THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
MULUT TEMAN MEMBAWA TRAGEDY



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Nanti Mas salat Jumat, kamu sama ibu dulu ya Yank. Jangan duduk sendirian!” perintah Putut pada istrinya.


‘Dijaga? Kenapa?’ Farah jadi tertarik mengapa Amie harus dijaga. ‘Apa dia sedang hamil?’ Farah berpikir mengapa Amie harus dijaga.


“Atau sama ibuku aja Mas,” Ragil menyarankan Putut.


“Enggaklah. Bude Diah super sibuk. Bisa kapiran bojoku,” jawab Putut yang menolak menitipkan Amie pada ibunya Jhon. Karena dia tahu bude Diah sebagai ibu mempelai pasti banyak tamu. Dia bilang istrinya bisa terlantar atau terlupakan ( kapiran ).


“He he, bener. Ibu pasti sibuk,” Jhon membenarkan pendapat Putut.


***


Sepulang dari masjid Putut melihat Amie sedang duduk dengan ibunya, bu Diah dan Putri yang sudah berganti pakaian. Mereka sedang asyik maka Putut tak jadi menghampiri. Dia cukup mengawasi dari jauh saja.


Putut langsung duduk dengan Jhon dan Ragil. Wahyu entah kemana. Tetiba Putut mendengar ibu, bude Diah dan Putri teriak memanggil nama istrinya.


“Amieeeeeeeeeeeeeeeee … sadar Nak… Amie …!”


“Apa yang terjadi?” tanya Putut saat sudah berada disisi istrinya.


“Bawa ke dalam aja,” Putri meminta Putut membawa Amie ke kamar depan di lantai bawah yang biasa digunakan untuk menerima tamu.


“Panggil mas Widyo,” pinta Putri pada suaminya yang baru masuk kamar itu. Dan Putro segera berlari mencari kakak sepupu istrinya yang menjadi dokter pribadi Amie.


“Ada cologne atau minyak kayu putih?” tanya Putut. Dia menciumi wajah Amie dengan meneteskan air mata. Putut tak siap bila Amie kembali drop seperti setahun lalu.


Putri baru mau keluar mencari apa yang diminta Putut saat mertuanya masuk membawa sebotol minyak kayu putih.


“Yank, bangun. Mas enggak mau kamu kayak gini. Bangun Yank!” bisik Putut dengan sedikit terisak. Putri dan bu Diah ikut meneteskan air mata melihat betapa Putut sangat mencintai Amie.


“Tadi awalnya bagaimana?” tanya Widyo yang sudah memeriksa Amie dan memberi suntikan. Untung Widyo membawa tas kerjanya di mobil sehingga ada sedikit obat yang dia bawa.


Amie, bu Diah, bu Tiwi dan Putri sedang asyik berbincang. Karena ada Amie mereka bertiga tahu pokok pembahasan tidak boleh yang bisa memicu trauma pada  ingatan Amie. Maka mereka berbincang tentang masakan dan menggoda Wiwied agar belajar masak untuk memanjakan perut suaminya.


“Putro enggak rewel koq. Dia penyuka segala jenis makanan dan enggak ada pantangan,” bu Diah memberitahu menantunya soal kebiasaan putra sulungnya.


 “Podo karo Putut. Enggak rewel ma'em e,” jawab bu Tiwi.


“Amie … ini Amie ‘kan?” tetiba seorang gadis manis mendatangi Amie dan memeluknya.


“Maaf ya waktu Angga suamimu meninggal aku pas enggak bisa datang karena sedang ke Jakarta. Aku turut berduka atas meninggalnya Angga dan calon bayi kalian.”


“Angga? Bayi? Angga?”


GUBRAKKKK!!


“Amieeeeeeeee!” hampir berbarengan Putri, bu Diah dan bu Tiwi berteriak melihat Amie jatuh pingsan.


FLASH BACK OFF  


Tak ada yang mengira hal itu bakal terjadi. Sang teman di kampus juga tidak tahu kalau Amie mengalami trauma sejak meninggalnya Angga. Sekarang mereka hanya bisa berharap Amie tidak kembali seperti satu tahun lalu.


“Kita tunggu dia sadar. Sebaiknya selain Putut, yang lain keluar saja,” Widyo menyarankan semua keluar agar Amie bisa rehat.


“Apa dia akan kembali seperti awal trauma lalu?” tanya Putut di luar ruangan. Putut yakin Amie belum akan segera sadar sehingga dia berani meninggalkannya di kamar sendirian.


\===========================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta