
Shaka telah mencari keberadaan Runa, cowok itu tak henti-hentinya mengusap wajah dengan kasar.
Sekarang Shaka sedang mencari Runa di dalam kamar mandi, sudah lima belas menit dia berdiri di sana. Padahal jam istirahat sudah usai sedari tadi.
"Runa, lo dimana?" Batin Shaka khawatir.
"Sa, Runa gak ketemu!" ujar Rayn pada Shaka.
"Duh gimana kak kalau Runa kenapa-napa." Tutur Vanya khawatir.
"Gue udah cari di lantai dua sama tiga, Runa masih belum ketemu." Kata Tara dan Bram. Mereka baru kembali setelah mencari di lantai dua dan tiga.
Shaka terdiam sekejap, instingnya berkata bahwa Runa tak akan jauh-jauh dari toilet, jika di taman dan di tempat lainnya tak ada, berarti Runa masih ada di toilet ini.
"Tunggu!" cegah Shaka pada teman-temannya.
"Ada apa?" tanya Rayn.
Shaka menatap salah satu kamar mandi yang sedari tadi tertutup rapat. "Semuanya udah kebuka, tapi kenapa pintu itu ke tutup sendiri?" bingung Shaka.
"Palingan ada orangnya Sa," ujar Tara.
"Gak, kalau ada orangnya dia pasti bakal keluar dari tadi, tapi kenapa ini gak sama sekali. Lama lagi," Shaka menatap pintu itu dengan curiga.
"Apa Runa ada di dalam ya?" tebak Vanya.
"Namanya juga cewek Sa kayak kagak tau aja, udah kita cari Runa ke tempat lain." ujar Bram.
"Coba cek," saran Rasya membuat Vanya mendekat ke sana, cewek itu mengetuk pintu beberapa kali, namun tak ada balasan dari dalam.
"Halo? Ada orang gak di dalam?" tanya Vanya, mencoba mengetuk kembali.
"Ada orang gak di dalam?" giliran Arthur berucap.
Vanya memutar handel pintu, namun tak terbuka, artinya pintu ini terkunci. Apa gak ada orang ya? Kalau gak ada orang, kenapa air kran di dalam menyala.
Shaka menyuruh semuanya menjauh, cowok itu bersiap-siap untuk mendobrak pintu.
Buru-buru Shaka mendobraknya, cowok itu mendapatkan Runa yang tak sadarkan diri dengan pakaiannya yang telah basah kuyup akibat air kran yang sudah banjir.
"Runa lo kenapa Run?" tanya Vanya, namun tak ada balasan dari gadis itu.
Vanya menyarankan Shaka untuk membawanya ke UKS. Shaka mengangguk paham cowok itu melepaskan jaketnya untuk menutupi tubuh Runa dan membopong Runa ke UKS.
"Lo semua cari pelaku yang berani kunci Runa di dalam kamar mandi, orang itu berurusan sama gue." ujar Shaka serius.
...
Shaka melangkahkan kakinya lebar-lebar menuju ke kelas 12 IPA 6. Emosinya telah memuncak sedari tadi.
Bruk
Shaka mendobrak pintu dengan kasar, membuat penghuni kelas terlonjak kaget. Untungnya tak ada guru yang mengajar akibat para guru sedang rapat.
"Mana Tania?" tanya Shaka ke penghuni kelas 12 IPA 6.
"MANA TANIA! TULI LO PADA?!" tanya Shaka dengan nada tingginya. Membuat semua nya semakin takut.
"Sa, sabar Sa, kontrol emosi lo." Rayn menenangkan Shaka.
"Hai Shaka, ada apa?" sapa Tania yang baru masuk kelas, cewek itu langsung memeluk lengan Shaka.
"Ada apa ini, kok ramai gini. Oh kamu mau nembak aku ya? Sampai bawa anak-anak buat jadi saksi?" tanya Tania dengan percaya diri.
Memang semua anak tau jika Tania menyukai Shaka mulai kelas 10, mayoritas dari mereka tergila-gila dengan Tania.
Lebih tepatnya untuk menambah populer dirinya, bayangkan Tania yang cantik sekaligus anak kebanggan sekolah jadian dengan Shaka, ketua geng motor Alastair, tak bisa membayangkan gimana populernya dia.
"Gak usah mimpi lo!" Shaka menepis kasar tangan Tania, membuat cewek itu ter mundur beberapa langkah.
"Apa maksud lo buat kunci Runa di dalam kamar mandi?" tanya Shaka, menekan setiap katanya, cowok itu menatap tajam Tania.
"Oh, Runa ngadu ke kamu? Astaga emang dasar ya tuh cewek, gak bisa apa mandiri gitu buat selesaikan masalahnya, harus kamu gitu yang urus? Manja banget!" cibirnya, yang tanpa ia sadari membangunkan singa tidur dalam diri Shaka.
"Gila nih cewek, udah gak waras." Bram berucap lalu menggelengkan kepala.
"Wah bener-bener nih cewek, otak nya udah ilang, ck, ck, ck." Tara berdecak sambil menggelengkan kepala.
"Bilang sekali lagi?" cowok itu menyuruh Tania mengulangi lagi ucapannya.
Tania menggeleng, cewek itu baru sadar bahwa dirinya telah membuat Shaka marah.
"GUE BILANG ULANGI LAGI UCAPAN LO! BI*CH!" Teriak Shaka murka.
Shaka langsung mendorong Tania hingga menatap papan tulis, cowok itu mencekik Tania hingga membuat cewek itu susah bernafas. "Gue udah peringatin ke lo dari kemarin, ternyata peringatan gue emang gak ada apa-apa buat lo."
"S-shaka l-lepas a-aku gak b-bisa na-fas." ucap Tania terbata-bata.
"Shaka lepasin! Dia bisa mati bodoh!" teriak Rayn, cowok itu bersama yang lain berusaha melepas cekikan itu, bukannya melepas Shaka semakin mengeratkan cekikan itu membuat wajah Tania memerah.
"Shaka," lirih Tania.
"Shaka lepas lo bisa kena masalah nantinya!" ujar Tara.
"Sa, inget prinsip Alastair, lo udah kelewat batas." Rasya meraih pundak Shaka menyuruh cowok itu berhenti mencekik Tania.
Shaka melepaskan cekikan nya pada Tania. "Kelewat batas?" Shaka terkekeh. "Gue atau dia yang udah kelewat batas? Buat apa lo semua kasihan sama orang yang gak pernah hargai orang lain." Ujar Shaka, membuat semuanya bungkam.
"Dan buat lo," tunjuk Shaka pada Tania. "Tunggu satu jam ke depan, lo bakal dapat apa yang lo lakuin. Satu lagi, jangan harap besok lo bisa menginjak kaki lo di sekolah ini." Shaka langsung pergi meninggalkan kelas.
"Hayo loh, lo sih cari maslah ke Shaka, kena kan lo." ejekan itu berasal dari Bram membuat yang lainnya tertawa dan langsung mengejar kepergian Shaka.
"Tan, lo gak papa kan?" tanya Risa membantu Tania bangkit.
...
"Runa,"
Vanya dan Runa bersamaan menatap ke ambang pintu, ada Shaka di sana. Vanya yang paham dan tak ingin menganggu serta tak ingin menjadi nyamuk, berpamitan pergi.
"Gue keluar dulu ya, sekalian mau beliin lo makanan." pamit Vanya.
"Makasih ya, maaf ngerepotin kamu terus." ujar Runa tak enak.
"Gak masalah, santai aja." Vanya pun pergi meninggalkan keduanya, cewek itu lebih memilih untuk ke kantin dan memberikan bubur ke Runa.
"Kenapa tadi bisa-bisanya Tania celakain kamu? Terus kenapa kamu bisa ke kunci di kamar mandi dan apa aja yang di lakuin Tania ke kamu?" Shaka menyerang Runa dengan pertanyaan.
"Nanyanya satu-satu," ujar Runa.
"Ya, yaudah jawab pertanyaan aku kenapa Tania bisa-bisanya lukain kamu." Shaka berkata kembali.
"Dia suruh aku ngejauh dari kamu, dan dia bilang kalau kita gak cocok, kita beda ya aku sadar kita beda semua." tutur Runa. "Kak Tania bilang kalau kamu cuma kasihan aja sama aku, emang bener ya?" Runa menatap Shaka, gadis itu ingin mengetahui apakah benar ucapan Tania waktu itu.
Shaka terdiam, cowok itu menatap ke arah lain. Apa harus sekarang dia berkata jujur, ataukah lebih baik diam. "Kak Shaka," Runa menyadarkan Shaka dari lamunannya.
Ketika cowok itu ingin menjawab, Vanya datang dengan semangkuk bubur ayam, membuat Shaka tak jadi menjawab pertanyaan Runa. Syukurlah tak harus sekarang dia menjawab.
"Kamu makan dulu," Runa mengangguk patuh, Shaka menyuapi Runa hingga mangkuk itu tak tersisa. Selesai makan Shaka menata semuanya. Cowok itu kembali duduk di samping Runa.
"Kamu pulang aja ya, biar aku izinin ke wali kelas kamu. Lagian ini masih awal tahun dan gak ada pelajaran juga." Shaka mengelus rambut Runa dengan lembut.
Runa menggeleng. "Gak mau, mau di sini aja."
"Yaudah, kamu istirahat lagi, kepalanya masih pusing?" tanya Shaka.
"Lumayan," balas Runa, Shaka membantu Runa untuk beristirahat lagi, cowok itu meninggalkan Runa sebentar untuk mengembalikan mangkok serta membuang sampah.