
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
“Selamat ya penganten dadakkan!” Putut menggoda Jhon yang dibalas dengan tinju-an hangat dilengan Putut.
“Wah tinggal Ragil nih,” goda Farah. Para pasangan muda memang berpisah dengan para orang tua yang masih ngobrol dengan penghulu.
“Aku jangan dulu lah, mau makan apa anak istriku nanti?” jawab Ragil. Bukan dia tak ingin serius. Tapi dia sadar tanggung jawabnya sebagai kepala keluarga.
“Kamu harus mulai berpikir sejak sekarang Mas Agil, masa kalah ama Wahyu?” jawab Amie. Dia tahu adik iparnya sudah mengelola peternakan sapi milik keluarga Putut.
“Nah itu. Kamu tentukan mau bergerak dibidang apa? Biar kita bahas bersama. Atau ya mulai jadi pegawai free lance untuk mencari pengalaman,” Putro memberi masukkan pada adik bungsunya.
***
“Jadi rencananya kalian bagaimana?” tanya Putut pada Jhon dan Farah.
“Aku belum ada rencana apa pun. Aku pun belum menentukan bagaimana hubungan kami selanjutnya. Karena pernikahan ini ‘kan baru kita yang tahu. Tidak mungkin kami tinggal bersama. Akan banyak mulut nyinyir nantinya. Nanti kami akan diskusi dulu karena kami berdua juga kaget dengan todongan pernikahan ini,” jawab Jhon jujur.
“Kaget tapi seneeeeeeeeeeeeeeng ‘kan?” goda Putri.
“Seneng bingit lah,” sambar Farah tanpa malu. Jhon mendekap pundak istrinya dengan lembut.
“Hei hei hei kalian, jangan yank yank an di depanku. Aku jomlo sendiran disini,” protes Ragil yang langsung mendapat reaksi tawa terbahak dari ketiga pasangan suami istri di depannya.
“Kamu enggak anggap kami ada disini?” tanya Farouq pada Ragil.
“Ha haaaa, kita bertiga saat ini jomlo ya Bang Farouq,” Ragil meralat pernyataannya tadi.
“Sepertinya habis peresmian hubungan AYA ke khalayak, Farouq langsung nyusul. Dia sudah siap koq,” cetus Ilham membocorkan status adiknya.
“Heiiiiiii … kenapa aku yang dibidik?” Farouq yang terlihat pendiam ternyata juga mudah berbaur.
“Kenyataannya seperti itu ‘kan? Calonmu sudah minta dilamar tapi kamu menunda karena enggak enak ama Abang,” Ilham mengejek Farouq yang memang sedang mengulur waktu memberi tahu kedua orang tuannya. Tak tahu sekarang malah ditikung Jhon duluan sehingga dia pasti harus menunggu jalur kosong.
“Awas kalau nanti diserobot ama Bang Ilham. Jangan-jangan pas sebelum peresmian hubunganku bang Ilham bilang ke Umi minta dilamarkan anak gadis orang,” celetuk si bungsu dalam keluarga Basalamah.
“YA, kopinya tolong siapkan,” bu Basalamah meminta putrinya untuk menyiapkan kopi dan teh sebagai suguhan selanjutnya. Amie dan Putri pun mengikuti Farah ke belakang untuk menyiapkan suguhan terakhir.
“Ini juga bikin teh?” tanya Putri.
“Iya, takutnya ada yang tak minum kopi,” jawab Farah sambil mengeluarkan creamer dan gula sachet. Karena teh dan kopi dibuat tanpa pemanis. Ini juga ada pemanis yang low calorie untuk yang takut pada gula biasa.”
“Sepertinya yang bakal punya momongan duluan Amie ya, karena aku dan mas Putro masih nunda. Dan aku yakin AYA juga harus nunda karena umum belum tahu kalian sudah menikah,” Putri berkata pada kedua iparnya. Mereka bertiga duduk terpisah dari para lelaki. Barusan mereka mengedarkan kopi dan snack sehingga setelah selesai mereka sengaja duduk terpisah.
“Iya lah aku pasti nunda. Kamu aja yang nikah sudah diumumkan, membuat program penundaan karena menikah secara mendadak.”
“Terlebih aku yang peresmiannya masih lama,” jawab Farah membenarkan pendapat Putri.
Mereka berdua sama-sama tahu kalau suami mereka bukan lelaki yang asal main celup. Tapi khalayak umum tak tahu. Tentu orang lain akan menilai buruk bila mereka langsung hamil.
“Aku juga belum tahu kapan dapatnya. Kami memang sudah menikah tujuh bulan. Tapi ‘kan aku baru sadar. Jadi selama ini mas Putut tak pernah menyentuhku. Dia mau melakukan hubungan setelah aku mengerti dan merasakan cintanya. Sejak dulu dia menahan tak melakukan walau kami tidur satu ranjang,” Amie memberikan fakta tentang hubungannya dengan Putut suaminya.
“Enggak apa-apa Mie, setidaknya kamu enggak pakai penghalang ‘kan?” jawab Putri lembut. Dia tahu sejarah sakitnya Amie dari data pasien mas Widyo. Terlebih dia adalah asisten Widyo sang kakak sepupu.
“Enggaklah Mbak. Kami enggak pakai pencegah koq. Semoga aja aku bukan pas lagi mabok saat resepsi nanti,” harap Amie jujur. Dia berharap segera dapat momongan. Tapi juga khawatir bila saat resepsi dua bulan lagi dirinya sedang mengalami morning sickness.
“Mbak Farah, aku bisa minta pembalut, sepertinya aku malah kedatangan tamu,” Amie minta pembalut pada tuan rumah, barusan dia merasakan ada cairan keluar dari organ intimnya.
“Kita ke kamarku aja yok. Ngobrol di sana,” Farah mengajak kedua iparnya sekalian Amie ganti pembalut.
***
Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.
Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ya.