
..."Dipertemukan oleh semesta, walau tak berakhir bahagia."...
...-Arshaka Virendra Aldebaran...
...-Aruna Priyanka Zoey....
.........
Berdiri di depan bangunan yang masih terlihat kokoh, malam yang sunyi di temani suara jangkrik.
Menatap bangunan lumayan lama. Malam ini Runa memutuskan untuk pergi ke tempat ini tanpa sepengetahuan siapapun.
Kepalanya menoleh ke kanan ke kiri, memastikan apakah ada orang atau tidak. Dirasa tak ada, ia melangkah mendekati bangunan kokoh berwarna coklat putih.
Tangan mungilnya mengetuk pelan pintu, hingga ketiga kalinya sosok yang dia tunggu keluar juga.
"Runa," hanya senyuman kecil yang Runa balas, melangkah masuk ke dalam ketika Rasya memberikannya ijin.
"Runa ngapain?" heran Rayn, matanya meminta penjelasan pada cowok blasteran di sampingnya.
"Ntar lo tau," ujar Rasya singkat dan mengajak Rayn untuk masuk ke dalam.
Mata miliknya menelisik setiap sudut tempat itu. Tempat yang Runa datangi adalah. Markas Alastair.
Ada hal yang harus dirinya lakukan sekarang, menatap dengan teliti setiap ruangan. Dia pikir tempat ini bakal se menyeramkan itu, namun nyatanya tidak.
"Duduk Runa," suruh Rasya pada Runa.
Runa mengangguk kecil, mendudukkan pantatnya pada kursi kayu.
Tak berapa lama suara heboh dari Arthur, Bram dan Tara yang baru saja turun dari atas menggema di setiap sudut ruangan markas.
Arthur yang sudah berada di bawah menatap Runa bingung. "Eh Runa." ujarnya. "Apa kabar?" tanya Arthur, Sama-sama mendudukkan diri di samping Runa.
Hanya senyum simpul yang Runa perlihatkan. "Baik kak, kakak gimana?"
"Baik alhamdulillah,"
"Lo ngapain ke sini Run, cari Shaka ya?" tanya Bram yang langsung Runa balas gelengan cepat.
"Semua udah kumpul kan?" tanya Runa, menatap ke lima kakak kelas di depannya bergantian.
"Udah," jawab Rasya singkat.
"Ada kak Shaka gak?" Runa bertanya sekali lagi. Takut saja jika memang Shaka ada di markas, maka rencana yang dia susun rapat-rapat akan sia-sia begitu saja.
"Gak ada," jawab Bram.
Lelaki itu bersama Arthur, Tara, dan Rayn masih di bingung kan dengan kehadiran sosok Runa yang masuk ke dalam markas.
Sedikit info, memang di markas di jaga ketat, walau gak ada orang namun di setiap sudut pasti selalu ada CCTV.
Jadi, seluruh aktivitas anak Alastair akan terpantau dari situ. Dan juga, tak sembarangan orang yang dapat masuk ke tempat ini.
Mengangguk mengerti, Runa merogoh tas sling bag miliknya dan mengeluarkan sebuah flashdisk berwarna hitam, dan menyerahkan kepada 5 lelaki di depannya.
"Kak Rasya, udah bawa laptop yang aku minta kan?" tanya Runa pada Rasya.
"Bentar," Rasya mengambil laptop miliknya di dalam tas lalu menyerahkan pada Runa.
"Makasih," tangan mungilnya menari-nari di atas keyboard, dengan wajah yang serius semakin membuat anak-anak penasaran.
"Kalian liat sendiri," ujar Runa menyuruh mereka berlima untuk menonton sebuah cuplikan vidio yang sudah Runa susun hampir beberapa bulan terakhir.
Arthur, Bram, Rayn, Tara dan Rasya saling menatap layar laptop dengan wajah serius. Sambil menggelengkan kepala tak percaya.
"Jadi--- what the fu*k!" umpat Arthur masih tak percaya dengan apa yang cowok itu lihat.
"Pantesan, kok gue ngerasa gak asing lagi sama nih cewek." sahut Bram.
Runa tersenyum tipis, sambil melirik sekilas ke arah Rasya. "Kalau begitu Runa pamit," ujar Runa berdiri.
"Lah pulang nih,"
"Iya kak, udah malem juga. Takut nanti Bunda nyari Runa lagi," kata Runa.
"Oh iya, Runa mau besok kalian kasih semua vidio itu sama kak Shaka ya, terserah mau pagi atau waktu pulang sekolah." pesan nya pada kelima kakak kelasnya.
"Biar gue antar," ujar Rasya. Sekalian juga dirinya pamit pulang ada urusan pekerjaan yang belum dia selesaikan.
"Gue duluan ya,"
"Ati-ati!"
"Makasih ya kak udah antar Runa balik," ujar Runa Rasya dan Runa sudah sampai di depan rumah berlantai dua ini.
"Lo yakin sama apa yang lo rencanakan?" pertanyaan Rasya berhasil membuat langkah mungil Runa terhenti, gadis dengan kardigan ungu menoleh ke belakang sekilas.
"Yakin kak." jawab Runa dengan tegas.
"Runa udah capek sama semua," tambah nya dengan pelan.
...
Jam pulang sudah berbunyi, di sekolah tepatnya di gudang belakang. Keenam cowok dengan kaos seragam yang tak karuan kini berdiam diri.
Tak ada pembicaraan setelah kedatangan Shaka sepuluh menit yang lalu, sunyi dan hening lebih mendominasi.
Bahkan, Arthur dan Bram yang biasanya heboh. Sekarang malah menutup mulut mereka rapat-rapat. Sedangkan Tara dan Rayn hanya memainkan kartu sambil berkata dengan pergerakan tubuh.
"Lo pada kenapa?" pertanyaan pertama lolos dari bibir Shaka, saat masuk dia sudah merasakan aura yang cukup aneh.
Rasya berdehem singkat, sedikit menegakkan tubuh. Cowok blasteran Indo-Thailand mengeluarkan sebuah laptop dan tak lupa sebuah flashdisk Runa kemarin malam yang gadis itu bawa ke basecamp Alastair.
Alis Shaka terangkat sebelah. "Ini apa?"
"Lihat sendiri,"
Shaka mengangguk, matanya menatap fokus vidio berdurasi 5 menit. Sorotan mata yang tajam semakin membuat suasana gudang semakin mencekam.
Matanya menyipit, tangannya mengepal kuat, tak sampai selesai. Shaka dengan cepat menutup laptop milik Rasya dengan kasar.
"Jadi, Kania---"
"Kania, kembaran dari Tania Anastasia. Cewek yang gak tau asal usulnya itu. Cewek yang berhasil membuat hubungan sahabat gue hancur, dan cewek yang selama ini membuat lo berubah." Rasya dengan cepat memotong perkataan Shaka.
Rasya perlahan menjelaskan apa yang terjadi, sifat dan kelakuan Kania perlahan lelaki itu bongkar satu persatu, dan tak tanggung-tanggung.
Rasya membongkar kebusukan Kania hingga ke akar-akar nya.
Seperti di hantam meteor, jantung Shaka berpacu cepat. Segera ia bangkit dari kursi, namun belum sempat tangannya menggapai gagang pintu. Pintu gudang terlebih dahulu terbuka.
"Runa," ujar Shaka. Menatap Runa yang berdiri tegak di depan gudang dengan wajah yang sangat sulit Shaka artikan.
"Boleh bicara berdua?" Runa bertanya sembari melipat kedua tangan di depan dada. Suara yang lembut kini berubah menjadi dingin.
Shaka mengangguk cepat, dia juga ingin berbicara pada gadis di depannya. "Boleh, di luar aja."
Runa dan Shaka sama-sama diam, mereka berdua saling mendiamkan diri masing-masing. Dengan batas jarak dua meter.
"Kamu mau bicara apa?" tanya Shaka ragu-ragu. Perasaan tak enak mulai mendominasi hati kecilnya.
"Maaf kalau aku gak tepati janji, tapi keputusan yang udah aku buat. Udah aku pikir matang-matang," Runa menghela napas panjang sejenak. Dan berkata, "Aku mau kita putus," final Runa.
Jakun Shaka naik turun menelan saliva dengan kelu. Raut wajah yang awalnya bahagia kini berubah, tak ada senyum, tak ada bahagia. "Kamu bercanda," masih sempat-sempatnya Shaka berkata demikian.
"Emang muka aku kelihatan bercanda?" tanya Runa balik.
"Gak ada kan, aku mau kita putus." Runa kembali mengucapkan kalimat yang Shaka benci, kalimat yang tak seharusnya Runa ucapkan, kini terdengar bebas.
"Nggak! Nggak! Tarik ucapan kamu," suruh Shaka sedikit membentak.
"Apa lagi yang mau ditarik? Dengan gini, kamu bisa mengembalikan semua nya? Gak kak!" ujar Runa dengan nada bergetar.
"Aku capek, aku capek sama hubungan toxic kita, capek udah banyak bohong ke semua orang, capek bilang baik-baik aja, padahal aku sedang menutupi kesalahan terbesar kamu!"
"Iya aku tau, kesalahan yang aku perbuatan ke kamu emang udah keterlaluan, tapi aku mohon tarik kata-kata kamu barusan." ujarnya.
Cowok itu mengusap punggung tangan Runa dengan lembut. "Aku sayang sama kamu, aku tau ini terlambat. Maafin aku, maafin aku yang udah gagal jaga hubungan kita, maafin aku yang gak pernah tepati janji. Aku bodoh, udah sakiti hati kamu. Maafin aku Runa," sesal nya.
Runa menggeleng pelan, sulit. Sungguh sulit baginya untuk mengatakan itu semua, percaya atau tidak dia harus melakukan semua ini.
Menatap ke arah lain hingga berhenti pada satu titik. Gadis yang tak jauh berdiri dari tempat keduanya kini menatap mereka bingung.
"Lihat ke belakang, ada sosok yang membutuhkan kamu. Ada orang yang butuh support kamu, dia butuh kamu," suruh Runa.
Shaka menggeleng cepat. "Aku gak peduli lagi sekarang, yang aku butuh kamu. Please kasih satu kali lagi. Buat aku merubah semua," mohon nya dengan suara yang lumayan keras.
Runa menggeleng tegas, memalingkan wajahnya ke arah lain, Runa tak ingin menatap Shaka. "Semua udah menjadi bubur kak. Harusnya memang Runa sadar dari awal, sadar bahwa aku hanya sosok pelampiasan. Makasih atas semua rasa kasih sayang yang kamu kasih, makasih juga udah memperkenalkan arti cinta yang sesungguhnya." Runa tersenyum miris.
"Semoga dengan ini kamu bisa belajar bahwa yang tulus akan kalah dengan yang singgah," ujarnya dengan nada bergetar.
"Semoga kamu juga bisa belajar, apa itu arti menghargai. Selamat atas semuanya, selamat juga yang bentar lagi mau lulus. Semoga bisa masuk ke kampus impian," perlahan Runa melepaskan genggam Shaka darinya dan berlari sekencang mungkin untuk pergi dari tempat ini.
Hanya bisa menatap nanar tubuh Runa yang perlahan menghilang. Menyesal satu kata yang terucap dalam hatinya yang paling dalam.
...
Dari sekian banyaknya episode, episode ini yang Nana tunggu, ramein yuk up nya, soalnya 3-5 episode ke depan bakal tamat.