
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Pagi ini Jhon membawa istrinya keliling desa dengan motor. Mereka keluar sebelum salat subuh. Rupanya Jhon ingin mempunyai kesan romantis hanya berdua dengan Farah melihat sunrise.
Sejak semalam dia sudah meminjam motor pada Putut. Dia juga sudah menyiapkan jaket sehingga pagi ini mereka tidak mengganggu Putut untuk mengambil kunci motor.
“Kenapa kita enggak pakai mobil kita aja By?” tanya Farah sambil mengeratkan pelukannya. Udara pagi sangat dingin.
“Kalau pakai mobil kamu enggak akan peluk aku seerat ini,” jawab Jhon sambil memegang erat tangan Farah yang memeluk erat perutnya.
“Tanganmu masukkan ke saku jaketku biar enggak dingin,” pinta Jhon.
Mereka berhenti salat subuh di masjid yang sama saat mereka bersama rombongan kemarin.
“Kita lanjut ya,” Jhon langsung mengajak istrinya setelah menyimpan mukena dibawah jok motor.
Di lokasi tempat memandang *sunrise*, Jhon sengaja mencari bukit yang sedikit terpisah. Dia berdiri sambil memeluk istrinya dari belakang. Suasana romantis ini kemarin tak bisa mereka dapatkan. “Ini alasanku kembali kesini berdua,” bisik Jhon.
Farah memegang pipi kanan Jhon tanpa menoleh. Dia tahu suaminya enggak atau masih agak canggung memperlihatkan perlakuan romantis di depan orang lain. Walau mereka adalah adiknya atau kakaknya sendiri.
Sangat berbeda dengan Putut yang tanpa ragu dimana pun memeluk dan mencium pipi atau kening Amie setiap dia sempat.
Begitu pun Putro. Sejak melihat saat lamaran saja Putro sering terlihat nyosor Putri dimana pun
Farah tahu setiap orang pasti beda karakternya. Dia tak mau membanding-bandingkan. Putut memang terlihat sangat bucin pada Amie.
“Padahal biasa aja, peluk istri sendiri kenapa malu?” tanya Farah.
“Aku masih enggak percaya diri. Aku takut kamu risih bila kau berbuat seperti ini didepan orang lain,” jawab Jhon.
“Itu sebabnya kita harus banyak mengeluarkan pendapat atau bertanya. Kita kan belum pernah pacaran. Jadi wajar kalau kita saling tanya apa yang pasangan kita mau,” dalam hal ini Farah lebih dewasa.
“Jadi kamu enggak malu bila aku memeluk dan menciummu di depan orang lain seperti Putut?” tanya Jhon. Dia melihat Putro juga tak malu memperlihatkan kebucinannya pada Putri.
“Aku nyaman aja. Tapi kalau Hubby enggak nyaman, ya enggak usah dipaksa,” jawab Farah.
“Jujur, sesungguhnya aku terus menahan diri memperlihatkan cintaku. Aku takut kamu malu dengan orang tuamu atau orang tuaku. Padahal aku ingin sekali mengekspresikan rasa cintaku,” Jhon makin mendekap erat istri tercinta.
“Lihat, dia mulai tampak,” Farah menunjuk ufuk Timur.
“Sangat cantik,” lanjut Farah.
Farah dan Jhon lama disana, mereka bertukar info tentang diri mereka.
Masa kecil mereka, keseharian mereka. Bahkan visi dan misi rumah tangga yang akan mereka bangun nantinya seperti apa.
“Aku tidak pernah tahu, kalau perempuan yang akan aku nikahi dulu adalah pewaris sebuah perusahaan besar."
"Ibuku tidak pernah berhenti bekerja. Tapi dia bisa membagi waktu. Sehingga kami anak-anaknya tak pernah merasa kehilangan dia.” Jhon meminta suatu hal yang perlu Farah pikirkan kedepannya.
“Aku juga awalnya enggak tahu siapa jodohku. Tapi dulu pernah ingin tetap bekerja walau sudah punya anak."
"Tidak seperti umi yang langsung berhenti. Saat kami sudah punya kegiatan sendiri, umi pernah bingung apa yang hendak dia lakukan ketika rumah kosong.” Farah bercerita tentang ibunya.
“Abi minta umi kembali menjalankan biro hukum yang dulu pernah dia buat, tapi umi malas. Disuruh bekerja di perusahaan abi, umi tidak mau karena kasihan pegawai abi bila tahu galaknya umi memimpin yang bertolak belakang dengan abi. Akhirnya umi melarikan diri ke dapur,” lanjut Farah lagi.
Sekarang Farah melihat ada sedikit penyesalan uminya ketika anak-anak meninggalkan dirinya yang sudah rela tak bekerja ketika anak-anak masih kecil.
"Sesekali umi menjadi dosen tamu untuk mata kuliah dasar umum."
“Itu yang aku pikirkan. Kalau terbiasa sibuk, lalu harus bengong, pasti akan tersiksa,” sahut Jhon.
Untung ibunya tidak berhenti. Saat mereka masih kecil-kecil, sang ibu hanya mengambil pekerjaan sedikit. Begitu anak-anak jarang dirumah baru dia kembali full kerja.
“Kita lihat kondisi nanti ya By, tapi aku janji akan mengutamakan keluarga,” Farah berjanji pada Jhon.
\*\*\*
Jhon dan Farah tidak sarapan dirumah. Mereka makan jenang gudeg dekat SD. “Suasana desa itu tentram ya By. Aku suka banget. Rasanya tenang hidup di desa seperti ini.”
“Semua tergantung bagaimana kita menikmati. Orang kota bilang di desa itu enak. Tentram. Sebaliknya orang desa akan senang tinggal dikota yang dia bilang tak pernah tidur, selalu ramai.” jawab Jhon.
“Iya sih,” Farah akhirnya setuju dengan sudut pandang suaminya.
“Besok berangkat jam berapa By?” tanya Farah ketika mereka bersiap untuk kembali ke rumah Amie.
“Aku tugas jam dua siang. Jadi dari rumah sekitar jam sebelas.” jawab Jhon.
“Trus nanti kita akan pulang jam berapa?” tanya Farah.
“Bagaimana kalau jam tiga? Kita salat Ashar di kota Jogja sekalian jalan-jalan sebentar sebelum kembali ke Solo?” tanya Jhon.
Jhon tak mau semua dari keputusannya. Istri juga harus ditanya kemauannya.
“Boleh. Nanti habis makan siang aku bersiap packing,” Farah setuju dengan usul suaminya.
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA itu ya.