THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
PLAYBOY DIBALIK KEDOK AGAMIS



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Esoknya diantar sang ayah, Farah mengurus dokumennya yang hilang, KTP, juga kartu ATM dan SIM. Gadis itu tak berani mengurus sendiri karena tak ada KTP dan SIM.


Takut ditangkap razia sebelum membuat surat lapor kehilangan. Bukan karena tak mandiri. Walau dia bungsu dari tiga bersaudara dan satu-satunya anak perempuan. Hanya tak mau terlibat masalah hukum saat belum punya surat lapor kehilangan saja.


Satu hari full Farah mengurus semuanya. Hal itu karena sang ayah hanya memiliki waktu membolos hari ini. Besok ayahnya harus terbang meeting di Banjarmasin.


Bisa tiga hari kerja dia harus menanti bila menunggu sang ayah kembali pulang. Dan jangan ditanya para abangnya. Karena kedua abangnya tinggal di Singapore memegang usaha sang ayah di sana.


Rencananya sehabis Farah wisuda, kakaknya yang nomor dua kembali ke Indonesia dan bertukar tempat dengan Farah. Farah akan magang pada kakak sulungnya dan kakak keduanya akan mendampingi ayah mereka.


“Bi, apa sehabis wisuda aku di sini aja, aku magangnya sama Abi aja. Biar Bang Farouq nemani Bang Ilham di Singapore.” Farah mengajuk ayahnya agar boleh tinggal di Solo. Saat ini dia merasa ada some one yang akan dia perjuangkan.


“Sesuai kesepakatan, kamu boleh tidak pindah ke Singapore asal sehabis wisuda kamu langsung menikah,” jawab sang Abi santai. Rupanya sudah ada kesepakatan dalam keluarga mereka sebelumnya.


Tentu saja hal itu membuat Farah tak berkutik. Karena maksud sang ayah dia menikah dengan anak temannya yang Farah tak suka. Farah tahu betul siapa Farhan yang dijodohkan untuknya.


Ha ha awas tertukar, Farhat, Farhan dan Farah. Kalau ama Farouq agak jauh ya. Semoga enggak ada typo penulisan nama tokoh ini.


Farhan adalah playboy berbalut kemunafikan agama. Playboy yang kesehariannya berlagak alim dan agamis.


Farah tahu, ada beberapa gadis yang jadi korban Farhan, tapi tak ada yang berani menuntut pria sholeh dan kaya raya itu. Uang bisa mengalahkan segalanya. Farah akan berupaya membuka mata sang abi agar bisa melihat siapa Farhan.


Kalau hanya penolakan tanpa fakta, Farhat sang abi tak akan menerima.


“Ok, tapi sebelum Fara dipertemukan dengan Farhan dan keluarganya, Fara minta kita bertemu dulu. Ada seseorang bahkan mungkin nanti dua atau tiga orang teman yang akan Fara kenalkan dengan Abi. Sehabis itu Abi boleh menentukan tanggal dan hari kapan keluarga Farhan bersedia melamar Fara,” demikian Farah memberi syarat pada sang ayah yang sangat memanjakannya.


“Deal, kapan temanmu mau bertemu Abi. Apa mereka butuh pekerjaan?” tanya Farhat Basalamah sang ayah dengan senang. Akhirnya putrinya mau menerima perjodohan yang dia atur dengan sahabat sesama pengusaha juga.


“Biar mereka yang bicara sendiri Bi. Percuma mereka bertemu Abi kalau niat mereka sudah Fara yang sampaikan. Fara akan atur waktu dengan mereka kapan mereka bisa ketemu Abi ya,” dengan sangat senang Farah menjawab tantangan ayahnya. Setidaknya dia punya harapan lepas dari playboy munafik seperti Farhan.


***


‘Selamat siang Om, besok bisa bertemu sekali ini aja?’ sebuah chat dari kontak bernama Farah Prameks masuk ke ponsel Jhon.


PRAMEKS adalah layanan kereta api listrik jurusan Solo ~ Kutoarjo. Prameks singkatan dari PRAMBANAN EKSPRES.


Jhon memang selalu menyimpan nama kontak dengan tambahan penegas, misal Abdi KLATEN, Abdi SMP, Abdi KRUPUK dan penegas lainnya karena banyak nama yang sama.


Nah gadis yang baru dia kenal di kereta api listrik PRAMEKS jurusan Solo-Kutoarjo,  ya dia beri nama Farah PRAMEKS, karena di phone booknya banyak nama Farah. Termasuk seorang pramugari diteamnya yang sering berupaya menarik perhatiannya, tapi dia tak gubris. Dia tak suka perempuan yang terlalu agresif.


‘Besok hingga lima hari ke depan saya tidak bisa, karena saya jadwal terbang,’ jawab Jhon singkat.


“Hallo Om,” Farah mengangkat sambungan telepon dari Jhon. Dia mau mengucap salam seperti kebiasaannya, takut Jhon bukan seiman dengannya.


“Assalamu’alaykum,” sapa Jhon. Tanpa menunggu jawaban salam Jhon langsung bertanya pada Farah. “Ada apa kamu ingin bertemu?”


‘Ternyata dia muslim,’ batin Farah. Farah tentu senang, karena langkahnya untuk maju tak akan ada kendala seperti langkah abangnya yang tertahan karena perempuan yang disukai beda keyakinan.


“Saya tahu, Om tidak akan pernah mau saya kembalikan uang yang saya pergunakan ketika meminjami uang untuk bayar tiket kereta dan uang buat operasional saya hari itu.”


“Oleh karena itu saya ingin kita makan siang, saya yang bayar. Walau jumlahnya tidak lebih besar, dan niat baik Om membantu saya tak mungkin diganti dengan apa pun. Setidaknya saya tidak terlalu terbeban dengan hutang budi ini,” Farah menegaskan alasan ingin bertemu dengan Jhon.


“Kalau sekarang bisa?” pancing Jhon, dia baru saja dari kantor perumahan melihat rumah atau apartemen yang ingin dia beli. Maksudnya agar sekalian keluar rumah saja. Pulang cepat juga di rumahnya masih belum pada pulang. Dia bisa bengong sendirian di rumah.


“Om bisa hari ini. Ok saya bisa. Di mana dan jam berapa?” tanya Farah antusias.


“Di bakmi Gajah Mas, seberang pasar Gede ya? Satu jam lagi saya bisa sampai di sana,” Jhon memperkirakan dia bisa sampai bakmi favoritenya itu dalam waktu sekitar 45 menit dari sekarang.


“Oke Om, saya akan ke sana satu jam lagi. Kebetulan saya dan teman telah selesai bertemu. Assalamu’alaykum.”  Sekarang gantian Farah yang tidak menunggu Jhon menjawab salam, dia langsung mengakhiri hubungan telepon.


Farah tiba lebih dulu dari pada Jhon, karena dia berada lebih dekat dan juga naik motor, lebih mudah selap selip saat macet. “Om mau pesan apa?” tanya Farah saat Jhon sudah duduk.


Tanpa membaca menu Jhon menyebut apa yang ia pesan. Dan Farah menambahkan pesanannya. “Om hafal banget menu yang ada, apa di sini tempat makan fav …?” Farah membuka percakapan mereka sore ini.


“Sebelum kita lanjut makan dan ngobrol, bisa enggak kita samakan persepsi dulu. Usia saya belum 30 tahun dan saya yakin kamu sudah melewati usia 20 tahun. Artinya selisih usia kita tidak terlalu jauh untuk kamu pantas menyebut saya dengan panggilan Om,” Jhon menginterupsi Farah sebelum kalimat gadis itu selesai diucapkan..


“Jadi, saya harus panggil apa? Mas seperti orang Jawa pada umumnya ya?” Farah langsung menghentikan kalimatnya dan menjawab kalimat Jhon.


“Terserah, asal jangan om, paklek, pakde, atau bahkan mbah.” Jhon pun mempersilakan apa yang akan Farah gunakan.


“Aku panggil kakak-kakakku dengan panggilan Abang, atau aku panggil Kak Pujono aja ya?” cetus Farah. Jhon memperhatikan kelakuan Farah yang memang polos.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL   UNREQUITED LOVE  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  UNREQUITED LOVE   ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta