
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
“Bagaimana kalau saya usul, keluarga kita semua menjadi keluarga besar? Dan kita adakan pertemuan tiga bulan sekali. Tempat pertemuan bisa kita gilir tak harus disini,” Farhat orang tiga terkaya di Solo memberi wacana semua untuk menjadi keluarga besarnya. Siapa yang akan menolak?
“Boleh juga. Kita semakin banyak saudara dan juga kita bisa refreshing dari kegiatan rutin yang bikin jenuh,” Lesmana menyambut gayung yang Farhat ulurkan.
Lesmana juga suka kegiatan seperti ini. Murah dan tidak membosankan. Tak perlu liburan keluar negeri. Lebih bagus seperti ini kumpul dengan semua orang.
“Pertemuaan berikut, aku akan ajak anak dan menantuku untuk ikut berkumpul,” lanjut Lesmana lagi. Memang yang tidak lengkap anaknya kali ini hanya dirinya.
“Saya juga sangat setuju. Anak kita jadi banyak. Semua harus panggil saya Umi dan ke yang lain juga ngikutin anak kandungnya,” bu Basalamah tentu saja suka, dia memang type ibu yang suka banyak anak.
Kalau dua pentolan itu sudah setuju, apa pak Cokro dan pak Siswojo bisa komplain? Tentu saja mereka senang. Karena dua orang kaya itu tak pernah memandang orang dari harta benda yang dimiliki.
Mereka akhirnya membahas pertemuan tiga bulan lagi yang rencananya akan diadakan di rumah keluarga Lesmana.
Hampir sore, mereka segera kembali ke base camp. Semua merasa senang dan puas akan hidangan dan suasana pertemuan kali ini. Sehabis salat ashar bu Tiwi dan Amie mengeluarkan getuk dan ubi rebus sebagai teman minum teh dan kopi sore. Makanan desa yang selalu terasa nikmat bagi orang yang mengerti akan syukur.
“Aku lagi kangen srawut Mbak,” bu Diah memberi tahu bu Tiwi.
“Wah enak itu,” sahut bu Lesmana.
“Besok pagi akan aku buatkan, kebetulan masih ada singkong panen kemarin. Baru sebagian dibikin getuk. Yang belum diolah besok bisa dibikin itu.” bu Tiwi pun meminta bulek Harti untuk menghidangkan srawut esok pagi.
“Besok, saya tidak akan mbungkusi sayuran hasil panen. Saya hanya akan menyediakan dimeja dapur, juga plastik dan tempat untuk membungkus lainnya semisal keranjang. Semua monggo ambil sendiri-sendiri. Karena kalau saya bungkusi, takutnya enggak suka. Jadi lebih baik bungkus sesuai selera saja,” Bu Tiwi memberitahu tiga ibu yang hadir untuk self service masalah oleh-oleh besok.
“Saya apa sih yang enggak mau?” tanya bu Basalamah tanpa malu. Dia memang tak perlu jaim walau uangnya tak terhitung.
Tiba waktunya makan malam. Lauk sederhana pesanan Farah bulan lalu benar dihidangkan oleh bu Tiwi. Menu utama makan malam kali ini adalah tumis bunga genjer yang dipadukan dengan goreng ikan sisa panen tadi, bebek bakar juga sisa siang karena semua lebih suka dengan ikan bakar. Tentu tak lupa tempe garit.

Tempe garit sebenarnya tempe biasa. Saat pembuatannya dibungkus kecil-kecil berbentuk segitiga atau persegi panjang kecil. Bukan panjang besar. Saat akan digoreng agar bumbu meresap biasanya diberi goresan ( garit ) agar bumbu meresap.
“Umi sampe keimpi-impi tumis bunga genjer ini. Karena bila tak musim juga enggak ada. Dan dipasar sekitar rumah enggak pernah ada yang jual.” nyonya konglomerat yang biasa makan diwarung kecil ini lepas saja mengatakan apa yang ada dalam pikirannya.
Kalau bicara makan steak, atau makanan lain dari daging atau bahkan telur ikan ( caviar ) yang super mahal, mereka tak terlalu menggebu. Tapi kalau makanan merakyat, keluarga Basalamah memang hunter handal.
“Sudah enggak usah kelamaan diskusi, cepat eksekusi aja,” pak Farhat sudah tak sabaran mencicipi bunga genjer kali ini.
“Ha ha ha … beneeer. Ayok kita serbu aja makanan sederhana ini,” pak Cokro mempersilakan semua langsung makan saja.
“Wah super enak bunga genjernya. Nikmaaat banget makan hanya dengan lauk kerupuk,” pak Lesmana pun memuji sayur wong ndeso itu.
“Iyaaaa, enaak hanya dengan kerupuk tapi itu ikan gorengnya banyak banget,” sindir istrinya.
“Itu hanya bonusnya Ma,” tampik pak Lesmana sambil kembali mengambil sayur tumis bunga genjer lagi.
Seperti biasa para jomlowan hanya serius pada makanan saja. Kecuali Farouq yang sesekali masih memegang cameranya untuk mengambil momen bahagia itu.
“Beneran enak ‘kan Bang?” Farah meminta pendapat Ilham yang duduk disebelahnya.
“Super enak Dek. Sejak makan pagi tadi, enggak ada yang enggak enak,” Ilham setuju dengan pendapat adik bungsunya itu.
Ilham bersyukur Farah mencetuskan pertemuan kali ini. Dan dia merasa beruntung karena berinisiatif ikut hadir kali ini. Kalau enggak ikut, dia kehilangan momen bahagia.
“Mau nambah Mas?” tanya Putri pada suaminya. Sejak tadi dia lupa tidak mendahulukan mengambilkan nasi dan lauk untuk suaminya. Dia baru sadar saat melihat Farah selalu meladeni Jhon. Bahkan air putih untuk Jhon saja Farah yang ambilkan. Sejak tadi dia memang melihat Amie selalu mengambilkan nasi, lauk dan minum untuk Putut. Tapi dia berpikir Amie bertindak seperti itu karena Putut sedang sakit.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNCOMPLETED STORY itu ya.