
Sebelumnya aku saranin ke kalian buat baca ulang ya, apalagi episode 46-48!!!
...
Di lain tempat, cowok ber jakun tengah berdiri sambil beberapa kali menghirup asap rokok. Perlahan tubuhnya dia sandarkan di balkon kamar, menatap bangunan pencakar langit.
Entah mengapa ucapan Al tadi sore berputar di pikirannya.
"Putusin Runa, biarkan dia bersama orang yang benar-benar tulus sama dia! Kamu tau, semakin kamu seperti ini, semakin kamu memberikan harapan besar sama Runa!" Al berucap dengan nada dinginnya.
"Dengerin papa! Kalau kamu sayang sama Runa, bilang aja ke dia, yang jujur. Papa tau, Runa pasti paham nantinya." kata Al sambil memberi arahan.
"Kalau gitu kenapa gak sahabatan aja?"
"Bang!" panggil Ale, sedari tadi adiknya itu mengetuk pintu, membuat Shaka tersadar dari lamunan.
"Abang!" dengan kesal, Ale masuk gitu aja. Tak peduli nanti si empunya kamar marah, salah sendiri sudah di panggil berkali-kali tapi gak disahut.
Ceklek..
"Apa?" Tanpa Shaka menoleh cowok itu tau, kalau gak sang Mama yang masuk ya Ale, adik tak tau diri.
"Gue kira udah tidur, gue panggil gak di jawab-jawab." Kata Ale dengan ketusnya.
Shaka hanya bergumam, malas meladeni, tak penting juga baginya.
"Oh iya, gue denger kak Runa di bully ya? Sama siapa?" Jiwa ke kepoan Ale seketika keluar, setengah-setengah sih.
Setengah khawatir, setengah kepo. Lebih ke khawatirnya.
Shaka yang mendengarkan penuturan Ale langsung mengerutkan dahi, dari mana Ale tau?
"Lo tau dari mana?" Tanya Shaka balik.
Ale terdiam, Tiba-tiba Ale memilih duduk di samping Shaka, menatap Shaka yang sama-sama menatapnya. "Tau lah, gue kan punya indera ke 6."
"Gak, gak becanda. Jangan serius gitu dong." Ale sedikit meringis, melihat Shaka melayangkan tatapan tajamnya.
Shaka mendengus sebal. "Dari mana?"
"Dari... Papa, eh Mama sih yang bilang tadi, maksudnya Mama tau dari Papa gitu." Jelas Cewek berumur 13 tahun itu.
Shaka hanya berohria. Seketika keadaan kembali menjadi hening, Ale menatap sang abang dari belakang.
Entah berapa banyak rokok yang Shaka konsumsi hari ini. Ale cukup bersyukur akibat si abang tak minum.
Tapi sama aja, Shaka malah melampiaskan ke rokok, padahal sama-sama bahaya juga bukan?
Ale bangkit, gadis yang sekarang kelas 2 SMP itu berdiri di samping Shaka, membiarkan anak rambut bertebaran mengenai wajah nya.
"Bang," panggil Ale tiba-tiba.
Shaka menoleh sambil mengangkat salah satu alisnya. "Cuma mau bilang, jangan melupakan masa lalu dengan cara melampiaskan ke seseorang."
Shaka yang mendengarkan penuturan Ale langsung mengerutkan alis, lantas mengangguk paham.
"Gue tau, melupakan seseorang yang pernah kita cintai itu susah, tapi yang lebih susah adalah berdamai sama masa lalu." Ujar Ale dengan bijak.
"Mama pernah bilang ke gue, jangan pernah memulai hubungan yang baru, jika kita tak bisa berdamai sama masa lalu." Lanjut Ale kembali.
Shaka terkekeh, cowok itu menarik Ale ke dalam dekapannya, lalu menakup kedua pipi Ale.
"Lo tau dari mana huh! Bahas hubungan-hubungan, belajar yang bener, jangan novel mulu yang lo baca."
Ale mencabik bibir sebal. "Belajar yang bener, jangan berantem mulu yang lo kerjain. Noh bantu papa cari duit!" Ujar Ale menirukan ucapan Shaka barusan.
Shaka hanya terkekeh pelan, cowok itu mengusap kepala Ale dengan sayang. "Gue udah pinter kali, masuk 5 besar di kelas." sekali-kali sombong dikit.
Ale berdecih, sombong sekali batin nya. Walau sebenarnya memang iya, jangan salah gini-gini Shaka masuk 5 besar di kelas.
"Sombong banget lo, iya gue tau gue goblok-"
"Ngaku juga lo akhirnya," potong Shaka dengan cepat.
Langsung saja Ale memukul lengan Shaka cukup keras. "Ngeselin lo!" Kesal Ale.
Shaka mengangkat sebelah alisnya. "Kan emang bener lo goblok," ujar Shaka menekan kata akhiran.
"Kadang gue sampai bingung sendiri, lo itu anak papa sama mama atau emang anak pungut? Gue, mama sama papa pinter. Lah lo?" Tutur Shaka.
Ale tersenyum kikuk, dalam hati dia mengelus sabar. Sabarin aja punya abang kayak Shaka begini.
Ale tersadar dari lamunannya, cewek itu ter jingkrak kaget, ketika Shaka menepuk kedua pipinya.
"Lo kenapa? Senyum-senyum sendiri, kerasukan lo? Apa gimana?" Shaka menatap Ale aneh, takut aja gitu, waktu enak-enak ngobrol terus kesurupan.
Kan gak lucu.
"Matamu! Ya kali gue kesurupan. Gue seneng aja sih, akhirnya lo mau ngobrol panjang lebar sama gue tanpa harus berantem dulu."
Kejadian kayak gini itu momen langkah sekali, Ale dan Shaka bakal banyak ngobrol kalau mereka ribut, ribut dan ribut.
Shaka hanya memutar bola mata malas. Seketika Ale memeluk dirinya dengan erat, cewek itu menyembunyikan kepalanya di dada Shaka.
Shaka tersenyum, lantas membalas pelukan Ale.
"Bang," Shaka hanya bergumam.
"Jadi abang Shaka yang kayak dulu lagi ya? Yang cerewet, yang selalu ngomel-ngomel kalau Ale ngelakuin kesalahan, yang selalu cerita ke Ale jika ada masalah. Bukan pendam sendiri kayak gini." Sungguh, Ale rindu dengan Shaka yang dulu.
Jika kalian pikir Shaka yang sekarang adalah Shaka yang dulu, kalian salah besar. Karena apa? Karena Shaka yang dulu lebih berbaur dengan sesama, tak cuek, peduli, cerewet.
Pokoknya berbeda jauh sama Shaka yang sekarang, yang cuek, bodo amat, tak peduli.
Mungkin jika kita pertama kali kenal Shaka, dia memang cuek, mukanya juga datar, tapi itu tak berlaku jika bersama orang terdekat.
Shaka terdiam, cowok itu memilih untuk tak menjawab perkataan Ale. Ale yang merasakan tak ada jawaban dari Shaka, langsung mendongak.
"Bang," cicit Ale pelan.
"Lo tidur gih, udah jam setengah sepuluh. Besok lo sekolah kan?"
Ale mengangguk sambil tersenyum, cewek itu memeluk kembali Shaka dan membisikan sesuatu. "Jangan mudah lampiaskan masa lalu ke orang baru, nanti lo akan menyesal di kemudian hari."
Satu lagi. "Cewek cantik, putih, glowing itu banyak. Tapi cewek yang mencintai dengan tulus tanpa memandang apapun itu langka, jangan sampai lo nyesel di kemudian hari." Lanjut Ale kembali.
Lalu Ale menegakkan tubuhnya. "Selamat malam bang, mimpi indah." Ujar Ale sebelum menutup pintu kamar.
Shaka tersenyum tipis, cowok itu memilih untuk masuk ke dalam. Mengistirahatkan badannya sejenak.
...
Runa mengerjapkkan mata berkali-kali, gadis itu mendengus kesal akibat ketukan dari luar.
Yang sudah dia pastikan itu Arfan, abangnya. Masih dengan mata yang tertutup, Runa menyibak sprei dan berjalan ke pintu.
"Ada apa?" Tanya Runa lalu menguap, maklum masih ngantuk.
"Bangun, mandi terus sarapan. Gue antar hari ini, buruan, Bunda sama Ayah mau ke Jogja lagi keadaan nenek kembali menurun." Tutur Arfan, langsung membuat Runa membuka kedua matanya lebar-lebar.
"Hari ini? Kok bunda sama ayah gak bilang." Arfan hanya mengangkat bahu tak tau.
"Sana mandi, tinggal tau rasa lo!" Selanjutnya Arfan pergi meninggalkan Runa yang berdiri di ambang pintu.
Karena tak ingin di tinggal, Runa langsung pergi ke kamar mandi, tak perlu memakan waktu yang banyak Runa telah siap untuk berangkat sekolah.
"Pagi semua," sapa Runa yang baru saja datang.
"Pagi, oh iya abang udah kasih tau kan kalau Bunda sama Ayah mau ke Jogja lagi." Ujar Bunda Yuna.
Runa mengangguk tak semangat. "Udah, Bun, Yah." Panggil Runa membuat semuanya menoleh ke arahnya.
"Ada apa sayang?" tanya Ayah Bima.
"Aku boleh ikut gak ke Jogja?"
Ayah dan Bunda langsung saling pandang. "Kalau kamu ikut, sekolah kamu gimana? Kamu juga barusan masuk, masa iya bolos."
"Bener tuh dek, udahlah sama gue aja di rumah." Saut Arfan sambil mengoles roti tawarnya dengan selai.
"Abang kan kerja," seru Runa. Arfan telah menjelaskan semuanya pada Ayah dan Bunda.
Untungnya setelah berbagai penjelasan yang panjang lebar, Arfan di izinkan untuk mencari uang sendiri. Seharusnya itu sudah dari lama, tapi karena Ayah masih memiliki tanggung jawab pada Arfa, jadilah begini.
Arfan menyahut. "Ya emang napa kalau gue kerja? Toh lo juga biasanya suka sendiri."
"Iya dek, sini aja. Lagian Ayah, Bunda ke Jogja itu juga buat rawat nenek, dan ada pekerjaan yang harus Ayah tanggung di sana." Jelas Ayah, sambil mengusap kepala Runa.
Runa mengangguk, mengapa dia jadi seperti ini, biasanya juga tidak. "Iya, Yah."
"Udah ah, gak usah sedih-sedih gitu. Bunda sama Ayah cuma 2 minggu aja, InsyaAllah." Seru Yuna.