
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Akhirnya waktu makan malam. Farah dan Putri yang baru pertama kali merasakan tumis bunga genjer langsung berkomentar kalau sayuran itu enak.
“Nanti kalau bulan depan apa bisa makan sayuran ini lagi?” tanya Farah.
“Kalau bunga genjer belum tentu Mbak. Karena enggak setiap waktu tersedia. Kalau daunnya ada. Tapi ya rasanya beda,” sahut Amie si nyonya rumah.
“Bulan depan para orang tua tidur di rumah depan. Yang muda disini. Nanti aku bilang ke ibu untuk mencarikan bunga genjer biar para sepuh bisa mencicipi tumis seperti ini,” Putut melengkapi keterangan Amie. Dia tahu maksud Farah tentu agar orang tuanya makan sayuran ini.
“Besok pagi akan aku masakan menu yang baru lagi. Menu yang jarang ada dikota,” Amie sudah punya ide menu sarapan esok hari.
“Besok jadi lihat sunrise di sela Merapi?” tanya Putro.
“Jadi dong,” Putri dan Farah langsung menjawab antusias.
“Amie, aku mau diajari bikin pepes,” Farah kembali membuka satu bungkus pepes yang sudah dipanggang.
“Kalau di Sunda banyak yang bisa dibikin pepes Mbak. Oncom, ayam, ikan asin peda, jamur, tahu, udang, teri basah, telur ikan. Pokoknya aneka bahan,” Putut memberi tambahan masukkan untuk Farah.
“Aku ingin coba bikin pepes ayam dan juga pepes tahu,” jawab Farah dengan semangat.
“Aku nunggu hasil olahanmu *Honey*,” Jhon memberi semangat istrinya.
“Kamu ketemu tumis genjer wae makan enggak ingat porsi. Terlebih bila ketemu pepes ayam,” ledek Putro pada Jhon.
“Ni para jomlo kenapa dari tadi diam aja?” kembali Putro meledek. Kali ini ditujukan pada Wahyu dan Ragil.
“Aku lebih baik konsentrasi pada makanan dari pada ikut nimbrung bicara. Membuang waktuku untuk menghabiskan pepes ini,” sahut Ragil yang terus mengunyah.
“Yang jomlo cuma Wahyu, kalau Ragil malah *kokehan* pacar,” sahut Jhon. \[ kokehan \= kebanyakan \].
“Farah dari tadi ngomong wae yo tetep banyak ngabisin pepese,” sekarang Putro mengarah ke Farah.
“Sepertine mas Putro keracunan genjer,” celetuk Amie sambil nyengir.
“Kenapa Mie?” tanya Putri khawatir mendengar suaminya dibilang keracunan.
“Dari tadi koq bisa lancar ngegodain orang. Bukannya biasanya diem aja,” jawab Amie lagi.
“Ha ha ha … itu karena dia sudah punya pawang De,” sahut Jhon membalas Putro. Memang selama ini Putro terkenal diam dan jaim.
“Iyakah?” Putri bingung. Karena selama ini didepannya Putro adalah orang yang banyak bicara dan jago merayu.
Putro hanya bisa nyengir di skakmat oleh Amie dan Jhon.
\*\*\*
Esok paginya, sebelum salat subuh rombongan pasangan itu pergi untuk melihat sunrise.
Mereka membawa alat salat dan akan salat Subuh di masjid terdekat dengan lokasi tujuan. Karena bila sesudah salat subuh baru berangkat, maka mereka akan terlambat melihat kemunculan matahari disela gunung Merapi dan Merbabu.
“Allahu Akbar! Indah bangeeeeeeeeeeeeet,” Farah langsung takbir melihat keindahan sunrise didesa asal ayah mertuanya.
Mereka membuat banyak foto untuk kenangan kunjungan mereka disini. “Enggak akan bosen ya lihat pemandangan indah ini,” Putri pun sangat senang bisa berlibur didesa asal mertua lelakinya itu.
Mereka segera pulang ketika matahari mulai agak tinggi dan perut mereka minta diisi.
\*\*\*
Dimeja tersedia lontong serta nasi dengan lauk pecel aneka sayuran dari kebun sendiri. Juga lele dan tempe goreng serta kerupuk.
Amie memang meminta bulek Irah agar sayuran dan bumbu pecel jangan dicampur. Biar semua meracik sendiri sayuran apa yang mereka sukai.
“Ini apa?” tanya Farah menunjuk sayuran berwarna pink.
“Itu bunga kecombrang Mbak. Icip sedikit tanpa campuran deh. Dia mempunyai rasa khas,” Amie menjawab pertanyaan Farah.
“Kalau ini aku tahu. Kecipir dan bunga turi ‘kan?” Putri berkomentar aneka sayuran yang ada dimeja makan.
Ada kol, kacang panjang, tauge, kangkung serta daun pepaya rebus selain sayuran yang sudah dia sebut tadi.
“Wah rasanya segar,” Farah berkomentar ketika mencicipi sepotong lembaran kecombrang. Putri penasaran dan ikut mencicipi.
“Monggo terserah mau makan pakai nasi atau lontong. Sayuran racik sendiri ya,” Amie mengambil lontong dan dia meracik sayuran lalu menyiramnya dengan bumbu pecel. Dia tambahkan tempe dan lele goreng, lalu dia serahkan untuk Putut.
“Makasih Yank,” Putut menerima sarapan yang Amie racik.
“Mas, aku belum tahu kamu sukanya apa aja,” Putri bingung ingin seperti Amie meracik untuk Putro, tapi dia belum tahu apa yang Putro sukai.
“Aku suka semua sayuran ini. Banyakin kecombrang dan bunga turi. Pakainya nasi bukan lontong,” sahut Putro.
Sementara Farah hanya memandang Jhon tanpa tanya yang terucap. Jhon mengerti apa arti tatapan istrinya. Dia langsung berucap, “Aku apa aja yang kamu siapin *Honey*.”
Mereka bertiga pasangan muda yang sedang belajar. Sehingga diantara mereka, tak ada malu untuk bertanya.
“Ini lele juga hasil tambak sendiri?” tanya Putro.
“Iya Mas,” jawab Putut.
“Dua bulan atau tiga bulan lagi mungkin ayam petelur Saka sudah besar dan bisa jadi bahan konsumsi orang dirumah."
"Saka minggu lalu beli anak ayam DOC ( *day old chicken* ) yang merah dan hitam. Dia pelihara bareng dengan bebek dan itiknya Wahyu. Itu nanti beberapa akan dikonsumsi sendiri,” Putut memberitahu kalau menu berikut bisa tambah ayam hasil peliharaan sendiri.
“Edaaaaaaaaaaan. Saka udah mikir punya peternakan ayam petelur?” Jhon tak percaya anak kelas tujuh itu sudah mulai menanamkan uang tabungannya untuk usaha.
“Awalnya aku cuma ngajak dia mbantu aku mindahin DOD ( *day old duck* ) yang baru menetas ke box pemeliharaan."
"Eh dia kepikiran untuk memelihara ayam negeri yang diliarkan. Sehingga nanti dagingnya akan keras seperti ayam kampung, tapi tetap telurnya bisa ditetaskan."
"Dia bukan ingin jual telur. Dia ingin jual anakan ayam buat dijual didepan TK atau SD,” Wahyu menceritakan awal Saka mulai menanam investasi.
“Senang ya bisa makan hasil kebun dan tambak atau ternak sendiri,” Putri senang melihat semua hasil sendiri.
“Aku serius masih enggak nyangka dengan kejelian Saka melihat peluang pasar dan ketersediaan lahan yang bisa dia berdayakan,” Jhon masih kagum atas sepak terjang anak seusia Saka.
“Semua karena faktor lingkungan yang mendukung pola pikirnya,” tukas Putro.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE itu ya.