THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
SUNTIKAN, CANGKUL DAN PESAWAT



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Hari ini sudah tiga bulan sejak pernikahan Putri dan Putro. Mereka bersiap untuk menjadi orang tua. Sejak menjelang menikah Putri memang suntik KB. Masa berlakunya adalah tiga bulan. Mereka memang sengaja melakukan hal itu untuk mencegah omongan orang yang membully Putri dengan sebutan menikah karena ada deposit lebih dulu. Sebab pernikahannya diadakan mendadak.



“Suntikan KB nya akan expired *Darl*,” bisik Putri saat mereka baru saja main suntik-suntikkan malam ini. 



“Ya enggak apa-apa. Siap ‘kan jadi Ibu?” tanya Putro sambil mendekap tubuh polos istrinya.



“Siap lah, kita sama-sama belajar jadi orang tua ya?” sahut Putri. Dia sangat kelelahan. Inginnya segera tertidur dalam dekap hangat suaminya.



“Siap Nyonya,” jawab Putro sambil mencium kening istrinya. “Bobo ya, besok kamu dinas pagi ‘kan?”



Tak lama Putri sudah terlelap, tapi tidak dengan Putro. Barusan dia menerima chat, kalau Putut sudah bisa keluar dari rumah sakit. Lalu semua berbalas chat di group pandawa lima itu. 



‘*Jaga kesehatan, puasa nyankul dulu sebelum kakimu sembuh*,’ goda Jhon pada Putut yan mengabarkan dia sudah tiba di rumah sore tadi.



‘*Enggak ada hubungannya tulang kering retak ama puasa. Cangkulku tetap bisa menggali koq*,’ jawab Putut.



‘*Hus … ada dua anak bawang di group ini, kondisikan jarimu jangan bahas masalah kasur*,’ tegur Putro.



‘*Menantu tuan Basalamah tu yang memulai*,’ Putut tentu tak mau disalahkan.



‘*Wajar dia seperti itu, karena pesawatnya belum bisa landing. Entah apa yang ditunggu*,’ sekarang malah Putro yang ‘nakal’ membahas masalah orang dewasa.



‘*Apa landasan pacu belum siap*?’ tanya Putut.



Mereka bertiga memang beda profesi. Itu sebabnya istilah mereka pun berbeda.



Putro yang dokter bilang main suntikan. Putut yang petani bilang mencangkul sawah. Dan Jhon yang pilot disebut pesawat dan landing. 



‘*Jangan merusak kami*,’ chat Ragil masuk.



‘*Ha ha ha ha … ada anak balita*,’ sahut Jhon.



‘*Landasan pacu kenapa*?’ tanya Putut penasaran. Jhon kan menikah sudah cukup lama, koq belum melakukan kegiatan suami istri. Kalau dirinya wajar, karena dia menunggu kesadaran Amie.



‘*Pilot belum berani mendaratkan pesawatnya*,’ balas Putro mengejek Jhon yang masih memberi kesempatan pada Farah agar merasa nyaman dulu.



‘*Jangan berisik, adek balita mau bobo*,’ Wahyu ikut nimbrung. 



‘*Siap-siap ya, suntikan KB bojoku sudah expired. Sebentar lagi kalian akan punya keponakan*,’ Putro memberitahu tentang kemungkinan kehamilan Putri.



‘*Belum tentu tokcer*,’ goda Ragil.



‘*Eh … jadi selama ini dengan suntik*?’ tanya Jhon berbarengan dengan chat Ragil.



‘*Iya … sebelum malam pertama*,’ balas Putro. Itu membuat Jhon punya wawasan. 



Jhon selama ini takut mendekati Farah karena status pernikahan mereka yang belum go publik. Dia tak ingin Farah hamil sebelum itu. Dia tak ingin istrinya tercoreng malu dibilang hamil lebih dahulu. 



\*\*\* 



Jhon dan pak Farhat baru pulang dari masjid. Tadi Jhon sengaja menemani mertuanya jalan pagi. Sebagai olah raga mertuanya. Mereka duduk di teras sambil menikmati kopi dan pisang rebus. “Abi, ayok sarapan,” ajak Farah.



“*Babe*, hari ini ada jadwal keluar enggak?” tanya Farah saat Farhat sudah masuk ke ruang makan terlebih dahulu. 



“Enggak, paling ngantar istri kerja,” jawab Jhon sambil memeluk pinggang istrinya.



“Istrinya kolokan ya, harus diantar jemput,” goda Farah.



“Dia sih mandiri, hanya aku aja yang posesif. Aku takut istri cantikku digondol orang,” balas Jhon.



“Istrimu sekelas ikan asin ya? Bisa digondol seperti kucing atau tikus yang ngegondol makanannya,” Farah terkekeh mendengar kata-katanya sendiri.



“Istriku sekelas Nawang Wulan yang dicuri Jaka Tarub,” sahut Jhon. Nawang Wulan adalah cerita bidadari yang tengah mandi di danau sebuah hutan. Lalu selendangnya dicuri seorang pencari kayu sehingga tidak bisa kembali ke kahyangan.



“*Honey*, bisa bicara?” tanya Jhon selesai mereka sarapan dan Farah sedang bersiap untuk berangkat kerja.



“Kenapa Hubby?” tanya Farah dan langsung mengarahkan pandangannya pada suaminya.



“Apa kamu belum siap menjadi istriku?” tanya Jhon. Farah yang mendapat pertanyaan itu menjadi gugup. Dia kira Jhon lah yang belum mau menyentuhnya.



“Bukannya Kakak yang enggak mau kita melakukannya?” tanya Farah. Dia tahu sebagai pasangan suami istri mereka harus terbuka dalam hal apa pun. 



“Aku pikir kamu yang menghindar. Jadi kita berdua sama-sama salah duga?” tanya Jhon memastikan.



“Aku sadar statusku *Babe*. Sebagai istri aku wajib memberikan hak suamiku,” balas Farah.



“Kalau begitu bagaimana kalau pagi ini kita ke rumah sakit untuk suntik KB? Jadi aku enggak khawatir." 



"Jujur aku takut kamu hamil sebelum go publik. Itu alasanku ragu menyentuhmu. Aku enggak mau nama baikmu dan nama baik Abi rusak karena kehamilanmu,” Jhon akhirnya mengusulkan kontrasepsi yang menjadi alternatif pilihannya.



“Mengapa tidak dengan pil saja?” tanya Farah.



“Aku takut kita lupa, sehingga bisa kebobolan. Putri pakai suntik. Semalam aku sudah tanya mas Putro. Dia pakai yang periode tiga bulan,” lanjut Jhon.



Akhirnya mereka sepakat ke rumah sakit terlebih dahulu sebelum ke kantor.


\*\*\* 



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1674292813302.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNREQUITED LOVE itu ya.