
"Gue antar balik sekalian ya? Udah jam istirahat soalnya, takutnya lo gak keburu istirahat." ujar Galang.
"Iya, maaf ya ngerepotin." ucap Runa tak enak.
"Gak masalah, naik gih," pintah Galang, membantu Runa naik ke atas motor.
Vanya masih menunggu Runa datang, padahal beli istirahat akan berbunyi 10 menit lagi, namun yang ditunggu-tunggu masih belum menampakan batang hidungnya.
Sudah mencoba menelpon Runa, tak ada hasilnya. Karena Runa tak membawa handphone dan dia tinggalkan di dalam kelas.
Vanya masih mencoba menunggu Runa, sampai dia lupa dengan waktu belajarnya. Melupakan bahwa nanti setelah istirahat ulangan harian akan dimulai.
"Na, lo mah ye jago bener bikin gue khawatir, mana bentar lagi masuk," gumam Vanya.
"Kok lo sendiri?" suara itu berhasil membuat Vanya terjingkrak kaget, cewek itu menoleh ke belakang ada Shaka dan kelima temannya.
"Nah itu, gue lagi nungguin Runa datang tapi yang ditunggu kagak datang-datang, padahal mau bel masuk." kata Vanya.
Kening Shaka berkerut. "Kemana?"
Vanya mengangkat bahunya tak tau. "Katanya sih izin buat fotokopi, tapi sampai sekarang belum balik, padahal udah setengah jam lebih."
"Emangnya Runa fotokopi dimana? Kok belum balik sampai sekarang?" sekarang giliran Rayn yang bertanya.
"Depan sa-" Vanya yang mau melanjutkan omongannya terhenti, akibat satu motor berhenti tepat didepan gerbang, hal itu membuat Vanya serta yang lain menatap ke arah motor tersebut.
Mata anggota inti Alastair membulat sempurna, mengetahui siapa pemilik motor ninja merah itu. Tak hanya itu mereka berenam juga bertanya-tanya, kenapa bisa Runa bertemu dengan cowok itu?
"Makasih ya udah dianter,"
Galang melepaskan helm full face nya. cowok itu mengangguk sambil tersenyum. "Berapa kali lo bilang makasih ke gue? Sama-sama, gak usah lo pikirin balikin duitnya gimana? Cuma segitu doang kok."
"Aku gak enak aja, udah dianter balik terus ditambahin lagi."
"Apa salahnya buat bantu orang? Gak ada kan, udah sana mending lo masuk deh, gue mau balik juga." ujar Galang sambil mengusap pundak Runa.
Kejadian keduanya tak luput dari keenam manusia yang menatap keduanya tajam. Tangan Shaka sudah mengepal, rahang cowok itu mengeras.
"Iya, kamu juga. Aku masuk dulu ya,"
"Hem, sana masuk." Galang menatap ke arah Shaka, senyum smirk tercetak jelas pada bibir Galang, cowok itu berhasil melaksanakan misi nya.
Runa masuk ke dalam, gadis itu cukup terkejut ketika mendapatkan Shaka dan yang lainnya menatap Runa dengan tatapan horor.
"Akhirnya lo balik juga, lo dari mana sih ditungguin juga? Lo gak tau bentar lagi itu masuk? Mana udah ditungguin tuh sama Bu Nisa, bikin khawatir aja lo." ucap Vanya panjang-lebar.
Runa hanya terkekeh pelan. "Maaf ya Van, tadi fotokopi nya tutup, mau gak mau harus cari yang lain. Makanya jadi lama." jelas Runa.
Runa tersentak kaget, Tiba-tiba pergelangan tangannya ditarik, gadis itu mendongak ada Shaka yang menatapnya horor.
"Ikut gue," bisik Shaka tepat di depan wajah Runa. Bisikan itu rendah namun tersirat penekanan.
"Eh kak, tapi-"
Shaka langsung menarik tangan Runa, tak menghiraukan teriakan dari teman-temannya. Sebelumnya Runa melemparkan kertas fotokopi itu kepada Vanya.
"Kayaknya Shaka marah deh," gumam Arthur, cowok itu menatap kepergian dua sejoli.
"Aduh, kasian bener lo Run. Semoga gak napa-napa dah," Bram berucap, cowok itu menatap kasihan Runa.
"Jangan sampai Shaka keluarin jurus pimpimpom!" ujar Tara absurd.
"Kak kita mau kemana?" tanya Runa pelan, namun masih terdengar jelas di telinga Shaka.
Shaka tuh telinganya tajam, meskipun orang itu cuma bergumam doang, masih terdengar jelas di telinga Shaka.
Shaka menepis pelan tangan Runa, sekarang mereka berdua berada di taman belakang.
Shaka memojokkan tubuh mungil Runa ke tembok, cowok itu mengunci pergerakan Runa dengan kedua tangannya yang dia tumpukan di samping kepala Runa.
"Kak Shaka," lirih Runa takut, ketika Shaka memojokkan nya dengan kedua tangan yang mengunci pergerakan Runa, mata tajam bak elang itu membuat nyali Runa seketika menciut.
"Kenapa bisa-bisanya lo sama dia?" pertanyaan itu semakin membuat Runa takut.
Runa meneguk saliva nya dalam-dalam, seketika tenggorokan nya terasa kering, didalam hati gadis itu berdoa agar tak ada orang yang melihat kejadian ini.
"Jawab!"
"T-tadi dia cuma bantu aku antar fotokopi aja," ujar Runa dengan cepat, gadis itu semakin meremas ujung rok.
"Jujur!" desak Shaka.
"I-iya,"
"Jujur atau gue cium?" bisik Shaka yang membuat tubuh Runa kaku dan tak bisa bergerak.
"I-iya beneran kok, gak bohong. Dia cuma antar aku fotokopi terus udahan," ujar Runa terbata-bata.
Shaka hanya menghela nafasnya kasar, cowok itu melepaskan kedua tangannya dan memberikan jarak pada Runa. Akhirnya, Runa bisa bernafas saat ini.
"Yakin?"
"Yakin, tadi itu fotokopi tutup, dan gak tau darimana Galang datang dan dia tawarin aku buat ke fotokopi lain, yaudah daripada aku harus balik gak bawa apa-apa, akhirnya aku ikut. Beneran kok kak gak bohong," lirih nya gadis itu mencoba menatap mata Shaka meskipun takut.
Shaka menatap Runa dengan intens. "Jangan bohong Run,"
"Gak kak, beneran aku gak bohong, dia hanya antar aku doang kok. Gak lebih deh." Shaka berusaha mencari kebohongan pada mata Runa, cowok itu sama sekali tak menemukan kebohongan.
"Oke, lain kali jangan ulangi lagi," ujar Shaka, cowok itu tak tega menatap Runa yang ketakutan. "Jangan pernah mau diajak dia entah urgent atau gak!" tegas Shaka.
"Kenapa?"
Mata Shaka menatap ke depan. "Dia bahaya buat lo,"
Kening Runa berkerut, "bahaya?" gumam gadis itu.
Shaka mengangguk. "Hm, dia bahaya, dia bisa kapan aja buat lo masuk kedalam masalah dia. Gue gak mau lo masuk kedalam masalahnya."
"Tapi Galang baik, dia bantu aku kok. Dan dia sopan sama cewek," sangkal Runa.
Shaka kembali menatap Runa, cowok itu tersenyum miring. "Tau dari mana kalau dia baik? Lo aja baru ketemu dia sekali, dan lo bilang dia baik?"
"Yakan-"
"Apa? Lo yang terlalu baik, apa lo yang terlalu bodoh, kalau lo kenapa-napa gimana? lo gak tau dia punya niat buruk atau gimana sama lo, dan lo terima dia gitu aja." Dapat terlihat Shaka begitu khawatir dengan gadisnya, dia takut nantinya Runa akan terkena masalahnya.
Seperti yang kita tau Galang itu licik, dia bisa aja berpura-pura baik pada Runa, dan bisa saja di waktu yang sama Galang menjadikan Runa sandara untuk permusuhan mereka berdua.
"Iya, maaf kak, Runa salah." ucap Runa.
"Ya gue maafin, tapi lain kali jangan mau lo terima tawaran orang, apalagi sama orang yang gak lo kenal. Paham?" tegas Shaka.
Runa mengangguk paham, gadis itu menatap Shaka yang menatapnya dengan senyuman yang mungkin baru kali ini dia lihat.
"Kak Shaka senyum?" tanya Ruan dengan polos, gadis itu cukup terpukau dengan senyuman Shaka.
Sungguh-sungguh tampan.
Dengan cepat cowok itu mengubah ekspresi wajahnya menjadi semula. "Udah makan?" tanya Shaka.
"Belum,"
"Kebiasaan, maag lo kambuh gimana? Kita makan sekarang," Shaka menarik lembut tangan Runa dan menggenggamnya.
Aksi keduanya tak luput dari padangan anak-anak, banyak sekali yang membicarakan keduanya, padahal mereka berdua udah pacaran 1 bulan lebih.
Entah secara langsung atau tidak.
Shaka membalas dengan tatapan tajamnya, cowok itu menatap tajam siapapun orang yang berani membicarakan mereka. Hingga keduanya sampai di kantin.
Tak jauh dari sana, para inti Alastair tersenyum sekaligus lega. Mereka kira Runa akan kenapa-napa.
Masih ingat dengan salah satu prinsip yang ditegakkan oleh Al? Yaitu 'tidak boleh menyakiti wanita' meskipun hal itu dibantah habis-habisan oleh Shaka.
Hanya Shaka yang berani membantah dan mengganti beberapa prinsip Alastair, entah apa yang membuatnya harus mengganti beberapa prinsip yang sudah berdiri tegak itu.
…
Whehehehe absurd nya :D