Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Malam hari



Langit malam mulai terlihat. Kini Runa berdiri di balkon dengan segelas susu yang baru saja dia ambil dari bawah, tangannya terulur untuk merasakan tetesan air yang ia rasa sebentar lagi akan turun hujan.


"Kayaknya mau hujan," gumam Runa menarik kembali tangannya untuk ia masukkan ke dalam saku sweater.


"Udah tau hujan masih aja diluar," cetus seseorang dari belakang.


Membuat Runa menoleh ke belakang, tersenyum manis kala mengetahui siapa orang itu. "Hubby? Kamu kapan pulang?" herannya, perasaan dari tadi ia tak mendengar suara pintu terbuka.


Shaka melangkah mendekati Runa, lalu memeluknya dan menghirup aroma tubuh Runa yang membuatnya candu.


"Dari tadi," balas Shaka singkat.


Mengangguk mengerti, Runa memilih untuk diam dan tak bertanya lebih lanjut. Tangannya terulur untuk mengusap lembut surai Shaka.


"Capek ya?" Shaka mengangguk kecil tanpa suara.


"Tadi aku mau ke kantor tau, mau kasih makan siang ke kamu. Eh pas di jalan malah lupa bawa bekal, mana bensinnya udah mau habis. Jadinya gak jadi antar makanan," cerocos Runa panjang lebar.


"Kenapa gak bilang aku aja?" tanya Shaka, ia mengurai pelukan. Menatap Runa dengan tatapan hangat.


"Udah, tapi telpon pak Leo." Runa menyengir. "Terus katanya kamu ada rapat. Daripada aku ganggu jadinya gak jadi ke sana."


Shaka hanya bisa geleng-geleng kepala. Dan kembali memeluk Runa.


"By geli," ujar Runa ketika Shaka mengendus-endus kulitnya.


"Masuk yuk, bentar lagi hujan." ajak Shaka.


Runa tertawa kecil, melihat ekspresi Shaka yang kesal. "Nanti aja, mau lihat hujan."


"Di dalam kan bisa, nanti kamu sakit. Masuk ya," Shaka masih berusaha untuk bersabar dan mencoba untuk tak berucap keras pada sang Istri.


Mendesah pelan, Runa menuruti kemauan Shaka untuk nya masuk ke dalam.


Padahal dirinya ingin sekali menikmati hujan secara langsung, bukan dari dalam. Tetapi karena Runa tak ingin melawan dan tak ingin membuat Shaka khawatir, mau tak mau ia menurut.


"Kamu mandi sana, aku mau siapin baju buat kamu." Runa melangkah menuju lemari baju, mengambil satu pakaian untuk Shaka pakai.


"Bajunya aku taruh di kasur ya by! Aku mau turun sebentar buat angetin makanan," ucapnya pada Shaka.


Akhir-akhir ini yang gadis itu lakukan ada mengerjakan tugas rumah, dan keluar jika memang diperlukan.


Karena Vanya tak ada di Jakarta untuk beberapa minggu ke depan, ia putuskan untuk di rumah saja.


Atau tidak, Runa akan menghubungi Ale untuk mengajaknya main ke rumah.


Dan kini, Runa berdiri di dekat kompor. Tangannya membawa piring kecil berisikan ikan yang tadi dia goreng setengah matang.


Menyalakan kompor dengan api sedang. Sambil menunggu minyaknya panas, Runa memutuskan untuk menyiapkan makanan yang lain dan ia taruh di atas meja makan.


Memasukkan ikannya ke dalam kompor, Runa mulai memasak. Tak lama, Shaka turun dengan rambut basahnya.


"Jangan ngelamun, ikannya nanti gosong!" tegur Shaka membuat Runa tersadar, dan segera mengangkat ikannya dirasa telah matang.


"Selamat makan!" mereka menikmati makan malam dengan tenang.


...


"Hubby!"


Shaka menoleh pada Runa yang baru saja masuk kamar, usai makan malam memang mereka melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.


Runa yang mencuci piring, Shaka yang menyapu rumah. Memang di rumah ini mereka tak mengunakan jasa asisten rumah tangga, karena Runa sendiri lah yang mau.


"Sini," Shaka menepuk bangku di sampingnya yang kosong.


Runa menghampiri Shaka dan menjatuhkan tubuhnya di kursi samping cowok itu.


Shaka mengambil selembar tisu yang ada di atas meja, dan menggelap keringat Runa yang berjatuhan. "Capek?" tanya Shaka dengan lembut, menghapus keringat Runa perlahan.


Menggeleng kecil. "Gak kok."


Tersenyum simpul, Shaka mengangguk kecil. Dirinya tau jika Runa capek akan pekerjaan rumah. Ditambah besarnya rumah ini yang nyaris 2 kali lebih besar dari rumah gadisnya dulu.


"Mau cari asisten gak? Biar kamu gak kecapekan gini," Shaka tak tega jika melihat Runa seperti ini. Gadis itu memang bisa bilang tidak, tapi kelakuannya bisa menggambarkan jika iya.


Kembali menggeleng kecil. "Gak usah by, aku bisa kok beresin rumah sendiri. Gak usah gak papa."


Mendesah kasar, Shaka memilih untuk melanjutkan kerjanya ketimbang ribut dengan Runa. "Terserah!"


"Kamu lagi ngerjain apa?" tanya Runa, mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.


Shaka menatap Runa sejenak. "Grafik administrasi perusahaan," jawabnya.


Runa mengangguk paham, dia tau apa yang Shaka kerjakan. Dan hal itu membuat Runa kepikiran akan satu hal di masa lalu.


Runa terkekeh pelan. "Kenapa?" tanya Shaka.


"Gak ada, cuma kepikiran aja gitu. Dulu kamu kerjain aku habis-habisan supaya bisa deket berdua. Emang dasarnya dari dulu kamu modus!" tunjuk Runa.


Mendengar itu membuat Shaka tertawa ringan. "Tapi kan tetep aja kamu kerjakan."


"Kalau ancamannya gak potong gaji mah udah males, ngeselin banget!"


Jadi, waktu itu Runa mendapatkan tugas untuk membuat grafik administrasi pada bulan itu. Dan Shaka lah yang mengutusnya.


Lalu waktu Runa memberikan buktinya, Shaka menyalahkan nya dengan alasan yang salah angka, salah grafik dan sebagainya.


Sampai akhirnya Runa sadar, bahwa dari tadi dirinya dikerjai habis-habisan oleh Shaka. Setelah kejadian itu mereka sempat ribut sebentar, namun baikan lagi.


"Mencari kesempatan dalam kesempitan!" celetuk Runa.


"Waktu itu harus dimanfaatkan dengan baik. Kamu lupa kalau ada pepatah yang mengatakan, waktu adalah emas." Shaka berucap dengan bijak.


Mencabik bibirnya kesal. "Tapi gak ngerjain orang juga!"


Setelah itu mereka diam, diam dengan pikiran mereka masing-masing. Cukup lama Shaka mengerjakan tugasnya hingga akhirnya selesai juga.


Melirik ke samping, menatap Runa yang berbaring tepat menyandar ke bahunya.


Segaris senyum terbit, menatap Runa yang terlelap membuat Shaka tertawa kecil, baginya Runa menggemaskan.


Menyingkirkan laptopnya terlebih dahulu, lalu mengangkat Runa ke kasur dan menaruhnya perlahan-lahan agar tak membuatnya bangun.


Selesai memastikan bahwa Runa nyaman, Shaka ikutan membaringkan diri di samping Runa.


"Selamat malam sayang. Mimpi indah," mengecup sekilas kening gadisnya.


...


Sialan, Nana juga mau :)


Yok yok jejaknya ditambah lagi, bukan cuma like doang 🙆🏻