
Seminggu sudah Shaka dirawat di rumah sakit, semalam Shaka sudah merengek untuk pulang. Tak tau kenapa perasaan tak enak sudah memenuhi hati kecilnya. Ditambah semalam, lelaki itu bermimpi bahwa Runa pergi. Pergi jauh dan tak akan pernah kembali.
"Gimana Ma?" tanya Shaka pada Lea yang baru memasuki ruangan.
Wanita itu mengangguk pelan, meski sedikit khawatir, karena keadaan Shaka yang masih belum pulih 100%. Melihat Lea mengangguk membuat Shaka bangkit dari kasur dan berlari keluar.
"Shaka pamit, assalamu'alaikum!" berlari keluar dan tak menghiraukan teriakan Lea. Sekarang yang harus Shaka lakukan adalah sesegera mungkin ke sekolah dan menemui Runa.
"SHAKA KAMU MAU KEMANA?!" pekik Lea berteriak.
"Shaka bakal aman kok," Al mengusap puncak Lea dan sesekali mengecupnya singkat.
Al meringis pelan saat cubitan mendarat tepat di bagian perut. "Sakit!" Al meringis sambil mengusap perutnya yang terkena korban KDRT.
Memutar bola mata malas. "Shaka itu baru sembuh, kalau dia kenapa-napa gimana? Dia belum sembuh Al," tak tau saja bahwa jantungnya sudah hampir lepas dari tempat.
...
"Runa Ayo!!" teriak arfan dari luar.
Mendengarkan pekikan Arfan dari bawah, membuat Runa segera turun. "Iya, bentar Bang!" pekik Runa dari atas, lalu menutup pintu rapat-rapat.
Tepat sekali, hari ini Runa akan pindah ke Jogja seperti janjinya pada Arfan. Bukan maunya, melainkan Arfan lah yang meminta.
"Dek ayo buruan, keberangkatan bentar lagi," pekik Arfan sekali lagi membuat Runa langsung berlari ke bawah.
"Iya-iya sabar dong," ujar Runa dengan langkah malas. "Bang Arfan, boleh gak dibatalin?" cicit Runa pelan.
Berat sekali rasanya meninggalkan kota ini, kota dimana Runa dibesarkan. Dimana ditempat inilah Runa mengenal arti cinta yang sesungguhnya.
Helaan napas panjang terdengar. Arfan menghampiri adik kesayangan nya lalu memegang kedua pundak Runa, agar gadis itu menatap ke arahnya.
"Gue juga berat dengan ini. Tapi percaya sama gue kalau ini demi kepentingan lo, kalau gue bisa jaga lo. Pasti gue jaga," ujar Arfan. "Gue aja yang jaga diri gue sendiri masih bingung, masih susah. Gimana gue jaga lo?" sambung Arfan.
"Susah," ringis Runa.
"Awalnya emang susah, tapi nanti bakal jadi kebiasaan. Tujuan lo sekarang adalah kuliah yang bener, buktiin ke Ayah Bunda kalau lo bisa dapat beasiswa." Arfan lantas menarik Runa ke dalam dekapannya.
Sedikit menguraikan pelukan. "Ya udah, kita berangkat sekarang. Takut nanti ketinggalan," kata Arfan. "Semuanya udah masuk kan? Gak ada yang ketinggalan?" tanya Arfan memastikan.
Runa menggeleng kecil. "Gak ada, semuanya udah siap."
"Berangkat sekarang," Arfan mengambil alih tas ransel Runa dan memasukkannya ke dalam bagasi mobil.
...
Motor ninja memasuki kawasan Trisatya yang berhasil membuat murid-murid berkerumun. Mereka menjerit saat mengetahui sosok pemilik motor ninja.
Menyisir rambut ke belakang, matanya menelisik ke sudut lapangan, dan langsung memilih masuk ke dalam kantin.
"Lo baru sadar bego! ngadi-ngadi pakai kesini segala lagi," sungut Arthur.
Berdecih pelan, Shaka mengambil sekaleng soda dan meneguknya hingga habis. "Bodo amat," ujarnya tak peduli.
"Sa, lo baru sembuh!" tegur Tara membuat Shaka tersenyum tipis dan menepuk pundak Tara dua kali.
"Santai aja,"
"Ngapain lo kesini?" tanya Rayn selaku wakil ketua.
"Runa," jawab Shaka singkat.
Rasya yang diam langsung menegakkan tubuhnya saat mendengarkan nama Runa terpanggil. "Lo udah nemu siapa pelaku dari kecelakaan lo?" tanya Rasya pada Shaka, berhasil membuat empat inti Alastair lainnya menoleh.
Melirik Rasya sekilas lalu menggelengkan kepala. "Belum,"
Rasya bergumam singkat, tangannya asik menari di layar ponsel. Tak lama lelaki itu menyerahkan sebuah rekaman vidio kepada Shaka. "Lo lihat," suruh nya.
Mengambil alih ponsel Rasya, Shaka menatap layar berukuran persegi dengan serius. Seketika rahangnya mengeras, napasnya menggebu-gebu, dadanya naik turun.
Bangkit dari kursi Shaka langsung berlari keluar, seseorang berhasil membuat amarah nya memuncak. Matanya menelisik sudut bangunan sekolah, hingga berhenti pada satu titik.
"KANIA!" Shaka mempercepat langkah lantas menarik kasar tangan Kania, membuat gadis itu hampir terjatuh.
Inti Alastair yang mengikuti Shaka langsung serentak menghentikan langkah, mereka berlima cukup waspada. Melihat Shaka yang emosi tentu membuat suasana menjadi mencengkram. Di tambah lagi dengan anak-anak yang bergerombol ingin melihat aksi adu bacot antara Shaka dan Kania.
"S-shaka," Kania tersenyum canggung saat wajahnya berhadapan langsung dengan wajah Shaka yang begitu menyeramkan.
"Jadi lo dalang dibalik kecelakaan gue terjadi?" tanya Shaka dengan nada keras, yang berhasil membuat anak-anak kaget serta tak percaya.
"Jadi Kania pelakunya?"
"Wah gue kira Runa tau,"
"Kalau beneran Kania, dia gak waras sih. Fix!" cibir anak-anak berbisik.
Kania terhenyak, menatap ke arah lain. "Aku? Ngapain aku bikin kamu celaka Shaka?"
"Yakin bukan lo?" Shaka tersenyum miring tangannya menyalakan rekaman vidio yang berisi Kania dengan beberapa orang laki-laki, di sana memperlihatkan bahwa Kania sedang menyusun sebuah rencana.
Rencana dimana Kania ingin membuat Runa celaka, namun sayang seribu sayang. Malah Shaka yang menjadi korban dari ulah Kania.
Kania lantas kalang kabut. "Sa, i-itu bohong! Itu gak mungkin aku, aku-aku gak mungkin lakuin itu apalagi sampai mau bunuh orang," Kania berusaha mengelak.
Sekeras apapun Kania mengelak, dan sekeras apapun gadis itu membela, semua bukti sudah berada di tangan Shaka dan semua aksi yang Kania lakukan sudah terekam jelas-jelas.
"Kania, Kania mau ngelak apalagi?" Tanya Arthur sambil menggelengkan kepala.
"Itu bukan aku!" sungut Kania. "Itu pasti editan, kamu masa percaya gitu aja?"
"Astaga kasihan gue, mana masih muda lagi." sahut Bram sambil geleng-geleng kepala, miris sekali.
"Udah ketahuan juga Kan, jujur aja gih. Dari pada malu loh," Tara ikut menyahuti sekaligus mengeluarkan kata-kata Mutiara nya.
"GAK, ITU BUKAN AKU!" elak Kania yang masih tak tau diri.
Rasya berdecih, lelaki blasteran ikut berkata. "Semua bukti udah jelas, sekarang lo mau ngelak apalagi?" tantang Rasya, perlahan mulai membongkar kebusukan Kania mulai dari awal hingga ke rencana kecelakaan terjadi.
"Dan satu hal yang harus lo tau, bahwasanya. Selama ini Runa lah yang ngerawat lo koma di rumah sakit, bahkan dia sampai mendonorkan darahnya buat lo bertahan hidup." Rasya menjelaskan semuanya dan membenarkan ucapan Kania yang berkata bahwa, gadis itulah yang mendonorkan serta merawat Shaka selama dirinya koma.
Tubuh nya kembali tersentak, seperti tersengat listrik. Jadi, di dalam tubuh nya ada darah Runa yang mengalir? Lalu kenapa gadis itu tak menjenguknya bahkan saat bangun pun Runa tak ada.
"Di dalam tubuh gue ada darah Runa?" tanya Shaka yang masih tak percaya.
Shaka menepis tangan Kania dengan kasar dan langsung membalikkan badan, sebelum melangkah menjauh Vanya datang.
"Runa mana?" tanya Shaka pada Vanya.
Vanya hanya terdiam, bahkan sama sekali tak menjawab pertanyaan yang Shaka lontarkan.
"Jawab gue Runa mana?" perasaan tak enak kembali muncul.
Hanya bisa menggeleng pelan. "Gak tau. Runa gak masuk hari ini, dan nomor yang dia pake udah gak aktif lagi." jawab Vanya.
Tanpa menunggu lama, Shaka berlari keluar gedung sekolah. Dia harus segera ke rumah Runa sekarang. Semua murid saling tatap, Arthur, Bram dan Tara yang ingin menghampiri Shaka langsung dicegat oleh Rasya.
"Mau kemana lo," cegah Rasya.
"Biarin, biar dia ngejar sesuatu yang udah dia sia-siakan. Urusan kita cuma sama nih cewek," tunjuk Rasya pada Kania.
...
Runa dan Arfan sudah sampai di bandara, karena masih ada waktu setengah jam. Mereka putuskan untuk makan siang.
"Lo cari makan, ntar chat gue ada dimana. Gue mau pengecekan dulu," setelah itu Arfan melangkah pergi.
Runa mengangguk singkat, melangkah menuju salah satu resto. Tak perlu waktu lama makanan yang sudah ia pesan datang juga, bertepatan dengan Arfan yang kembali.
"Penerbangan bakal dimulai 20 menit lagi," ujar Arfan memperingati membuat Runa mengangguk paham.
"Bunda sama Ayah udah tau?" tanya Runa sambil memakan makanan pesannya.
"Udah," balas Arfan padat. "Semalam udah gue kasih tau, Ayah juga udah tau sama apa yang Shaka lakuin ke lo." sambung Arfan yang berhasil membuat Runa tersedak.
Menatap Arfan tak yakin. "A-ayah tau?" Arfan mengangguk sebagai balasan.
...
Shaka sampai di depan rumah Runa cowok itu lantas berlari masuk ke dalam. Mengetik pintu berkali-kali.
"Runa," panggil Shaka. Rasanya jantung Shaka sudah ingin berhenti, firasatnya sudah tak enak dari tadi.
"Runa," mengintip ke dalam dari arah jendela. Namun, yang Shaka lihat hanya gelap dan tak ada orang.
"Runa, kamu di dalam kan?"
"Runa. Ini aku Shaka," Shaka tersentak kaget saat pundaknya di sentuh.
"Maaf den, cari siapa yah?" tanya bapak-bapak usia lanjut.
"Cari Runa pak," jawab Shaka. "Bapak tau Runa? Saya sudah panggil berkali-kali, tapi gak ada jawaban dari dalam." ungkap Shaka.
"Oh neng Runa, tadi bapak liat neng Runa sama den Arfan lagi kemas-kemas terus naik mobil. Kayaknya mau pindah," pernyataan dari bapak itu berhasil membuat Shaka tak percaya.
"Pindah? B-bapak tau pindah nya kemana?" tanya Shaka.
Pria itu menggeleng. "Maaf den saya kurang tau,"
"Tadi perginya kemana ya pak?" tanya Shaka sekali lagi.
"Kalau gak salah ke sebelah Timur, kayaknya mau ke bandara. Cuma saya kurang pasti bener apa nggak." balas bapak itu.
"Baik Pak, Terima kasih infonya. Kalau begitu saya pamit dulu, assalamu'alaikum." Pamit Shaka dengan buru-buru menancapkan gas ke bandara.
...
Berada di dalam pesawat, Runa menatap keluar jendela, ia masih mengharapkan suatu keajaiban, yang tentunya itu mustahil.
Dalam hati lain. Gadis itu merasa senang karena mendengar kabar bahwa Shaka sudah sadar, usaha yang dia lakukan tak sia-sia untuk kali ini. Namun di sisi lain, Runa merasa sedih akibat Shaka tak ada di sampingnya.
Mungkin memang benar. Kau hanya perlu kehilangan aku agar belajar bagaimana cara menghargai. Agar kau paham, tidak semua yang kau inginkan bisa terpenuhi. Dan agar kau mengerti bahwa ada hal yang tidak semuanya bisa kau gapai.
Tetaplah bahagia tanpa aku, belajar lah menjadi sosok yang lebih dewasa agar kau tau, bagaimana cara menghargai seseorang. Ada kalanya yang kuat menjadi lemah, yang lemah menjadi kuat, yang tak tega sekarang menjadi tega, yang tadinya tak bisa melupakan kini malah hilang begitu saja, ada yang sampai tak bisa membuka hati. Akibat perjuangannya tak pernah dihargai.
Di sisi lain, Shaka baru sudah berada di dalam bandara, sudah hampir sepuluh menit dia mengelilingi bandara. Mulai dari ruang tunggu, parkiran, bahkan beberapa resto terdekat juga sudah dia cari. Tapi, sosok yang dia cari belum ketemu.
"Maaf mbak lihat orang ini gak?" tanya Shaka pada salah satu penumpang. Sambil memperlihatkan foto Runa.
"Maaf, gak lihat."
"Sorry mas, lihat cewek ini gak?" tanya Shaka pada salah atau penumpang lainnya.
"Maaf, gue gak lihat."
Langkah Shaka perlahan mengecil, memejamkan mata sebentar. Shaka sudah yakin, bahwa Runa sudah berada di dalam pesawat. Melangkah keluar dan balik ke parkiran.
Perlahan, pesawat yang Runa tumpangi kini terbang ke udara. Masih menatap keluar jendela gadis itu berkata. "See you Jakarta, makasih atas hari-harinya. Sampai jumpa pada takdir Tuhan." gumam Runa.
Shaka mendongak ke atas, menatap salah satu pesawat yang terbang, dia tersenyum. "Mungkin kamu ada di salah satu dari sekian banyaknya penumpang. Satu kata yang mau aku ucapkan adalah minta maaf dan Terima kasih, sampai ketemu pada titik takdir Tuhan." gumam Shaka.
...
...𝐓𝐀𝐌𝐀𝐓...
...
Satu kata untuk Shaka?
Satu kata untuk episode kali ini?
Hikmah apa yang kalian dapat dari season ini?
Terima kasih semua ❤
...
...Shaka...
...Runa...
...Vanya...
...Rasya...
...Ale...
...Rayn...
...Tara...
...Arthur...
...Bram...