
Selesai mengantarkan Shaka hingga depan rumah, Runa kembali masuk ke dalam dan membantu Ale untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Lea sendiri, wanita itu harus berangkat ke ruko di pagi hari akibat pesanan yang menumpuk.
"Kak Runa," panggil Ale sambil menyapu lantai.
Runa menoleh, sambil tersenyum dan menunggu kelanjutan ucapan Ale. "Kita keluar siang aja gimana? Jadi bisa lama keluarnya," kata Ale memberikan solusi.
Runa mengangguk setuju dan mengangkat jempolnya. "Boleh juga, nanti kakak bilang ke kak Shaka."
"Oh iya, kamu gak kuliah dek? Ini udah jam setengah delapan loh," tanya Runa.
Biasanya Ale akan berangkat pagi, karena memang perempuan itu minta untuk ke kampus di pagi hari karena kalau siang atau sore cukup membuatnya capek.
"Enggak, hari ini libur kuliah." Ale berucap sambil menjeda perkataannya. "Lebih tepatnya sih bolos," sambungnya nyengir.
"Ale!" tegur Runa, sembari geleng-geleng kepala. "Gak baik bolos kuliah. Nanti kamu ketinggalan materi gimana?"
"Bener juga. Cuma hari ini cuma satu mata pelajaran aja kok kak. Nanggung banget kalau berangkat, cuma setengah jam aja." Seperti biasa, banyak sekali alasan yang Ale ucap.
"Walaupun setengah jam aja, yang penting kan materi nya dek."
"Iya Kak, yang terakhir kok!"
"Beneran ya!" Ale mengangguk cepat.
"Kalau gitu kakak ke atas sebentar. Kamu lanjut nyapu nya kakak mau beresin kamar dulu," ujar Runa seraya menaruh piring terakhir ke dalam rak piring, dan mengelap meja sebelum memutuskan untuk naik ke atas kamar.
...
Jam sudah menunjukkan pukul 11.25 artinya masih ada beberapa menit untuk Runa menyiapkan makan siang. Selesai menata beberapa berkas milik Shaka, Runa turun ke bawah untuk segera memasak makan siang.
Sebenarnya Runa bisa saja membeli makanan dan memesannya diluar, tapi kali ini Runa memutuskan untuk memasak sendiri. Karena ia ingin mengantarkan makan siangnya pada Shaka di kantor.
Sekarang Runa berdiri di dapur, menatap kulkas yang berisi bahan-bahan makanan. Cukup bingung untuk memasak apa, sampai memutuskan untuk memakan ayam cabai ijo.
"Kak Runa!" Ale datang dengan suara khasnya, membuat Runa tersentak kaget dan segera berbalik.
"Ale? Astaga, hobi banget buat orang kaget!"
Sementara itu Ale menyengir tanpa dosa. "Lagian kakak ngelamun depan kulkas, ngapain sih?" tanya Ale penasaran, perempuan itu melangkah mendekati meja dan mendudukkan dirinya.
"Enggak, ini loh kakak lagi mikir buat masak makanan untuk siang ini. Kamu mau makan apa?" tanya Runa pada Ale, tangannya mulai mengambil bahan-bahan masakan.
"Apa ya?" Ale mengetuk dagunya beberapa kali, mencoba untuk berpikir.
"Yang pedes kayaknya enak," sambung Ale. "Ale bantu ya kak! Mumpung gak ada kerjaan," tanpa menunggu jawaban dari Runa, Ale langsung mengambil celemek dan mulai mengupas bawang dan bumbu-bumbu lainnya.
Melihat Ale yang semangat memasak membuat Runa tersenyum, gadis itu mulai menuangkan minyak ke dalam wajah. "Le, kamu udah punya pacar belum?"
"Belum, kenapa kak? Oh pasti Bang Shaka bilang ya! Kalau Ale udah punya. Aduh, jangan percaya sama Abang, hoax tuh!" cerocos Ale panjang lebar.
Runa terkekeh pelan mendengarnya. "Kalian tuh ya, kalau deket ribut. Jauhan kangen," kata Runa. "Sama kayak kakak sama Bang Arfan," katanya lagi.
"Malahan berantem tuh yang ngebuat kita semakin dekat tau! Kalau gak berantem tuh kayak ada yang kurang gitu," sahut Ale.
"Ada-ada aja kamu, sini bumbunya." Runa mulai mengambil alih bumbu dari tangan Ale.
Tanpa menunggu waktu lama, masakan Ale dan Runa selesai juga. Lebih tepatnya, Runa yang masak. Ale hanya mencicipi saja dan membantu mencuci piring. Walaupun Ale sangat benci dengan kegiatan yang satu ini.
Baginya, lebih seru masak dari pada mencuci piring.
"Akhirnya selesai juga!" kata Ale girang.
"Kamu bawa setengahnya ke meja makan, terus yang sisanya ini kakak bawa ke kantor kak Shaka." Runa mengambil kotak makan, dan mulai menata lauk ke dalam kotak makan.
...
Tak memerlukan waktu lama, Runa dan Ale tiba di tempat tujuan mereka. Setelah beberapa menit menembus padatnya ibukota.
Disinilah mereka sekarang, di depan sebuah gedung yang menjulang ke atas. Dengan tinggi masing-masing berbeda. Bertuliskan PT. Aldebaran Group, yang terlihat jelas di sana.
"Selamat siang bapak Shaka yang terhormat!" Seperti biasa, tanpa salam tanpa kata Ale nyelonong masuk begitu saja.
"Ketuk dulu kalau mau masuk," Shaka menatap Ale dengan tatapan yang sulit Ale jabarkan, yang pasti tatapan itulah yang selama ini Ale hindari.
"Assalamu'alaikum! Adik lo yang cantik ini datang," ulang Ale.
"Waalaikumsalam," balas Shaka berdiri dari duduknya dan menghampiri Ale serta Runa. "Kalian kesini kenapa gak bilang?"
Ale mengedikkan bahunya, tugasnya hanya mengantarkan Runa kesini dan mengajaknya keluar. Sisanya bukan darinya. "Tugas gue cuma nganterin doang!"
"Ini mau kasih makan siang buat kamu," Runa menyerah kotak makan berisikan makanan yang tadi dia buat. "Sekalian keluar dari pada kamu makan diluar," ujarnya lagi.
"Keluar sekarang? Bukannya nanti malam,"
"Gak jadi, gue ralat jadi siang ini. Gak papa kan? Gak papa lah, jangan pelit-pelit jadi orang," tanya sendiri jawab sendiri. Siapa lagi kalau bukan, Ale.
"Naik apa?"
"Mobil, gue yang nyetir. Tenang aja," balas Ale.
"Kalau gitu gue sama kak Runa berangkat sekarang. Dimakan ya makan siangnya, gue masakin tuh. Sepenuh hati sepenuh raga," gurau Ale membuat Runa tertawa.
"Aku sama Ale berangkat sekarang! Jangan lupa dimakan,"
"Kalian hati-hati dijalan. Dan lo," tunjuk Shaka kepada Ale. "Awas aja kalau ngebut, gue tandai muka lo."
"Astaghfirullahalazim, belum apa-apa udah dituduh. Kayak penjahat aja gue," ujar Ale sambil mengelus dada.
"Karena muka lo udah kelihatan," kata Shaka dengan nada santai.
"Sabar Ale, sabar! Orang sabar pacarnya banyak," sambung Ale dalam hati.
"Udahlah lama-lama nyebelin lo!" kesal Ale. "Yuk kak berangkat," menarik Runa keluar ruangan.
...
"Dimohon untuk menunggu diluar," ujar salah satu suster. Perlahan menutup pintu UGD.
Hanya bisa menatap pintu UGD yang perlahan tertutup rapat, Ale mengusap wajahnya gusar. Perempuan itu terduduk menunduk di atas salah satu kursi rumah sakit.
Tak lama terdengar suara langkah kaki mendekat, membuat Ale perlahan mengangkat kepalanya ke atas. Di sana ada Shaka dan anggota keluarga lainnya, yang baru saja datang dengan langkah tergesa-gesa.
"Runa mana?" tanya Shaka pada Ale.
"Runa mana?!" tanya Shaka sekali lagi dengan raut wajah yang terlihat khawatir.
"Shaka, sabar dulu." Lea menarik Shaka dan mencoba untuk memenangkannya.
"Gimana Shaka bisa sabar Ma? Sementara Runa ada di dalam," tatapan Shaka tak beralih menatap pintu UGD yang tertutup rapat.
"Kenapa bisa, Runa pingsan gini? Jawab gue Ale!" paksa Shaka.
"Gue juga gak tau, tiba-tiba kak Runa bilang kalau dia pusing. Yaudah karena gue takut, gue ajak balik, eh pas berdiri udah jatuh aja."
Mengusap wajahnya gusar, Shaka melayangkan tatapan tajamnya pada Ale. "Sebelumnya lo dari mana?"
"Makan,"
"Gue kan udah bilang sama lo, kalau mau apa-apa itu bilang ke gue. Bukan kayak gini Ale, lo tau kalau Runa lemah. Dia bukan kayak kita yang kuat. Dia lemah, kalau dia kenapa-napa dia bakal ngedrop!"
Maka mengapa tak heran, jika selama ini Shaka selalu menyuruh Runa untuk masak dan membuat makanan di rumah. Karena Shaka tau, keadaan Runa seperti apa dan resiko yang mengenainya.
"Mana gue tau kalau kak Runa kayak gini? Lagian tadi waktu belum makan gue juga udah bilang ke dia. Katanya gak ada apa-apa, kalau gue tau pun. Gue gak bakal ajak dia makan," balas Ale dengan air mata yang membasahi pipi.
Arfan yang sedari tadi diam, langsung menarik Shaka. "Duduk!" suruh nya. "Ini musibah, gak ada yang tau juga. Jangan sepenuhnya buat salahkan Ale, dia gak tau."
"Runa bakal aman di dalam. Dia gak bakal kenapa-napa," sambung Arfan sambil menepuk-nepuk pundak Shaka berulang kali, mencoba untuk menenangkannya.