THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
MANFAAT VOICE NOTE



DARI SEDAYU ~JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Sehabis makan jeruk, Amie turun dari ranjang dan berjalan menuju kamar mandi. Ragil berjalan disisinya, membuka pintu kamar mandi lalu menunggunya di depan pintu toilet tanpa menutup rapat toilet tersebut.


Saat itu ponsel Putut bergetar, dia keluar ruangan untuk menerima telepon. Amie yang keluar dari toilet tak melihat Putut langsung berlari untuk mencarinya. Tentu saja aku dan Ragil yang berada di dalam kamar kaget.


Di depan kamar Putro berupaya mencegat Amie yang ingin berlari keluar. Ayah pun langsung bangkit dari kursi melihat anak perempuannya itu. Amie yang tak menemukan sosok yang dicari tentu saja berontak tak mau dipegangi.


Sedang Putut tanpa sadar berjalan menjauh beberapa kamar dari kamar Amie. Temannya dikantor bertanya tentang file yang tak bisa dibukanya sehingga agak lama Putut memandu sang teman agar bisa membuka file yang dimaksud. Saat kembali dari telepon dilihatnya Putro sedang mencegah Amie untuk terus keluar kamar.


“Mau ke mana?” tanya Putut lembut.


Tanpa berpaling atau melihat pada Putut, Amie langsung tenang. Dia kembali ke kamarnya dan naik tempat tidurnya dengan dibantu Ragil.


‘Bener kowe Nang, kalau kita pulang sekarang, tentu Amie akan histeris mencari sosokmu,’ batin bu Pratiwi memperhatikan reaksi tenang yang diperlihatkan Amie setelah mendengar suara Putut.


Ibu mengajak Amie mandi. Dia membawa baju ganti Amie dan dirinya sekalian, karena biasanya kalau memandikan Amie, bajunya akan basah. Dikeramasi rambut panjang anak perempuannya. Dia gosok semua badannya. Amie hanya diam tanpa reaksi dengan pandangan kosong. Namun ibu tetap mengajaknya bicara walau tak ditanggapi.


***


“Put, aku minta voice note mu,” aku tetiba punya ide menyimpan suara Putut. Saat ini kami sedang duduk diteras ruang rawat Amie.


“Buat apa Mas?” Putut tentu bingung.


“Kalau nanti tengah malam atau besok subuh Amie rewel, akan kuperdengarkan suaramu biar dia tenang,” jawabku. Maka Putut pun mengirim pesan suara ke nomorku.


‘Bobo lagi ya RA!’


‘Mas PU di sini, kamu tenang ya, bobo lagi!’


Dua pesan itu dikirim Putut untukku. Selain itu dia mengirim shalawat yang dilantunkannya. “Setel aja shalawat ini saat terlihat dia mau bangun Mas, biar agak tenang.”


“Panggilan kalian special ya?” godaku.


“Itu enggak sengaja kami ciptakan Mas. Saat itu Amie baru kelas lima sekolah dasar.”  Lalu Putut bercerita awal panggilan special mereka itu.


***


Malam ini aku bertugas jaga di rumah sakit. Amie sedang ke kamar mandi. lampu kamar mandi menyala. Aku menunggu Amie keluar dari kamar mandi. Keluar dari kamar mandi mata Amie mulai mencari sosok yang ingin dia lihat.


Sosok yang dicari Amie tak ada dalam ruangan, dia berjalan menuju pintu hendak mencari di luar. Aku tahu Amie mencari Putut. aku langsung mengambil ponsel di saku dan mendengarkan rekaman suara Putut. ‘Bobo lagi ya RA!’


Mendengar suara itu, Amie langsung kembali ke ranjangnya. Aku bantu dia naik dan memakai selimutnya.


Aku perdengarkan rekaman suara Putut yang sedang membaca ayat suci Al Qur’an. Mendengar itu ada seulas senyum kecil di sudut bibir Amie dan dia kembali tertidur dengan lelap.


‘Untung tadi aku sudah merekam suara Putut, Amie bangun dan bergegas mau keluar kamar mencarinya. Pas dengarkan suara rekaman dia langsung naik ke ranjangnya dan tidur lagi,’ aku kirim chat itu ke mas Putro dan Putut.


***


“Bisa di bawa pulang, asal jangan dipaksakan untuk kembali normal. Seminggu lagi harus kontrol, kontrol selanjutnya dua minggu kemudian. Jangan membuat nyonya Rahmi melihat suatu hal yang akan membuatnya sedih atau depresi.” Demikian pesan dokter pada mas Putro dan ayah.


Sedang Putut bertugas menyuapi Amie sarapan dan minum obat. Ayah segera mengurus administrasi kepulangan Amie, dia juga mengabariku dan ibu untuk segera datang guna berangkat ke Jogja.


Kami berangkat ke Jogja dengan dua mobil. Ayah, ibu dan Ragil berangkat menggunakan mobil ayah, sedang Putut dan Amie berada di mobilku bersama mas Putro.


Mobil mas Putro tetap ditinggal di rumah sakit. Sepanjang perjalanan debu masih tebal. Amie terlihat takut melihat bila ada motor yang mendahului mobil mereka.


“Mas, sepertinya dia takut melihat motor yang melaju. Boleh aku suruh dia tiduran di pahaku agar tak melihat jalanan?” Putut meminta izin mas Putro. Dia tidak tega melihat reaksi ketakutan Amie.


Mas Putro langsung berbalik badan dan melihat wajah Amie yang ketakutan. “Ya sudah, lakukan yang terbaik.”


“RA, bobo sini ya,” lembut Putut menarik bahu Amie dan memposisikannya agar merebahkan kepalanya di kakinya. Amie membaringkan kepalanya di pangkuan Putut.


***


“Besok pagi jadi berangkat ke Bandung Le ( panggilan untuk anak lelaki )?” tanya ayahku. Dia tadi sudah di ceritakan oleh pak Cokro, Putut akan mengurus surat resign di kantornya.


“Enggak pagi pakde, tadi sudah pesan dan dapatnya tiket untuk yang malam. Tiket berangkat besok pagi habis.” Jawab Putut. “Mohon doa saja agar semua dipermudah sehingga bisa segera selesai pengurusan surat-suratnya.”


“Aamiiin, semoga cepat beres urusanmu!” balas ayah.


Aku dan mas Putro mendiskusikan hal ini. Kami menyimpulkan ada cinta teramat dalam dari Putut untuk adik kami. Putut bekerja di PT Telkom sejak dia kuliah dengan beasiswa PT Telkom. Kalau bukan cinta, apa motivasi seorang lelaki meninggalkan pekerjaan yang sangat bagus untuk seorang janda seperti Amie. Sedang Amie bukan janda kaya raya.


Sore, sehabis salat Maghrib kami sekeluarga pamit. “Maaf merepotkan ya Mbak,” bisik ibu pada bu Pratiwi.


“Apanya yang repot Di? Kamu ‘kan tahu sendiri, Amie itu juga anak wedokku sejak dulu. Bukan hanya anakmu. Masa merawat anak dewe koq repot?” Bu Cokro tak merasa direpoti dengan tugas merawat Amie.


Selama ini tugas perawatan simbah saja memang dia yang menangani. Padahal tak ada hubungan darah antara kami dengan keluarga pak Cokro. Hanya karena sudah sejak para orang tua mereka hubungan silaturahmi dengan tetangga itu baik, melebihi hubungan darah. Maka tak pernah ada rasa terbebani merawat simbah.


“Saya pamit Mas, bapak di rawat saja saya sudah merepotkan, koq sekarang malah tambah titipan saya,” ayah pamit pada pak Cokro.


“Ra ono sing direpoti, wong urip kuwi saling tulung. Ra ono wong mati sing iso ngubur awake dewe!’ pak Cokro menolak kata-kata ayahku, arti kalimatnya adalah tidak ada yang di repotkan. Orang hidup itu harus saling tolong menolong. Karena tak ada orang mati yang bisa mengubur dirinya sendiri.


\===========================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta