
Jam menunjukkan pukul 11 siang, seorang perempuan dengan pakaian santainya berjalan menuruni anak tangga. Runa, perempuan itu melangkah memasuki dapur dan mulai menyiapkan makan siang yang akan ia bawa ke kantor Shaka siang ini.
Setelah masakannya selesai dan memastikan bahwa tak ada barang yang tertinggal, Runa berjalan naik ke atas kembali untuk berganti pakaian. "Kayaknya udah pas. Gak ada yang ketinggalan," ujarnya seraya mengecek kembali.
Usai memastikan semuanya, Runa berjalan keluar rumah. Menghampiri Pak Budi yang sudah menunggunya di depan, memintanya untuk mengantarkan Runa ke kantor.
Runa mengulas senyum manisnya, saat melihat pak Budi yang sudah siap di samping pintu mobil. "Selamat siang pak!" sapa Runa dengan ramah.
"Siang Neng, mau berangkat sekarang?" tanya Pak Budi sambil membukakan pintu mobil. mempersilakan Runa untuk masuk ke dalam.
"Makasih Pak!" perempuan itu mulai memasuki mobil, dan perlahan mobil berjalan meninggalkan rumah.
Runa menatap jalanan luar yang terlihat ramai, siang ini ia tak mengabari Shaka jika akan pergi ke kantor, hitung-hitung memberikan kejutan kecil pada cowok itu.
Di dalam mobil, Runa dan pak Budi saling mengobrol dan berbagai cerita. Sampai akhirnya tak sabar bahwa mobil yang ditumpanginya telah tiba tepat di depan sebuah gedung dengan belasan lantai yang menjulang ke atas.
"Saya masuk dulu ya pak. Ini ada uang buat beli rokok," sebelum berpamitan masuk ke dalam. Runa memberikan selembar uang merah pada supirnya, menyuruhnya untuk bersantai sambil menunggu kedatangannya kembali.
"Makasih Neng!"
Runa mengangguk singkat lalu mulai melangkah masuk ke dalam dan langsung naik ke atas untuk menuju ke ruangan Shaka. Pastinya setelah berkata pada sang resepsionis.
Tiba di lantai atas, di ruangan Shaka. Runa mulai mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada balasan. Membuat Runa membukanya dan masuk. "By?" Runa mulai memanggil Shaka, matanya menatap ke penjuru ruangan. Mencari keberadaan sang suami.
Karena tak mendapatkan Shaka ada di dalam, Runa melirik pada jam yang terpasang manis di ujung ruangan.
"Pantesan gak ada orang, masih jam setengah dua belas ternyata." Runa menghela napasnya dan mulai menata makanan di atas meja, sembari menunggu kedatangan Shaka yang mungkin saja akan tiba.
Karena tak mendapatkan keberadaan cowok itu, Runa menatap jam yang terpasang manis di ujung ruangan.
"Pasti jam segini dia lagi rapat," ujar Runa. "Sekarang tinggal tunggu kak Shaka deh. Bentar lagi kayaknya," ujarnya kembali seraya menatap meja yang sudah berisi makanan.
"SELAMAT SIANG! ADIKMU YANG PALING CANTIK INI DATANG," Ale seperti biasa, dengan suara toa nya masuk ke dalam ruangan Shaka.
Runa terperanjat kaget, perempuan itu mengelus dada sambil menatap Ale yang menatapnya dengan terkejut. Ale tersenyum canggung. "Lho ada kak Runa disini?" Ale menyengir sembari melangkah mendekati Runa.
"Sendiri aja? Bang Shaka kemana?" tanya Ale sambil menaruh tumpukan map ke atas meja.
"Lagi rapat kayaknya, bentar lagi juga datang." Runa berucap membuat Ale mengangguk paham.
"Sejak kapan kalian berdua ada disini?" pertanyaan yang baru saja keluar berhasil membuat Ale dan Runa kompak berbalik badan ke belakang, tak jauh dari sana tepat di ambang pintu ada Shaka dan Leo.
"Barusan sih, lima menitan kalau gue." Ale berucap sembari memberi jeda. "Kalau kak Runa udah dari tadi," ucapnya.
"Barusan kok, daripada berdiri di pintu mending kita makan siang bareng. Pak Leo ayo ikutan!" Runa yang peka langsung mengalihkan topik pembicaraan, sebelum nantinya Shaka akan bertanya lebih lanjut.
"Tidak usah Nona, saya duluan. Ada urusan yang belum saya selesaikan," tolak Leo dengan sopan laku beranjak pergi.
Akhirnya makan siang hanya bisa bertiga saja, dengan sedikit obrolan santai ke-tiga nya menikmati makanan. Selesai makan siang, Runa dan Ale berpamitan untuk balik.
"Kak Runa kesini sama siapa?" tanya Ale, kembali memakai tas nya.
"Sama pak Budi, kenapa Le?"
"Ale boleh nebeng gak sampai ke kampus? Tadi ke sini naik taksi,"
"Boleh, bentar kakak mau pamitan dulu sama kak Shaka." Runa segera berpamitan untuk balik ke rumah, sebelum itu keduanya berbincang singkat.
Berjalan keluar kantor, Ale dan Runa menghampiri Pak Budi yang sudah siap di parkiran. Mereka pun masuk dan mobil mulai perlahan meninggalkan kantor. Runa akan mengantarkan Ale terlebih dahulu sebelum dirinya pergi ke suatu tempat.
"Makasih ya kak! Ale masuk duluan. Kalian berdua hati-hati," Ale memeluk Runa singkat, lalu keluar mobil dan masuk ke kampus.
Runa mengulas senyum seraya membalas lambaian tangan Ale, dan menutup kembali kaca mobil. "Di pertigaan depan bisa berhenti sebentar?" katanya pada pak Budi.
Pak Budi mengangguk. "Bisa Neng," tepat di pertigaan yang Runa inginkan, gadis itu turun dan masuk ke sebuah tempat.
...
Runa terbangun terlebih dahulu, di tatapannya jam yang masih menunjukkan pukul lima pagi. Menoleh ke samping, menatap Shaka yang masih tertidur pulas. Perlahan, dia menyibak selimut yang menutupi tubuhnya dengan pelan gadis itu melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
Menatap wajahnya di cermin, Runa mengatur napasnya berkali-kali sebelum membuka benda yang ia simpan di dalam laci.
"Ayo bisa!" perlahan dan pasti Runa membuka laci yang ada di depannya.
Perasaan gugup dan takut saat ini mendominasi hatinya, entahlah Runa merasa tak yakin pada dirinya saat ini. "Yakin gak ya?" gumam Runa menatap benda itu, sebelum mengambilnya.
Cukup lama Runa menatap benda itu, sebelum akhirnya memutuskan untuk mencobanya. Menatapnya kembali sebelum memakainya, Runa memejamkan kedua matanya cukup lama sambil menunggu benda itu bekerja.
Runa terdiam di atas wastafel, sembari mengigit jarinya untuk menghilangkan rasa gugup. Runa menatap benda yang dirinya taruh ke dalam gelas kecil di hadapannya.
Mulai menurunkan kedua kakinya dan menghampiri benda itu, kembali menutup matanya sebelum melihat hasil dari benda yang Runa pakai.
Perlahan namun pasti, Runa mulai membuka kedua matanya. Terhenyak cukup lama, Runa menutup mulut tak percaya. Benda yang dirinya pegang menandakan dua garis merah, yang artinya.
Dirinya positif
...
"Selamat pagi sayang," sapa Shaka sambil membenarkan jas kantornya.
"Kotak yang ada di atas meja itu punya siapa?" tanya Shaka. "Kamu pesan online?" tanya Shaka lagi, berdiri di samping Runa yang saat ini tengah menyiapkan sarapan.
"Kotak? Enggak tuh, aku gak pesan barang."
"Terus itu kotak punya siapa?" nampaknya Shaka mulai merasa bingung, cowok itu berbalik badan dan berjalan ke arah meja makan. Tangannya terulur untuk mengambil kotak dengan hiasan pita gold yang mengelilingi kotak.
"Gak terlalu berat," ujar Shaka sambil menggoyangkan kotak yang ada di tangannya itu.
Runa tersenyum simpul, ia kemudian berbalik badan melirik box yang ada di tangan Shaka. "Coba dibuka, mungkin isinya penting."
Shaka menurut, ia perlahan mulai membuka kotak itu. Perlahan dan pasti cowok itu membukanya, tatapan Shaka kini beralih menatap Runa. Wajahnya masih tak percaya dengan apa yang ia lihat.
"Sayang..."
"Yes! you will be Daddy,"
"Papa?" Shaka menatap kembali kotak itu dan mulai mengambil benda kecil yang ada di dalamnya. "Ini beneran? Aku bakal jadi Papa?" tanya Shaka yang masih belum percaya.
...
Semoga episodenya menyenangkan, baru ngeh kalau update terakhir tanggal 4 kemarin, sorry telat 🙏🏻