya teman lagi, setelah tujuh tahun gak punya." Sorak gadis itu dengan gembira.
Kedua cowok itu Shaka dan Galang, mereka merupakan teman sebangku dari taman kanak-kanak hingga sekarang. Keduanya memiliki sifat yang bertolak belakang.
Shaka yang cuek dan masa bodo, serta Galang yang hiperaktif. Sangat-sangat-sangat jauh berbeda.
Siapa sangka, kejadian di taman ini adalah kisah mereka dimulai. Kisah pertemanan mereka terjalin.
"Bang, bangun woi maghrib sana!" Ale sudah berkali-kali membangunkan Shaka namun sampai sekarang cowok itu belum bangun juga.
"Aduh nih orang napa lagi, masa iya digantung setan. Astaga ini kan maghrib orang bilang kalau maghrib-maghrib gini pasti banyak setan gentayangan dan gak boleh tidur nanti dihampiri setan." Ale bergidik ngeri, bulu kuduk nya seketika berdiri.
Shaka yang merasa terganggu tidurnya, perlahan mengerjapakan matanya. Menatap Ale yang menoleh ke kanan dan ke kiri seraya mengusap kedua lengannya.
"Siapa suruh lo masuk nih kamar?" suara bas itu membuat Ale terlonjak kaget, kapan Shaka bangun?
"Udah bangun?"
Shaka langsung mengubah posisinya menjadi duduk, cowok itu menatap tajam Runa. "Siapa suruh lo masuk ke sini?!" Shaka menaikkan suaranya satu oktaf.
Mama help me! batin Ale menjerit.
"So-sorry bang," Ale berucap dengan keringat dingin yang mulai membasahi telapak tangannya.
"Keluar!" tunjuk Shaka ke pintu.
"Keluar Ale!"
"Gue bilang keluar ya keluar! Jangan sampai gue kasar ke lo. Keluar!" Usir Shaka, seketika emosi cowok itu tak terkontrol.
"I-iya iya gue-gue keluar sekarang, buruan shalat nanti marahin papa." Setelah itu Ale lari keluar kamar.
Shaka mengumpat, kenapa bisa dia tertidur disini, awalnya ingin mengecek malah tertidur. "Brengsek!"
Cowok itu cukup kesal dengan dirinya, kenapa bisa sampai seseorang masuk ke dalam kamar ini. Yang jelas-jelas itu tak boleh terjadi.
"Bodoh!" umpatnya kembali.
Shaka langsung saja merampas tas nya dan keluar kamar itu, tak lupa menguncinya kembali.
…
Masih menjadi misteri nih 🗿
Bisa vote dan komen? Plis begadang buatnya 😭