Arshaka Aruna

Arshaka Aruna
Vanya tau



Keadaan kelas masih begitu sepi, hanya ada beberapa anak saja yang ada di dalam kelas. Vanya, cewek berambut pendek sebahu itu tengah menunggu sahabatnya datang.


Akibat bosan di dalam kelas, Vanya memutuskan untuk pergi keluar kelas. "Mending gue keluar aja, sambil nunggu Runa datang." Langkah Vanya serentak terhenti, mendapatkan Runa yang berada di depan lorong.


Vanya mengernyit kan dahi, melihat Runa dan Shaka yang tengah ribut di pagi hari. Memilih untuk berdiam diri, Vanya ingin melihat sebenarnya kedua pasangan itu lagi ada masalah apa?


Katakan Vanya kepo atau menguping pembicaraan orang, itu memang benar. Vanya bisa saja menanyakan semua nya langsung pada Runa, tapi gadis itu sama sekali tak pernah mau menjawab, bahkan selalu mengalihkan pembicaraan dengan membahas hal yang tak masuk akal lainnya.


"Kamu kenapa? Satu harian ini aku chat sama telpon gak kamu balas? Kamu sibuk ya?" tanya Runa.


Shaka hanya menatap Runa sekilas lalu menatap ke arah lain. "Maaf, aku sibuk semalam. Dan handphone aku lowbat." kata Shaka.


Runa mengulum senyum, lalu berkata. "Sibuk ya? Sibuk keluar bareng kak Kania? Jawaban yang benar-benar masuk akal." ujar Runa sambil tertawa tertahan.


Tubuh Shaka menegang seketika, ingin menjawab perkataan Runa, namun mulutnya terasa sulit digerakkan. "Dan untuk handphone lowbat, aku rasa itu jawaban yang gak masuk akal. Buktinya, semalam kamu online instagram kan?" ujar Runa kembali.


"Runa--" belum lagi Shaka melanjutkan perkataannya, Runa dengan cepat memotongnya.


"Aku gak masalahin kamu buat keluar sama siapa aja, dan aku gak larang kamu buat dekat sama siapa aja. Karena aku gak mau ngekang kamu." Runa memotong perkataan Shaka dengan cepat.


"Kita ini lagi ada masalah loh, kamu lupa?" Dia menatap Shaka dengan tatapan yang cukup beda. "Kak, kalau emang kamu gak bisa cerita, aku gak peduli. Aku juga udah gak ingat hal itu lagi kok."


"Gak usah bahas hal itu lagi."


"Gak bahas hal ini lagi? Kamu ngelawak atau gimana? Kita lagi ada masalah, tapi kamu malah menghindar. Terus kapan masalah ini selesai?" tanya Runa.


Shaka mengidikkan bahu tak peduli. "Aku pamit dulu ke kelas, pagi ini ada ujian praktek." Selanjutnya Shaka memilih melangkah pergi.


"Kak Shaka---" Runa hanya bisa menghela napas sabar, gadis itu menatap kepergian Shaka yang perlahan menghilang.


Vanya yang menatap itu mengangguk mengerti, dia tau sekarang Shaka dan Runa kenapa. Perlahan kakinya melangkah mendekati Runa. "Dor!"


Runa terjingkrak kaget. "Vanya!" Pekik Runa dengan kesal. "Kebiasaan jago banget buat kaget orang!"


Vanya hanya menyegir kuda. "Hehe just kidding. Lagian lo sih, ngapain berdiri di depan lorong gini, ngalangin jalan tau gak?!" kata Vanya. "Lo ngapain sih?"


"Gak tadi cuma ngobrol bentar sama kak Shaka." Ujar Runa berbohong.


Vanya mengangguk paham, Pura-pura tak mengerti dengan apa yang terjadi. "Kak Shaka? Tumben banget, kok dia gak antar lo sih ke kelas, biasanya kan pagi-pagi begini dia nganterin lo ke kelas." Vanya mencoba memancing Runa dengan kata-kata nya itu, ingin mencoba mendengarkan balasan dari Runa.


"Dia lagi sibuk, pagi ini ada ujian praktek katanya." Vanya hanya berohria.


"Masuk yuk ke dalam, bentar lagi bel masuk. Kayaknya pagi ini gak ada upacara deh," Vanya celingak-celinguk ke kanan ke kiri, menatap lapangan yang sepi, tak ada anak-anak yang menyiapkan kegiatan upacara.


"Maybe, masuk aja yuk."


"Pagi guys! Gimana udah semangat belum buat praktek nya." Ujar Bram yang baru saja memasuki kelas.


Tara ikut-ikutan menyahuti. "Gue sih no."


Bram memiringkan kepalanya sedikit, menatap Arthur dan Tara bergantian, lalu mengetuk dagunya, seperti tengah memikirkan kata-kata apa yang harus dia katakan. "Gue sih yes-no!" Katanya.


"Good morning semua," Juna -sang ketua kelas memasuki kelas, cowok itu menaruh tas miliknya di tempat duduk, lalu berjalan ke depan kelas dan berdiri menatap teman-teman nya.


"Diam bentar bisa gak? Kalau bisa sambil duduk," perintah Juna, yang membuat seluruh murid IPA 4 duduk di kursi mereka masing-masing.


"Oke udah semua, jadi gini guys, kan pagi ini kita mau praktek, nah Bu Henny barusan bilang ke gue, kalau prakteknya bakal individual. Perseorangan yang maju, dan untuk praktek kali ini sebagian murid doang yang maju."


"Karena kelas kita ada 38 orang, jadi yang maju pagi ini, absen 1-19 dan sisanya bakal minggu depan." Jelas sang ketua kelas.


Tara yang berada di absen 30 bersorak gembira. "Yes! Gue minggu depan."


Arthur dan Bram mengumpat. "Anjir! Kok gitu? Lah gue kira majunya bebas! Mana gue absen 7 lagi mampus gue," dengan kesalnya Arthur menggebrak meja, membuat satu kelas terjingkrak kaget.


"Arthur bangsat!" Mona mengumpat, cewek itu menatap Arthur tajam. "Bisa gak sih gak usah dobrak meja, kaget goblok!!"


"Diam lo Mon berisik!" Padahal mah dia yang mulai duluan eh Mona yang kena getah.


Mona memutar bola mata jengah, lalu melengos pergi. "Dih, sok cantik lo." sinis Arthur.


Mona tertawa ngakak. "Emang gue cantik, kenapa? Sorry to say, gue gak minta sama cowok yang muka pantat panci kayak lo." Perkataan Mona berhasil membuat satu kelas tertawa ngakak.


Arthur menatap Mona tak terima. "Wah mandang fisik lo!" tunjuk Arthur.


"Terus lo pikir lo kagak?" Tantang Mona dengan santainya. Cowok kayak Arthur mah udah biasa kali, tapi sifatnya luar binasa.


"Giliran yang cantik, mulus, montok aja lo pacarin, coba sekarang lo pacarin si Karina, gue mau lihat lo bisa tahan gak sama tuh cewek." Karina emang cantik kok, tapi sayang dia culun dan absurd gitu terus dia juga anak kutu buku.


"Nah! Kali ini gue setuju sama penuturan lo Mon." sahut Bram membuat Arthur reflek menoyor kepalanya. "Aduh!" Bram meringis pelan, seraya mengusap kepalanya yang baru saja terkena toyoran Arthur.


"Main setuju-setuju aja lo! Kalau gue bisa pacarin si Karin gimana? Lo harus terima gue jadi pacar lo? Gimana." Tantang Arthur balik.


"Oke fine gue terima tapi gue yakin 100% Karina gak bakal mau sama lo," remeh Mona, lantas melenggang pergi dan kembali ke tempat duduknya.


"Main pacarin aja lo, tuh kasihan sahabat lo yang dari dulu ngejar kagak dapet-dapet!" Tunjuk Bram pada Tara.


Tara yang merasa terpanggil menoleh. "Lah kok gua?"


"Lo kan suka sama Mona, udah gih tembak keburu Arthur yang ambil." Kata Bram becanda.


"Gak tadi gue becanda doang Tar, jangan marah lah." Kata Arthur.


"Of course." Balas Tara singkat.