
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
“Koq cepet jalan-jalannya?” tanya Amie pada Farah dan Putri yang mengembalikan tempat minum dan gelas yang mereka bawa sebagai bekal jalan-jalan tadi.
“Sudah hampir masuk waktu Dzuhur,” jawab Farah sambil mencuci peralatan yang dia bawa tadi. Farah memang sudah terbiasa bertindak demikian walau dia putri orang terkaya nomor tiga di Solo.
Dan Amie pun tak biasa basa basi. Dia tak melarang kakak iparnya melakukan pekerjaan itu. Dia anggap itu hal wajar.
“Ya sudah Mbak. Nanti sehabis selesai salat kita bersiap makan siang,” Amie membawa piring untuk diatur di meja makan.
“Kamu masak apa?” tanya Farah penasaran.
“Cuma bikin sambal matah ( bukan mentah ya ) Mbak. Tapi ada sambal tomat juga. Dilengkapi lalapan dari kebun aja,” sahut Amie.
“Pasti ada menu kejutan ‘kan?” desak Farah lagi.
“Ha ha ha, hanya ada tumis pare dan sayur bening kelor Mbak. Lauknya tempe dan tahu goreng aja,” Amie tetap tak memberitahu soal bebek bakar dari peternakan Wahyu.
“Tapi hidungku koq mencium sesuatu yang dibakar?” Farah tetap tak percaya.
“Mungkin ada yang bakar sampah Mbak,” goda Amie sambil nyengir.
“Aku salat dulu aja lah. Biar cepat makan,” Farah pun menyerah.
Sehabis salat semua siap makan siang. Saat semua sudah duduk mengelilingi meja makan, Amie datang membawa bebek bakar bumbu kecap yang masih panas dengan tersenyum manis.
“Ini bebek hasil peternakan Wahyu,” Putut memberitahu kalau hidang yang tersedia kembali hasil peternakan sendiri.
“Wah, benar-benar berkah ya. Enak sekali tinggal di desa,” Farah langsung melihat bebek bakar kesukaannya.
“Langsung makan aja *Honey*, jangan dipandangin aja tu bebek bakar,” Jhon menggoda istrinya.
“Ha ha ha … jangan buka rahasia Kak.” jawab Farah.
“Amie, lain kali kamu bisa bikin rendang bebek, opor, gule, sate atau jenis bumbu lainnya. Aku dan kak Jhon pernah makan juga yang dibikin rica-rica,” Farah memang seperti kamus kuliner.
Hobby Farhat sang ayah yang suka hunting tempat kuliner enak memang sangat berperan terhadap pengetahuan putri tunggal ( bukan anak tunggal ya ) dari pak Farhat ini.
Mereka makan dengan suka cita. Farah dan Putri juga bercerita keseruan mereka berkeliling desa.
“Jangan bosan menginap sini Mbak,” Amie pun menawarkan kedua iparnya untuk kembali datang menginap.
“Mana bisa kami bosan? Pemandangannya indah dan makanan di rumah ini sangat menggoda,” jawab Farah.
Putro senang Amie sudah sehat dan bisa akrab dengan Farah dan Putri.
“Andai bang Farouq dan bang Ilham bisa kesini pasti mereka senang,” Farah itu selalu memikirkan saudara dan kedua orang tuanya. Jadi ketika dia senang, selalu yang dia ingat kedua abang dan orang tuanya.
“Suatu saat begitu mereka datang dan bisa meluncur kesini, datang aja. Pasti ada ikan yang bisa dipanen koq,” Putut memberitahu Farah bila ingin membawa kakak-kakaknya datang berkunjung.
“Aku jadi kepikiran bikin rumah makan yang ikan dan sayurannya fresh langsung dari lokasi rumah makan,” Jhon menggulirkan wacana untuk membuka usaha kuliner.
“Nah keren tuh. Ayok bikin. Cari lokasi yang ramai. Nanti kolam hanya berisi ikan yang siap dikonsumsi saja. Pembesaran ikan biar disini,” Farah menyambut baik ide suaminya.
Sementara pasangan dokter hanya memandang kedua adik mereka.
\*\*\*
“Sedih rasanya harus pamit. Semoga kita bisa segera nginap sini lagi,” Putri pamit pada Amie dan Farah.
“Kalau pas libur langsung kesini enggak perlu janjian dengan yang lain Mbak. Seperti yang mas Putut bilang, kalau hanya untuk dua orang, ikan ditambak selalu ready diambil kapan saja."
"Enggak perlu nunggu waktu panen. Kalau yang sekarang di pas in sama panen kan biar tahu saat panen tambak aja,” Amie pun memberitahu kakak iparnya untuk datang kapan saja mereka ingin.
“Terlebih bila nanti ngidam, jangan tunda datang kesini bila memang ingin makan ditambak,” lanjut Amie lagi.
Semalam mereka bertiga cerita tentang masalah bayi di kehidupan rumah tangga mereka. Hanya Farah yang masih belum bebas untuk punya bayi karena status pernikahannya masih belum terbuka walau secara agama dan negara sudah resmi. Karena Jhon sudah mendaftarkan pernikahan mereka.
“Semoga kalian segera mendapat momongan,” Farah memberi doa yang tulus pada kedua iparnya itu.
“Aamiiiiiiiiiiiin,” sahut Putri dan Amie berbarengan.
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul TELL LAURA I LOVE HER itu ya.