
..."Jangan pernah mengulangi kesalahan yang orang lain perbuat." -Jihan Moana....
.........
Malam harinya, Runa merenung di gelapnya malam. Gadis itu masih duduk sendiri di taman belakang, menatap depan dengan tatapan kosong. Entahlah, kenapa ucapan Shaka tadi membuatnya kepikiran begini.
"Gak mungkin! Gak mungkin kalau Rama seorang pembunuh, kalaupun iya. Sudah dari lama dong dia bunuh aku," Runa berusaha untuk berpikir positif.
Lagian jika memang benar ucapan Shaka nyata, buktinya apa? Sedangkan Shaka saja tak bisa memberikan bukti kebenaran.
Menggelengkan kepalanya beberapa kali. "Udah gak usah kamu pikir, buat apa mikirin ucapan unfaedah dari kak Shaka."
"Lagian jadi orang aneh banget, nuduh orang seenak jidat. Udah gitu gak ada bukti lagi. Sama aja dong kalau dia fitnah Rama," Runa percaya pada Rama.
Dirinya yakin, kalau ucapan yang keluar dari mulut Shaka hanya omong kosong, yang bisa saja dia karang sendiri.
Kalau dipikirkan kembali, bisa jadi Shaka hanya mengarang saja. Buktinya, ucapan lelaki itu sama sekali tak bisa dipegang.
Jangankan dipegang, untuk dipercaya saja sudah susah.
Kalian pasti ingat sama Galang? Katanya, Galang jahat, lalu lelaki itu bahaya baginya, dan Galang bukan cowok baik-baik. Tapi ternyata Shaka sedang menilai dirinya sendiri.
Mengingat hal itu kadang membuat Runa tertawa sendiri, tertawa kebodohan diri sendiri. Sudah berulang kali tersakiti, masih saja berharap.
"Runa," namanya terpanggil membuat Runa menoleh.
Ada kak Jihan di sana, perempuan dengan baju tidurnya sedang berjalan menghampiri Runa, dan duduk di sampingnya.
"Kakak kira siapa. Malam-malam gini, dibawah pohon. Mana pakaiannya putih segala lagi. Kan kakak su'udzon jadinya," gurau kak Jihan.
"Kamu ngapain dek, malam-malam diluar sendirian. Gak tidur?" tanya Jihan pada Runa.
Menggeleng kecil dan tersenyum simpul, Runa menjawab. "Gak kak, masih belum ngantuk."
Tertawa kecil, Jihan kembali bertanya. "Lagi ada masalah ya?" tanya perempuan kelahiran Surabaya.
Kali ini Runa terdiam, sama sekali tak menjawab pertanyaan yang diajukan Jihan. Tak dapat respon dari adik iparnya membuat Jihan mengangguk paham.
"Cuma mau bilang aja. Jangan pernah mengulangi kesalahan yang orang lain perbuat." tegas Jihan.
Kening Runa berkerut, menatap Jihan dengan tanda tanya. "Maksud kakak?"
"Kakak tau, kalau kamu lagi ada masalah. Makanya kakak cuma gak ingin kamu melakukan kesalahan yang telah dilakukan orang lain," harap Jihan.
"Contohnya Shaka, ingat gak kesalahan apa yang pernah Shaka perbuat sama kamu?" menatap Runa dengan lembut.
Jihan terkekeh pelan, ketika menatap ekspresi kebingungan yang Runa lihat. "Kakak tau kamu bingung sama apa yang kakak jelaskan, gini deh kamu ingat kembali kesalahan apa yang Shaka perbuat?"
"Penyesalan," singkat Runa.
"Lalu?"
"Terlambat mencintai,"
"Terus?"
"Nah itu, makanya kakak kasih tau kamu buat jangan pernah melakukan kesalahan yang telah dilakukan orang lain," tutur Jihan.
"Kakak tau. Kalau kamu masih menyimpan rasa sama Shaka,"
Jdar!
Seakan terkena sengatan listrik, tubuh Runa bergetar kuat. "Kak Jihan---" Runa tak bisa melanjutkan katanya.
"Kakak juga tau, kalau selama 1 tahun ini. Kamu terima Rama akibat rasa kasihan dan risih kan. Karena Rama ngejar-ngejar kamu,"
"Tau kan perbuatan itu pernah dilakukan sama siapa?" tanya Jihan lagi dan lagi.
Runa kini paham dan mengerti, dengan apa yang Jihan katakan sedari tadi. Meski terdengar biasa saja. Namun, Kata-kata yang perempuan itu katakan berhasil membuat Runa tertampar.
"Coba kamu bayangkan, gimana jadinya jika 3 orang yang digabungkan dalam satu ruangan. Sebut aja mereka adalah kamu, Shaka dan Rama."
"Terus ada satu pertanyaan dan harus kalian jawab dengan jujur. Pertanyaannya adalah, 'kamu suka sama siapa?' disitu kamu menjawab kamu menyukai Rama, dan sebaliknya."
"Lalu kamu lupa, bahwa diruang itu. Tak hanya ada kalian berdua. Melainkan Shaka juga ada di sana, terus menurut kamu gimana perasaan Shaka? Sakit hati bukan?"
"Tapi disini yang sakit hati bukan hanya Shaka, melainkan kamu juga. Kamu bilang suka sama Rama. Padahal perasaan kamu masih ada rasa sama Shaka," Jihan perlahan mendesak Runa dengan kata-kata nya.
Penuturan yang Jihan katakan, kembali membuat Runa tertohok. Runa lagi lagi diam, gadis itu masih setia mendengar ucapan Jihan. Tak ingin mengambil keputusan terlebih dahulu.
"Mending sekarang kamu jujur. Jujur ke Rama, kalau kamu masih belum bisa move on." Jihan memberikan solusi.
"Kakak tau kalau ini susah, tapi lebih susahnya ketika Rama tau sendiri. Sama kayak kamu dan Shaka dulu,"
"Kamu tau kan, hubungan yang buat langgeng itu apa?" tanya Jihan pada Runa.
Runa menyahut. "Kepercayaan,"
Jihan mengangguk pelan lantas tersenyum manis. "Right! Kepercayaan dan kejujuran, yakin deh sama kakak kalau kalian melakukan dua prinsip itu. Hubungan kalian bakal langgeng," cetus Jihan.
Runa menyahut. "Gak tau kak, Runa bingung!" ungkap Runa.
"Kakak tau ini membingungkan, maka dari itu. Kakak mau kamu berpikir dari sekarang, sebelum penyesalan datang!" tegas Jihan.
"Penyesalan selalu datang diakhir! Pikirkan baik-baik semuanya, kakak tau ini sulit tapi kakak yakin kalau kamu bisa!" Jihan menepuk pundak Runa berkali-kali -memberikan adik kesayangannya semangat.
"Masa lulusan terbaik di kampus gak bisa menyelesaikan masalah," pancing Jihan kembali dengan berbisik.
Cukup lama Jihan dan Runa berbincang, hingga Jihan pamit. Perempuan itu berdiri. "Kakak masuk dulu ya. Nanti dicari lagi sama Arfan," pamitnya pada Runa yang dibalas anggukan kecil dari Runa.
"Bang Arfan udah tidur?"
"Udah, kamu jangan lupa tidur! Buruan masuk biar gak masuk angin. Kakak masuk dulu, kalau ada apa-apa cerita aja ke kakak. Kali aja ada masukan buat kamu," kekeh Jihan dan melenggang pergi.
Menatap kepergian Jihan, Runa kembali terdiam. Kali ini pikirannya tak hanya dipenuhi oleh perkataan Shaka saja, melainkan ucapan yang Jihan katakan barusan.
"Apa aku harus bilang jujur ke Rama?" tanyanya dalam hati.