
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
“Ya hallo,” sapa Farah.
“Makan bareng dengan Abi ya,” Farhat mengajak putrinya untuk makan siang bersama.
“Iya Bi, nanti AYA ke ruangan Abi,” jawab Farah. Dia masih penasaran dengan solusi perbaikan untuk berkasnya.
“Mau makan di mana?” tanya Farhat. Jangan aneh kalau melihat mereka makan di tenda kaki lima atau rumah makan kecil. Karena Farhat dan istrinya senang mengikuti kesukaan anak mereka.
Sejak anak-anak masih kecil, mereka sering makan dengan teman-temannya. Bila dirasa enak, sang anak akan mengajak kedua orang tuanya untuk makan di sana. Sehingga bagi Farhat dan istrinya, makan di lesehan kaki lima hal yang biasa.
“Soto gentong atau sate buntel ya Bi?” tanya Farah bingung akan keinginannya siang ini.
“Sate aja ya, yang depan stasiun Purwosari aja gimana?” tanya Farhat.
“Ok, siapa takut?” jawab Farah. Maka motor pun diarahkan ke stasiun. Mereka memang keluar kantor menggunakan motor Farah. Konglomerat dengan aneka mobil termahal di garasinya makan di warung depan stasiun menggunakan motor saja.
Itulah gaya hidup Farhat dan keluarganya. Farah anaknya ke kantor milik abinya tetap menggunakan motor. Walau dia sudah dibelikan mobil sport warna kuning dihari ulang tahunnya dua tahun lalu. Namun mobil itu jarang dia gunakan. Dia bilang enggak praktis!
“Kamu kemarin sudah jadi diukur badan untuk acara nikahnya anak Lesmana, siapa itu, Abi lupa namanya?” tanya Farhat sambil mengunyah makan siangnya.
“Wiwied Bi. Sudah, entah aku dapat pasangan siapa. Sepertinya sepupu mas Putro yang tinggal di Jogja. Anak baru kuliah semester dua kayaknya,” sahut Farah sambil menggigit kerupuknya. Dia menambahkan acar dipiring nasinya.
“Kenapa tidak dengan adiknya Putro yang menolongmu di kereta?” pancing Farhat.
“Kak Jhon ‘kan pagar bagus untuk keluarga. Seragamnya beda dengan seragam yang umum Bi. Adik atau kakak pengantin ‘kan pakai seragam keluarga inti,” Farah menjelaskan mengapa dia tak berpasangan dengan Jhon.
“Oh iya Abi lupa. Dia pakai seragam keluarga inti. Dia pilot?” kembali Farhat memancing.
“Sepertinya begitu. AYA enggak tahu detailnya. Kami baru bertemu tiga kali sejak di kereta. Lalu pertemuan ke empat pas lamaran Wiwied. Pas AYA kenalin ke Abi,” Farah menjelaskan keingin tahuan abinya tentang sosok Jhon.
“Abi kira kalian sudah sering ngobrol,” Farhat menyampaikan apa yang dia perkirakan.
“Enggak Bi. Dia seperti Mas Putro. Orangnya kaku dan dingin. Tidak mau ngobrol dengan perempuan kecuali orang yang dia suka. Mas Putro langsung mengajak Wiwied menikah padahal baru kenal dua minggu. Lalu pas lamaran kemarin itu mereka baru kenal satu bulan,” ucapan Farah membuat Farhat terkejut.
“Apa? Mereka baru kenal satu bulan?” Farhat tak percaya Lesmana bisa memebrikan izin untuk putri semata wayangnya pada sosok yang putrinya baru kenal. Farhat yakin Lesmana sudah menyelidiki latar belakang calon menantunya itu. Farhat akan bertanya pada Lesmana.
“Iya Bi. Mas Putro sejak dulu tidak mau kenal gadis. Begitu kenal langsung mengajak menikah. Itu yang membuat Wiwied awalnya ragu.” Farah menjelaskan bagaimana sahabatnya itu meyakinkan dirinya sendiri menerima pinangan Putro.
‘Andai pria muda itu ( Jhon maksudnya ) melamar anakku, tanpa pikir panjang aku akan menerimanya. Aku dengar dari Lesmana, calon besannya memang bukan dari kalangan bisnis dan kaya. Tapi agama dan tingkah laku mereka baik dan bersih. Cukup itu yang sekarang menjadi pertimbanganku mencari jodoh untuk anakku,’ Farhat membatin. Dia memutuskan akan senang menerima Jhon bila lelaki itu melamar Farah putrinya.
***
Sehabis makan siang Farah kembali tekun berjibaku dengan berkas yang Indra minta untuk direvisi. Jangan asal tahu salah saja. Dia mencoba beberapa cara, entah mana nanti yang fix akan dia serahkan pada Indra. Yang penting saat ini semua variabel dia coba.
“Mbak, bisa minta coffee carabian nut dingin?” Farah menghubungi office girl yang biasa membantunya via intercom. Dia butuh penyegar.
“Baik Bu Farah,” sahut sang office girl.
“Sudah berapa kali aku bilang jangan panggil BU?” tanpa menunggu jawaban Farah langsung meletakkan gagang telepon.
‘Ah, aku selalu lupaaaaa,’ keluh sang office girl. Dia merasa tak enak menyebut anak pemilik perusahaan langsung dengan nama atau mbak saja. Dia segera membuatkan kopi dingin yang diminta nona majikannya.
‘Kak, bisa minta nomor ponsel Wahyu?’ Farah mengirim chat pada Jhon. Dia ingin berkenalan dengan calon pasangannya dipernikahan Wiwied minggu depan.
‘Kak?’ sehabis salat isya kembali Farah mengirim pesan pada Jhon.
Sampai Farah pergi tidur pesan itu belum dibuka oleh Jhon karena dia belum mendarat di negara tujuan. Tengah malam waktu Indonesia atau siang waktu negara tempat Jhon landing, dia baru membaca pesan yang dikirim Farah sepuluh jam yang lalu.
‘Maaf, Kakak baru buka ponsel. Harusnya kamu minta Putri biar dia menanyakan pada Putro bila kamu butuh mendesak. Kalau kamu tanya ke kakak ya harus sabar karena kadang kita berbeda waktu,’ panjang lebar Jhon menjawab.
Lalu dia kirim kontak Wahyu pada Farah. Selanjutnya dia bersiap makan siang dengan team nya. Farah yang sedang terbuai mimpi tentu tidak tahu Jhon menjawab pesannya.
‘Maaf kalau mengganggu, iya nanti-nanti enggak akan tanya-tanya lagi,’ jawab Farah yang sedang sarapan. Dia sedang kedatangan tamu rutin bulanan maka sangat sensitive. PMS kalau istilah kerennya.
‘Never mind,’ balas Jhon yang tak peka kalau Farah tersinggung padanya. Apa yang salah sehingga bikin tersinggung?
***
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL TELL LAURA I LOVE HER YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL TELL LAURA I LOVE HER ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta