
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
“Mas, kita berangkat ikut konvoi atau berangkat sendiri?” tanya Putri pada suaminya. Mereka sedang di mobil menuju rumah sakit tempat mereka bekerja.
“Kamu maunya gimana?” tanya Putro bijaksana. Dia tak ingin ambil keputusan tanpa melibatkan istrinya.
“Aku sih terserah Mas aja. Karena Farah berangkat siang sehabis salat Jumat. Dia sore harus menjemput para abangnya yang langsung turun ke Jogja,” Putri memberitahu jadwal berangkat Jhon dan Farah.
“Kalau begitu kita ikut konvoi aja asal jangan satu mobil dengan mama papa. Biar pulangnya kita bisa bebas tentukan kapan atau mau mampir kemana,” jawab Putro.
“Baiklah, aku juga setuju,” sahut Putri lega. Dia memang tak ingin satu mobil dengan papa dan mamanya.
“Jadi Ilham dan Farouq beneran jadi ikutan liburan?” tanya Putro tak yakin.
“Iya, mereka ngiri saat Farah cerita keseruan kita bakar ikan hasil panen di tambak. Jadi pas Farah bilang bulan ini abinya juga akan ikut bebakaran, mereka langsung janji ingin ikut,” celoteh Putri.
“Wah tambah seru nih pasukan jomlonya,” Putro senang berkumpul dengan Farouq dan Ilham.
“Kita bikin acara seru-seruan yok,” usul Putri.
“Tanpa acara seru-seruan, acara yang kemaren kita bikin aja udah seru ‘kan?” sahut Putro sambil mengambil snellinya. Mereka telah tiba di rumah sakit.
Mereka turun dan bersiap berpisah arah. Akan bertemu lagi jam makan siang, itu pun bila Putri sempat datang ke poli gigi. Bila tidak ya mereka bertemu saat akan pulang.
\*\*\*
Farah dan Jhon menunggu di gerai donut di bandara. Pesawat yang ditumpangi Farouq dan Ilham baru akan tiba satu jam lagi. ‘*Kami di dunkinn ya*,’ tak mau repot Farah mengirim pesan untuk kedua abangnya.
Seperti biasa Farah memesan hot milk choco. Dan Jhon memilih kopi, mereka juga memesan beberapa donut serta juga membeli mini donut dalam jumlah banyak untuk dibawa ke Cangkringan. Tak ada beban menunggu karena sedang bersama orang terkasih.
Saat ini mereka sedang membicarakan rencana pernikahan yang sengaja mereka serahkan pada kemauan orang tua. Tadi pagi saat Farah bertanya, Jhon bilang biarkan orang tua merasa puas karena bisa tuntas ngragati ( mengurus ) anak hingga tuntas.
Orang tua tentu akan kecewa bila tidak boleh menyelenggarakan pernikahan anaknya.
Jhon melihat kekecewaan ibunya saat Putro menikah. Dan juga melihat kebahagiaan ibunya ketika mengurus pernikahan Amie dengan Angga dan sekarang Amie dengan Putut.
“Jadi kita beli serah-serahan dan cincin aja By?” Farah bertanya untuk memastikan.
“Iya, kita beli serah-serahannya, lalu kita bawa ke jasa perangkai serah-serahan biar mereka yang bikin cantik,” jawab Jhon.
“Soal souvenir gimana By?” tanya Farah.
“Eh iya, itu bisa kita yang urus Babe. Orang tua urusannya makanan, gedung dan pakaian aja. Gimana?” Jhon meminta pendapat istrinya.
“Iya. Nanti aku akan bilang sama Umi. Soal seserahan dan souvenir kita yang urus.” jawab Farah sambil mengunyah donutnya.
“Itu perlu kita bicarakan dengan Abi deh. Juga pembentukkan panitia nya,” jawab Farah. Dia melihat ponselnya ada jawaban dari Farouq.
“Ternyata mereka sudah landing,” Farah memberitahu Jhon kedua abangnya sudah tiba.
“Biar mereka duduk dulu. Siapa tahu mereka mau ngopi,” jawab Jhon.
\*\*\*
Putut dan Amie baru pulang mengecek lokasi bebakaran. Putut baru meminta dibawakan beberapa bale ( dipan atau amben ) untuk duduk para tamu besok.
Putut meminta jumlah arang diperhatikan agar besok tidak kekurangan. Tadi pagi Amie dan bu Tiwi sudah belanja aneka bumbu dan bahan yang hendak mereka olah besok.
Akhirnya Amie dan bu Tiwi sepakat menu di rumah belakang dan rumah depan disamakan saja. Yang past menu tumis genjer dan pecel kembang kecombrang tak terlupakan. Itu menu wajib pesan Farah.
“Bawang bombay butuh enggak?” tanya but Tiwi tadi pagi.
“Beli aja Bu. Takutnya bu Basalamah butuh untuk gurame asem manis,” jawab Amie. Dan sore ini Putut mengecek gurame yang akan dimasak asem manis itu.
“Besar-besar koq Mas. Gurame malah sudah telat seminggu jadi ukuran lebih besar dari yang biasa kita jual,” demikian penjaga tambak memberitahu Putut.
“Baguslah. *Ora ngisin-ngisini*,” balas Putut sambil tersenyum. \[ ora ngisin-ngisini \= tidak malu-maluin\].
Malam ini tamu akan datang. Namun tak ada yang akan makan malam disini karena mereka sudah memberitahu akan makan malam sebelum menuju Cangkringan.
Maka Amie hanya menyiapkan teh sereh jahe dengan gula batu saja untuk minuman para tamu. Sedang snacknya adalah jadah bakar dengan serundeng pedas manis dan risol ragout.
“Mie, Ibu ada pisang kepok, mau digoreng atau dikukus?” tanya bu Tiwi.
“Enaknya di kukus Bu. Jadi pas, ada yang dibakar, ada yang digoreng dan ada yang dikukus,” jawab Amie sambil membersihkan sereh.
“Oh beneeeer. Lagi ibumu senangnya yo pisang kukus. Bukan pisang goreng,” jawab bu Tiwi.
Yang dimaksud IBUMU oleh Tiwi adalah bude Diah, karena perempuan itu kan ibu angkat Amie.
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita BARU karya yanktie dengan judul JINGGA DARI TIMUR ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul JINGGA DARI TIMUR itu ya.