
Terbangun ketika suara alarm ponsel yang berbunyi beberapa kali, membuat Shaka mau tak mau harus membuka matanya, mengerjapkan beberapa kali.
Shaka menoleh ke samping, seketika matanya terbuka lebar. "Sayang!" panggil Shaka saat melihat Runa yang tak ada di sampingnya lagi.
Mengambil ancang-ancang untuk berdiri, Shaka segera keluar kamar. Sambil memakai bajunya kembali, Shaka mengitari rumah.
"Runa! Kamu dimana?"panggil Shaka sekali lagi.
"Sayang, kamu-" Shaka menggantung ucapannya, tersenyum tak kala melihat seseorang yang dari tadi ia cari tengah bersantai dipinggir kolam.
"Runa,"
Runa menoleh. "Hubby?" tersenyum manis. "Sini," Runa menepuk tempat yang kosong di sampingnya.
Shaka menghampiri dan duduk di samping Runa, kedua kakinya dia masukkan ke dalam kolam. "Aku cari ternyata disini, kamu ngapain panas loh."
"Lagi jemur badan aja, maaf ya by. Gak sempet bangunin kamu tadi,"
Berdeham singkat. Shaka menarik Runa dan memeluknya dari samping. "By, tadi Bunda telpon. Katanya aku suruh main ke sana, Bunda udah kangen." ujarnya pada Shaka.
"Nanti siang kita ke Bunda," putus Shaka.
"Beneran?" Shaka mengangguk seraya tersenyum. "Makasih hubby!" memeluk Shaka dengan erat.
"Sama-sama, masuk yuk. Udah panas," ajak Shaka, mengajaknya masuk ke dalam.
...
Seperti janjinya tadi pada Runa. Siang ini dirinya akan mengantarkan Runa untuk bertemu keluarganya, Shaka tak ingin kembali egois untuk kedua kalinya. Shaka juga yakin jika selama ini Runa merindukan Bunda kesayangannya itu.
"Hubby ayo!" panggil Runa yang tak sabaran.
Shaka menggelengkan kepalanya pelan, mendengarkan teriakan Runa yang dari tadi memanggilnya tak sabaran.
"Iya sayang sebentar!" dengan kaos hitam dan celana pendek berwarna senada menjadi pilihan shaka.
"Lama!" omel Runa, sudah lima belas menit ia menunggu Shaka.
"Maaf, tadi harus kirim laporan dulu." mencoba untuk mengalah kembali, lagian itu juga salahnya karena membuat Runa menunggunya lama.
Mengangguk kecil. "Berangkat sekarang yuk!" menggandeng lengan Shaka dari samping.
"Udah gak sabar ketemu Bunda?"
Memerlukan waktu beberapa menit, mereka pun tiba di tujuan utama mereka. Berhenti tepat di depan sebuah rumah berlantai dua yang sudah lama tak mereka kunjungi.
Runa dengan segera turun terlebih dahulu, meninggalkan Shaka di dalam mobil. "Bunda, Ayah, Bang Arfan, kak Jihan. Runa pulang!" pekiknya memasuki rumah.
Mendengar teriakan dari orang yang sudah tak asing lagi, membuat Yuna segera keluar.
"Waalaikumsalam, anak cewek datang-datang bukannya salam malah teriak." Yuna geleng-geleng kepala.
Runa tersenyum dan berlari untuk memeluk sang Bunda. "Bundaaa! Runa kangen,"
Yuna beralih memeluk sang putri. "Waalaikumsalam anak Bunda," ulang Yuna kembali.
Runa menyengir. "Assalamu'alaikum Bunda, hehe lupa."
"Waalaikumsalam, anak Bunda akhirnya kesini juga. Bunda tungguin loh dari kemarin," ucap Yuna.
Menatap sang Bunda tak enak, memang beberapa hari yang lalu Runa janji untuk main kesini, tapi karena ada urusan lainnya dirinya sampai lupa.
"Maaf ya Bun, kemarin mau kesini gak jadi karena harus bantu kak Shaka. Perusahaannya juga lagi naik jadi begini deh," Runa tersenyum meringis, tak enak.
Yuna tersenyum memaklumi, wanita itu juga tau seberapa sibuk Shaka. "Iya Bunda paham kok. Nak Shaka mana? Kok gak kelihatan, kalian berdua kan kesini?" tanya Bunda, mengedarkan pandangan mencari keberadaan sang mantu.
Tak lama Shaka datang, dengan senyum manisnya menyapa Yuna.
"Assalamu'alaikum Bunda, gimana kabarnya?" tak lupa menyalami tangan sang mertua.
"Waalaikumsalam. Alhamdulillah baik, malah makin sehat nih karena kalian datang." gurau wanita berumur 45 tahun itu.
"Bang Arfan mana?" tanya Runa, menatap sekeliling rumah. Mencari keberadaan Abang kesayangannya itu.
"Disini!" sahut Arfan yang baru tiba.
"Dateng juga lo, gue kira udah lupa rumah." cibir nya melirik ke arah sosok yang ada di samping Runa, Shaka.
Shaka hanya memutar bola mata malas, tepatnya malas menanggapi ucapan sang kakak ipar. Biar saja dikatakan durhaka, orang Arfan dulu yang mulai.
Menatap Runa dengan mengangkat sebelah alisnya. "Gak kangen gue lo? Tumben gak peluk?" tanya Arfan.
Arfan membalas pelukan Runa, sedikit mengurai pelukan. Arfan menatap Runa dari atas hingga bawah. "Kok lo kurusan, kagak dikasih makan ya lo sama Shaka?" tuduh Arfan.
Shaka yang mendengar itu berdecak kesal. Mengapa jadi dirinya yang kena getahnya sekarang. "Gak!" singkat Shaka, tanpa melupakan nada ketus nya itu.
"Aduh sakit!" Arfan meringis pelan, tak kala Runa melayangkan pukulan keras di lengannya.
"Gak usah ngaco deh!" delik nya tajam. "Nyari ribut terus perasaan," imbuh Runa.
Sementara itu Shaka tersenyum miring, menatap sinis kakak iparnya. Dengan arti kata 'liat nih gue menang, Runa bela gue.'
"Udah udah, jangan ribut. Sekarang ayo kita makan siang. Bunda baru aja selesai masak," ajak Yuna seraya melerai mereka.
"Akhirnya bisa makan masakan Bunda lagi!" girang Runa, akibat tak sabar gadis itu berjalan terlebih dahulu dan meninggalkan yang lainnya.
Sementara itu yang lainnya hanya geleng-geleng kepala dan menyusul Runa ke meja makan. Yuna dengan sabar menyiapkan makanan pada anak-anak nya.
"Makasih Bunda,"
"Sama-sama, ayo dimakan!" ujar wanita itu, mempersilahkan.
...
Kini Shaka, Arfan dan Runa sedang duduk bersantai di ruang tamu. Menatap layar televisi yang menayangkan sebuah film drama komedi, itu semua kemauan Runa.
Selesai makan siang, ketiganya memutuskan untuk ke ruang tamu. Seraya mengobrol santai, untuk Bunda sendiri. Wanita itu tengah keluar akibat ada pesanan dadak yang membuatnya harus segera ke ruko.
"Sekarang kita ngapain?" tanya Runa, selesai menyaksikan film itu hingga usai.
"Kagak tau," jawab Arfan merosot kan dirinya ke sofa.
Mencabik bibirnya kesal. "Btw kak Jihan mana? Kok gak kelihatan?" tanya Runa, dari awal ia datang. Runa tak mendapati wanita kelahiran Surabaya itu.
Mendengar nama istrinya di panggil, membuat Arfan bangkit dari tidur nya. "Keluar tadi ada urusan," jawab Arfan seraya memakai jaketnya kembali.
"Lah Abang kemana?"
"Jemput bini, udah rewel tuh bocah. Duluan ya! Jagain adik gue, awas aja kalo kenapa-napa. Lo orang pertama yang gue interogasi!" tunjuk Arfan dengan jari telunjuknya.
Memutar bola mata jengah. "Ye!" singkat, padat dan jelas bukan.
Runa hanya tertawa kecil, melihat interaksi mereka. "Kalian tuh ya, aneh banget tau. Gak ketemu nyariin, kalo ketemu berantem mulu." selalu saja begitu, entah dendam pribadi apa yang masih belum terselesaikan.
"By," panggil Runa pelan.
Hanya melirik Runa sekilas dengan mengangkat sebelah alisnya, lalu balik menatap layar TV yang menayangkan kartun dua bocah kembar.
"Ih dilirik doang," mengerucutkan bibirnya kesal.
Shaka menoleh ke samping, menarik Runa dan menatapnya lembut. "Kenapa? Mau apa?"
"By," panggilnya kembali. "Boleh minta sesuatu gak?" tanya Runa sembari menautkan kedua tangannya.
"Boleh, emangnya mau minta apa?"
"Tadi waktu lewat depan sana, aku gak sengaja liat warung seblak gitu, kayaknya baru buka deh." ujar Runa memberi jeda. "Boleh gak kalau kita ke sana, kayaknya enak."
Shaka hanya berohria saja, lalu menjawab. "Enggak!" tegasnya.
"Sekali aja boleh ya? Janji deh gak bakal sakit," ujarnya memohon sembari mengangkat jari kelingkingnya di hadapan Shaka.
"Mau kue gak?" tawar Shaka memberikan sepiring kue kering.
Runa mendengus pelan. "Maunya seblak bukan kue!"
Shaka kembali menggeleng tegas. "Gak boleh sayang. Sekali nurut bisa? Maag kamu gak kuat, fisik kamu juga lemah. Aku gak mau kamu kenapa-napa, kali ini aja ya?" tanya Shaka sambil mengusap lembut punggung Runa.
"Tapi mau makan itu. Udah lama gak makan," gumam Runa pelan namun masih terdengar di telinga Shaka.
"Boleh, cuma gak sekarang. Kamu baru makan, emang belum kenyang?" Runa menggeleng sebagai balasan.
"Yaudah makan kue aja kalau gitu," putus Shaka yang semakin membuat kekesalan Runa bertambah.
"Aku benci kamu!" ujar Runa sembari melipat kedua tangannya di depan dada, merajuk.
"Aku malah sayang kamu,"
...
STOP! NTAR OVERDOSIS cmiiw :3