
..."Seharusnya ku sadar, bahwa aku hanya pelampiasan." -Runa....
..."Antara melepaskan atau mengikhlaskan." -Shaka....
.........
Kini kedua kubu saling berhadapan, siapa lagi kalau bukan Alastair dan Gundala lebih tepatnya Galang seorang.
Mereka kembali ribut akibat salah satu anggota Gundala hampir membuat Runa celaka, lebih tepat nya kemarin malam.
Jika bukan salah satu anggota Alastair yang mencegahnya, mungkin saja Runa celaka, tepat hari itu juga.
"Apa maksud lo buat bikin Runa celaka?" tanya Shaka, tak melupakan ekspresi datarnya.
"Buat celaka Runa? Oh itu, buat bongkar kebenaran aja sih, kebenaran kalau lo cuma kasihan sama dia," remeh Galang.
Satu bogeman mentah mengenai rahang Galang, membuatnya tersungkur di atas tanah. Sedangkan yang lainnya, yaitu Rasya, Rayn, Bram, Arthur dan Tara hanya terdiam.
"Udah gue duga," gumam Rasya.
"Kasihan? Maksudnya?" Arthur tak paham dengan ucapan yang dilontarkan Galang barusan.
"Shaka cuma kasihan sama Runa, dan itu gak lebih." Tumben banget Bram langsung paham, biasanya kan otaknya gak nyambung.
"Hah? jadi- selama ini sifat Shaka ke Runa, cuma rasa kasihan doang gitu?" Arthur menatap Shaka tak percaya, yakin nih. Apa dia salah denger doang.
"Ras, beneran ya?" Arthur bertanya pada Rasya, ya mungkin aja Rasya bisa memberikan info yang benar, kan dia paling waras di antara yang lain.
Rasya hanya mengangkat bahunya tak tau, cowok itu memilih diam. Galang bangkit dari jatuhnya cowok itu menatap Shaka nyalang.
Galang mengangkat mengakat sebelah alisnya. "Emang bener kan?" tanya Galang, remeh.
"Jaga mulut lo!" bantah Shaka.
"Emang bener lo bodoh soal cinta, sampai anak orang lo jadiin pelampiasan. Santai dulu dong, jangan emosi." Galang mencegah Shaka yang ingin memukulinya kembali.
"Gue gak tau sih gimana reaksi Runa kalau dia denger kebenaran ini."
"Gue juga gak tau gimana reaksi dia, kalau mengetahui bahwa orang yang dia sayangi dengan tulus, hanya membalas dengan rasa kasihan."
"Dan juga, gimana reaksi Runa kalau mengetahui sang pacar masih teringat akan masa lalunya." Lanjut Galang kembali.
Tanpa ketujuh cowok itu sadari, dari kejauhan ada sosok yang mendengar semuanya. Dia berdiri tegang, memundurkan langkah perlahan, tanpa ia sadari dia berhasil menginjak sesuatu.
"Runa?"
Dia Runa, Runa berhasil mendengarkan pembicaraan mereka, entah ini mimpi atau tidak, jika ini mimpi Runa mohon segera bangunkan dia!
Shaka menatap Runa, dapat terlihat di kedua bola mata Runa ada sesuatu yang menggenang di sana, dan Shaka dapat melihat sesuatu kekecewaan di sana.
"Runa-" Shaka melangkah mendekat.
Runa, gadis itu kembali memundurkan langkahnya, gadis itu menggeleng, menyuruh Shaka untuk diam ditempat. Runa memutar balik badannya, gadis itu berlari sekencang-kencangnya.
Galang tersenyum miring, cowok itu tak menyangka jika ada Runa di sini. Misinya berhasil kembali, tapi Galang merasa aneh. Mengapa Runa ada di situ.
"Misi gue berhasil," batin Galang bersorak gembira. Perlahan Galang melangkah pergi.
Shaka hanya menatap kepergian Runa, cowok itu hanya terdiam di tempat, tak ada kata untuk mengejar Runa. Seakan kakinya begitu berat untuk melangkah.
…
Runa berlari masuk ke kamar, gadis itu membanting pintu dengan kencang dan langsung bersembunyi dibalik bantal.
"Ternyata ucapan Galang kemarin benar? Kenapa kak Shaka gak bilang ke aku dari awal?" Tangisan nya semakin kencang mengetahui kebenaran itu.
Runa tertawa hambar. "Harusnya kamu itu sadar Runa, sadar, kalau kamu sama dia itu beda. Kan udah di peringatin sama kak Tania kemarin."
Tadi saat Runa ingin ke halte bus untuk balik pulang, langkah nya terhenti ketika tak sengaja melihat segerombol anak yang membuatnya penasaran.
"Itu kenapa ya?" Runa yang penasaran pun mendekat, gadis itu menatap beberapa motor yang menurutnya tak asing kembali.
"Ini kan motornya kak Shaka sama teman-temannya, berarti itu kak Shaka dong." ujar Runa bertanya-tanya, gadis itu semakin mendekat dan bersembunyi di belakang pohon.
"Emang bener lo bodoh soal cinta, sampai anak orang lo jadiin pelampiasan. Santai dulu dong, jangan emosi." Galang mencegah Shaka yang ingin memukulinya kembali.
"Gue gak tau sih gimana reaksi Runa kalau dia denger kebenaran ini."
"Gue juga gak tau gimana reaksi dia, kalau mengetahui bahwa orang yang dia sayangi dengan tulus, hanya membalas dengan rasa kasihan."
"Dan juga, gimana reaksi Runa kalau mengetahui sang pacar masih teringat akan masa lalunya." Lanjut Galang kembali.
Seketika dia merasa kan sesak di dalam hatinya, ini apa? ini apa? dia tak salah dengar kan, gak ini semua mimpi, ini hanya mimpi.
Jika kalian mengira Runa marah, dia tak marah, Runa tak marah. Dia hanya kecewa, kecewa kenapa dirinya terlalu dalam begitu tulus mencintai Shaka, sampai dia tak sadar bahwa Shaka tak mencintainya.