
..."Gak perlu susah-susah rubah diri buat cari perhatian karena kamu ya kamu, aku ya aku." -Aruna Priyanka Zoey....
.........
Saat melangkahkan kakinya, tatapan mata seluruh penjuru sedang menatapnya. Bbukan hanya saat dirinya menginjakkan kaki, namun mulai dari depan gerbang tatapan tanda tanya serta bisik-bisik namanya mulai terdengar.
Awalnya memang dia tak peduli, ah mungkin saja hanya bertepatan.
Tapi, mengapa makin dalam dia melangkah masuk, namanya semakin jelas terdengar?
Bukan hanya namanya saja yang terdengar, nama sosok laki-laki dan geng motor terdengar jelas di telinganya.
"Seriusan Runa deket sama Galang? Galang geng Gundala itu?"
"Oh atau jangan-jangan, Runa jadi adu domba lagi, atau jadi sandra?"
"Ih jahat banget sih kalo beneran terjadi, dapat hati minta jantung."
"Gue denger sih, kak Shaka sama Runa lagi ribut. Lo liat sendiri kan kalau mereka udah gak kayak dulu, malahan kak Shaka lebih dekat sama kak Kania. Gue ship mereka sih,"
"Gue rasa itu cuma kebetulan semata, gue yakin kok kalau Runa gak bakal lakuin hal kayak gitu."
"Ada apa ya?" batinnya bertanya-tanya, masih dengan gaya biasa saja, Runa sedikit mempercepat langkah kakinya untuk tiba ke dalam kelas.
Sampai Kelas pun sama, baru saja masuk ke dalam namanya sudah terpanggil dan dari mereka juga menatap serta langsung bertanya pada Runa. Apa berita yang menghebohkan anak Trisatya itu beneran terjadi?
Sampai akhirnya, kehadiran Vanya berhasil membuat mereka semua bubar, dan kembali ke tempat duduk mereka masing-masing
"Vanya ini ada apa sih?" Runa masih belum mengerti dengan apa yang terjadi.
"Lo semalam keluar sama siapa?"
"Galang," jawab Runa seadanya.
Memang benar semalam dia keluar bersama Galang untuk membantu cowok itu membeli beberapa buku dan memberikan referensi buku juga.
"Lo tau gak?" gelengan yang Vanya dapatkan.
"Berita lo sama kedekatan Galang udah di dengar sama semua anak, dan parahnya emang ada buktinya." Vanya langsung merogoh ponselnya lalu membuka ikon galeri dan menunjukkan beberapa foto yang tersebar.
Hanya karena foto, dirinya menjadi bahan perbincangan?!
"Van, ini cuma foto biasa loh. Dan kenapa bisa se-viral ini?"
Vanya langsung memasukkan kembali ponsel miliknya ke dalam saku, cewek itu menatap Runa cukup lama dan berkata. "Lo tau kan, gimana bencinya kak Shaka sama Galang? Dan lo tau kan kalau mereka berdua itu termasuk dalam sejarah musuh bebuyutan?"
"Nah itu dia yang viral, anak-anak pasti mikir kalau lo itu dijadikan sandra oleh Galang." ujar Vanya. "Sampai sini paham?"
"Ya, kan aku cuma deket doang." kekeh Runa.
"Runa, lo lupa, kalau Trisatya lagi heboh gimana?" bukan hal yang asing juga.
Coba kalian bayangkan Shaka yang nota bate nya most wanted dan Runa pacarnya, terus mereka berdua ribut dan akhirnya Runa dekat dengan Galang yang menjadi musuh Shaka dari dulu.
...
Waktu yang ditunggu datang juga, bel istirahat berbunyi seantero sekolah. Membuat seluruh murid berlarian keluar kelas.
Bersamaan dengan Runa dan Vanya, keduanya berjalan santai menuju ke kantin.
Mereka hanya ingin membeli minuman saja, lalu balik ke kelas.
Alasannya karena mereka udah makan tadi- di kelas, tadi mulai jam pertama hingga memasuki waktu bel, kelas Runa mengalami jamkos.
Pekikan berhasil membuat langkah kedua remaja itu terhenti.
Bersama-sama keduanya menoleh ke belakang, Shaka dengan ekspresi wajah yang datar dan langkah tegapnya itu berjalan menghampiri Runa.
"Ikut aku," suara Shaka begitu pelan dan dan hanya Runa lah yang bisa mendengarkannya, namun dapat terlihat jika di sana terdapat penekanan.
"Kak Shaka---" belum sempat Runa melanjutkan pembicaraan, Shaka langsung menarik Runa pergi.
"Runa!" pekik Vanya lumayan keras, cewek itu menatap Runa dan Shaka yang perlahan menghilang, namun dalam hatinya sedikit ada keresahan.
"Lah itu pada kemana?" tanya Arthur sambil menatap kepergian Shaka dan Runa.
"Gak tau, kok gue jadi takut." resah Vanya.
"Runa gak bakal sakiti cewe, tenang aja." ujar Tara.
"Terus kalau dia gak bakal sakiti cewek, lo pikir Runa apaan?!" kata Vanya menatap Tara kesal, lalu selama ini yang Shaka lakukan apa jika tak menyakiti Runa.
"Kak Shaka tunggu, kamu kenapa sih?" Runa menatap Shaka dengan tanda tanya, Runa tau kalau Shaka marah sekarang, namun karena apa?
Dalam hati Runa membatin sabar, karena tak ada jawaban dari lelaki itu, dirinya juga harus menyamakan langkah lebar milik Shaka. "Kak bisa pelan-pelan gak?" keluh Runa.
Shaka menepis pelan tangan Runa, cowok itu berusaha untuk tetap mengontrol emosi sesaat tapi ternyata semuanya tak berhasil emosinya menjadi lebih besar. "Aku udah bilang berapa kali sama kamu, jangan pernah dekati Galang!"
"Kenapa?"
Runa terkekeh sekejap, lalu menatap Shaka dengan beraninya. "Tau darimana? Galang baik kok, buktinya aku sampai sekarang gak papa." bela Runa.
Keduanya kembali ribut di lorong gudang, untungnya tak ada orang di sana, Shaka dan Runa saling ber lempar argumen, yang satu membela dan yang satu membenci.
"Alasan buat aku jauhi Galang apa? Gini deh aku tanya ke kamu." ujar Runa.
"Kalau aku suruh kamu buat jauhi Kak Kania gimana?"
"Gak akan,"
Runa tertawa mendengarkannya. Tawa yang membuat Shaka sadar bahwa itu adalah tawa ejekan baginya. "Gak akan, berarti aku juga gak akan bisa buat jauhi Galang." balasnya sesantai mungkin.
"Oke, tapi jangan salahi aku kalau Galang akan celaka nantinya." bisik Shaka.
"AKU GAK PEDULI, JAUHI GALANG SEKARANG ATAU DIA YANG KENA MASALAH." bentak Shaka, lalu melangkah menjauh.
Runa hanya tersenyum simpul, memilih melangkah pergi juga. Namun ternyata ada seseorang yang menatap kejadian keduanya dan tertawa mengejek.
"Kasihan banget sih, harus berantem terus. Kalau gue jadi Shaka mending gue pergi dan menjauh." cibirnya dengan pedas.
"Permisi kak, Runa pamit." rasnya telinga Runa seketika menjadi sakit mendengarkan cibiran yang gak berfaedah milik Kania.
"Gimana enak gak berantem nya?" pertanyaan yang berhasil membuat langkah Runa terhenti, dia membalikkan badan menatap Kania yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.
Alis Runa bertautan, menatap Kania lumayan lama. "Jangan bilang kakak yang sebar foto itu."
Dengan ekspresi kagetnya Kania mengangguk santai. "Oh iya, kok lo tau sih. Hebat juga,"
Runa perlahan mendekat. "Maksudnya apa ya? Kakak tau gak, sebar foto tanpa izin itu bisa menganggu privasi, dan kakak tau kalau kasus ini bisa di laporkan ke pihak yang berwajib."
Kania memutar bola matanya. "Ya gue gak peduli, gue cuma mau lo jauhi Shaka." balas Kania.
"Harus nya lo itu sadar Runa, lo sama dia itu beda, beda kasta dan beda semua. Mending lo ngaca deh, dan sadar. Bahwa Shaka cuma kasihan sama lo."
"Terus sama kakak?" Runa mencoba untuk tenang kali ini, ia mencoba untuk menjawab segala pertanyaan Kania dengan santai, karena Runa tau maksud di balik itu semua.
Kania ingin Runa kehilangan kendali, namun itu tak akan terjadi, Runa tak akan pernah emosi jika perkataan lawan mainnya cuma seperti ini.
"Tapi gue bisa buat ambil perhatian Shaka." jawab Kania.
Runa berdehem singkat lantas berkata. "Kak Kania tadi bilang kan, harusnya Runa sadar kalau kak Shaka hanya kasihan sama Runa?" Runa kembali mengucapkan perkataan Kania barusan.
"Kakak sadar gak sih, yang dikasihani sama kak Shaka itu bukan cuma Runa." ujar Runa.
"Tapi juga kakak, bedanya aku jadi pacar dan kakak jadi perusak. Bangga banget ya jadi perusak," Runa memulai aksinya mengeluarkan kata-kata pedas miliknya.
"Kayak gak ada rasa bersalah." sambung Runa.
Gigi Kania bergemeletuk. "Di jaga ya mulu lo!" Kania mulai hilang kendali.
Runa tersenyum kecil. "Tenang kak, jangan emosi. Rahasia kakak aman kok sama Runa."
Kania terdiam. "Gak usah fitnah, tau apa lo tentang gue."
Runa mendekatkan dirinya pada Kania. Runa tak melakukan apapun, setelah berdiri tepat di depan Kania, dengan anggunnya Runa merapikan kerah kemeja Kania sambil tersenyum ke arahnya.
"Kak Kania pikir, Runa bakal nangis kayak di sinetron-sinetron? Karena kak Kania berhasil mengalahkan Runa?" tanya Runa pada Kania.
"Kak Kania gak perlu kok buat jadi Runa, dan Runa juga gak perlu buat jadi kakak. Aku gak perlu rubah sikap aku kayak kamu biar bisa mendapatkan perhatian," seru Runa.
"Aku ya aku, kamu ya kamu. Emangnya dengan begitu, kak Shaka suka sama kakak? Ingat kak, aku sama kakak itu beda, aku pacar dan kakak hanya teman." ujar Runa sambil menepuk pelan kemeja Kania-- seolah seperti ada kotoran yang tak kasat mata.
"Gue gak butuh basa-basi lo!"
"Runa gak basa basi kok. Tapi kalau ada orang kayak kamu. Harusnya sadar ya sama apa yang kakak lakukan." ujar Runa dengan santainya.
Begitu Kania ingin melayangkan pukulan pada Runa, dengan sigap gadis itu menahan tangan Kania sebelum menyentuh pipi putihnya.
"Cara yang kamu lakukan itu udah basi," remeh Runa, dan perlahan melepaskan genggaman.
Gadis itu juga merapikan anak rambut Kania yang berantakan masih dengan cara yang anggun Runa berkata kembali namun dengan sedikit berbisik.
"Aku tau kamu siapa, dan aku juga tau tujuan kamu kesini buat ngapain!" serunya berbisik, bibir Runa mengulum senyuman menatap ekspresi wajah Kania dari samping.
"Satu lagi, kalau kamu bisa buat permainan aku juga bisa buat permainan dan kalau kamu main-main sama aku, aku juga bisa main-main ke kamu." ujar Runa dengan tegas. "Kalau kamu bisa kenapa aku gak?" sambung gadis itu.
Tak ada balasan sedikit pun dari Kania. Runa melirik sekilas ke arah jam tangan, sudah hampir 20 menit dirinya berdiri di tempat ini.
"Aku pamit ya kak, oh iya satu lagi, ucapan kita dari tadi ada rekam, jadi kalau kakak mainnya udah lewat batas, jangan salahi Runa buat bongkar perkataan kita tadi." masih dengan mengulum senyuman manisnya runa berkata.
"Pamit duluan ya kak, bentar lagi istirahat nya udah habis. Selamat berbalas dendam!" melambaikan tangan sebelum Runa melangkah pergi.
Kania menghentakkan kakinya kesal, niatnya ke sini mau mengompori Runa, kenapa jadi dirinya yang terkena emosi sekarang! sial!
...
Ramaikan ya guys, aku usahakan bulan ini bakal tamat :)