
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
‘*Keponakan pertama on going*,’ balas Ragil.
‘*On going koyo novel on line wae mas @ragil*,’ balas Wahyu.
‘*Ra sah rame. Sing penting siapke kado*,’ balas Putut.
‘*Kado mah keciiiiiiiiiiiiiil*,’ sahut Putro.
\*\*\*
“Alhamdulillah semua beres,” Farhat memeluk erat istrinya.
“Jangan lupa tambah pasang CCTV di semua area Bi. Biar enggak kecolongan lagi,” istrinya mengingatkan suaminya tentang rencana mereka untuk menambah CCTV di setiap sudut kantor.
“Iya, besok Abi akan minta teknisi yang nomornya ada di AYA untuk bicara dengan Abi guna memasang disetiap titik.” sahut Farhat sambil bersiap untuk mandi sore.
“Beruntung AYA bertemu dengan Jhon ya Bi. Untung dia enggak nikah ama Farhan juga,” bu Basalamah flashback mengingat perjodohan yang suaminya buat dengan sahabatnya.
“Allah menyayangi kita, menggagalkan perjodohan Farah dan Farhan dan mempertemukannya dengan Jhon,” sahut Farhat sebelum masuk ke kamar mandi.
\*\*\*
Pagi ini Putut dan Amie sudah selesai sarapan, mereka bersiap untuk kontrol ke rumah sakit tempat Putro dirawat sekalian memeriksakan kehamilan Amie.
“Kartu pasiennya susah Mas? Surat kontrolnya?” Amie bertanya pada Putut. Takut surat kontrol Putut lupa tak terbawa.
“Ini Yank,” Putut memberikan amplop kontrol dan kartu pasien miliknya pada Amie agar dimasukkan ke tas istrinya.
“Ada lagi yang perlu kita bawa?” tanya Amie lagi.
“Sepertinya enggak. Dompet sudah Mas bawa,” jawab Putut.
“Yok. Bismillah kita berangkat,” Amie pun pamit pada bulek Irah dan mbok Pedes.
Dirumah sakit Putut sengaja mendaftar di poli kandungan terlebih dahulu. Nanti setelah dari memeriksakan Amie baru dia akan kontrol dirinya.
Hari masih pagi sehingga Amie mendapat nomor antrian 4. Saat ini dia sedang diminta untuk timbang berat badan dan ukur tensi sebelum nanti masuk ke ruang periksa.
“Selesai ya Bu, silakan Ibu tunggu kembali di luar nanti nama Ibu kami panggil,” sang perawat mempersilakan Amie duduk di ruang tunggu bersama pasien nomor 2 dan 3. Saat ini yang sedang diperiksa dokter baru pasien nomor 1.
Amie kembali duduk disamping suaminya. Dia menggenggam erat jemari suaminya.
Putut mengerti Amie agak sedikit nervous. Dia menciumi jemari Amie yang berada dalam genggamannya. “*Everything will be fine. Don’t worry*.”
Amie tersenyum. Dia bersyukur tanpa berkata-kata pun Putut mengerti apa yang ada dalam batinnya.
“Kita berdua akan jaga dia baik-baik. Kita akan selalu berpikir rasional dalam bertindak. Enggak perlu ingat kegagalan masa lalu,” Putut memeluk bahu Amie.
Putut tahu istrinya sedih mengingat anak pertamanya yang meninggal saat dia kecelakaan.
Amie dan Putut masuk. Putut menggunakan kruk, bukan dengan kursi roda. “Selamat pagi Ibu Rahmi, ada keluhan apa?” sapa dokter perempuan dengan ramah.
“Istri saya sudah terlambat menstruasi Dokter, dan kemarin kami mencoba dengan test pack, terlihat dua garis disana.” Putut yang menjawab pertanyaan dokter karena Amie masih sulit bicara. Putut menggenggam erat jemari istrinya yang dia pegang sangat dingin.
“Ibu Rahmi ingat kapan tanggal terakhir menstruasi?” tanya dokter lagi.
“Saya lupa tanggalnya Dok. Seingat saya harusnya minggu lalu saya dapat mens,” jawab Amie.
“Baik. Kita lihat saja ya, silakan Ibu berbaring dibantu suster,” dokter mempersilakan Amie berbaring di bed pemeriksaan.
Suster menutup kaki Amie sampai bawah pusar dengan selimut tipis dan mengangkat rok hingga seluruh bagian perut Amie terlihat untuk memudahkan pemeriksaan.
Tangan dokter meraba perut Ami dan sedikit menekan. Lalu dia mengoles gel dan meratakannya dengan alat. “Dari rabaan saya benar, ada janin di perut Ibu. Ini ya Pak calon bayi Bapak dan Ibu,” sang dokter memperlihatkan sebuah titik pada layar monitor.
Putut yang baru pertama kali melihat langsung janin di layar monitor tentu terharu. Dia mengecupi jemari Amie.
“Baik, calonnya baru berusia tiga minggu. Kita duduk lagi ya Bu,” dokter mempersilakan Amie kembali duduk ketika nanti sudah selesai dibersihkan perutnya oleh suster.
“Apa ini kehamilan pertama?” tanya dokter.
“Ini kehamilan kedua istri saya Dokter. Tapi bayi pertama keguguran karena istri saya kecelakaan,” Putut langsung menjawab agar dokter bisa membantu menghilangkan stress Amie.
“Boleh tahu usia kehamilan berapa ketika keguguran?” tanya dokter. Itu penting untuk info medis Amie. Karena mereka baru pertama kali periksa disini sehingga catatan medis Amie masih kosong.
“Berapa Yank?” tanya Putut lembut.
“Hampir sepuluh minggu Dok,” jawab Amie pelan.
“Ibu tidak boleh stress ya. Kalau Ibu stress perkembangan bayi akan terganggu. Ibu harus gembira menghadapi kehamilan kali ini,” tanpa diminta dokter sudah membuat Amie untuk optimis.
“Tuh Yank, semangat ya. Kita pasti bisa,” bisik Putut, tapi tetap didengar oleh sang dokter.
“Saya hanya beri vitamin saja ya. Juga penguat rahim. Karena sampai saat ini Ibu tidak mual. Kalau mual nanti obat ini boleh Ibu tebus."
"Sengaja saya pisah resepnya. Ditebus bila dibutuhkan saja,” dokter yang masih saja cantik itu memberi map catatan medis dan resep kepada suster untuk distempel.
“Terima kasih Dokter,” Putut menerima dua lembar foto USG calon bayi mereka
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul TELL LAURA I LOVE HER ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul TELL LAURA I LOVE HER itu ya.