
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Merasa ada yang membelai, Amie menepisnya, lalu dia kembali tidur.
'*He he he. Lucunya kamu Yank. Aku jadi ingat saat kamu ngambeg dan belum mau bicara dulu. Persis seperti ini tidurmu kala itu*,' Putut terkekeh dalam hati dan mengingat saat Amie ngambeg dulu.
Putut sadar, saat mengalaminya ada rasa sedih dan putus asa. Tapi sekarang semua jadi kenangan indah cerita hidupnya. Cerita dia mewujudkan cinta kasihnya untuk Amie.
\*\*\*
Pagi itu Putut tak bangun seperti biasa, dia merasa lemah. Tadi saat salat subuh dia hampir jatuh. Dia langsung berbaring dan mengirim pesan pada ibu dan Wahyu. Takutnya mereka tak tahu kondisinya. ‘*Tolong katakan pada Amie aku sakit*.’
“Nang opo Nang?” bu Tiwi langsung meraba kening anaknya, juga lehernya. Dia merasa suhu tubuh Putut memang panas lebih tinggi dari suhu orang normal. Dia menyiapkan roti isi selai dan teh panas agar Putut bisa segera meminum penurun demam sebagai obat pertama.
“Sakit Bu untuk nelan,” keluh Putut. Dia merasakan semua makanan terasa pahit.
“*Yo ganjel sik*, kamu harus isi sedikit biar bisa minum obat,” bujuk bu Tiwi. Memang diantara ketiga anaknya, sejak kecil Putut paling rewel jika sakit.
Wahyu yang membaca pesan sang kakak langsung ke rumah belakang. Dia memberitahu perawat Amie kalau Putut sakit dan tak akan datang ke rumah Amie. Wahyu tak berpikir kalau dia diminta memberitahu Amie secara langsung. Bukan memberitahu perawatnya Amie.
Amie yang tidak ditengok Putut sejak pagi mulai resah. Dia mencari dalam diam. Hanya terlihat dia sebentar-sebentar menggoyangkan tubuhnya seakan tidak betah duduk. Hal ini tidak disadari oleh perawat yang sedang menemaninya.
Puncaknya Amie mendorong piring makan dan lauk yang ada di meja. Dia buang semuanya. Tentu saja membuat bulek perawat sadar kalau dia belum memberitahu perihal sakitnya Putut pada Amie. Sayang semua terlambat. Amie sudah histeris.
“Mbak Amie ngamuk Mas,” perawat lapor kepada Putut. Tapi dia malah mendengar bu Tiwi yang menjawab panggilan teleponnya.
“Kenapa Mbak?” tanya bu Tiwi. Seharusnya dia bukan memanggil mbak, tapi untuk sopan santun, panggilan itu tetap dia gunakan.
“Oh maaf Bu, mbak Amie ngamuk. Saya lupa memberitahu kalau mas Putut sakit. Tadi mas Wahyu sudah memberitahu saya, tapi saya lupa tidak menyampaikan ke mbak Amie,” lapor bulek perawat.
“Wahyu, kamu bawa Amie ke sini, minta ke bulek perawat suruh bawa obatnya juga, biar dia lihat masmu lagi sakit,” bu Tiwi segera memerintah Wahyu yang baru bersiap menambahkan sayur ke piring nasinya.
“Sssttt … mas Putut sakit, kita lihat mas Putut ya,” dengan lembut Wahyu memegangi Amie yang sedang marah. Dia bisiki kalau Putut sakit. Amie mendengarnya dan dia langsung menangis.
“Kita lihat ke rumah yok, jangan nangis,” ajak Wahyu. Mbok Pedes pun langsung membersihkan rumah dari nasi dan lauk yang berserakan bercampur dengan pecahan beling piring dan gelas yang dibuang Amie.
Wahyu dan bu Tiwi mengajak Amie mendatangi kamar Putut. Di ranjang Putut masih terlelap. Dia sudah disuntik dan minum obat, tadi dokter datang untuk memeriksanya. Bu Tiwi menuntun Amie dan mendudukkannya di ranjang. Dia biarkan Amie duduk di sana dan dia letakkan telapak kanan Amie ke pipi Putut. Lalu dia tinggal keduanya di kamar.
Putut merasa ada telapak dingin di pipinya, dia membuka matanya. Samar di lihatnya istrinya duduk di tepi ranjang. “Kamu koq ada di sini?” tanya Putut lemah.
Putut berupaya bangkit untuk duduk tapi sulit karena masih sangat lemah. Dirasanya jemari Amie mengelus pipinya pelan. Karena tak bisa bangkit maka Putut menarik tubuh Amie agar berbaring di dadanya. Kaki masih di bawah, tapi separo tubuh Amie berbaring di dada Putut. Putut hanya bisa menciumi puncak kepala Amie dan mengusap lembut pipi Amie yang masih ada jejak air mata.
“Kenapa nangis?” bisik Putut sambil menghapus sisa air mata di sudut mata istrinya.
“Mas enggak ke belakang karena Mas sakit. Apa kamu rewel karena Mas enggak datang? Makanya kamu bicara, kamu tanya ke mana Mas. Bukan hanya diam aja.” Putut terus membelai pipi dan rambut Amie sampai bu Tiwi masuk kamar itu.
“Dia belum maem Mas, dia ngamuk karena si bulek lupa kasih tau kamu sakit,” bu Tiwi mengantar bubur ayam hangat untuk Putut dan bulek masuk membawa makan untuk Amie.
“Aku bilang ke Wahyu ‘kan suruh langsung kabari Amie, bukan ke bulek,” Putut tentu saja protes karena pesannya salah diterapkan oleh Wahyu.
Putut sadar, jadi ada dua kesalahan. Kesalahan pertama Wahyu tidak langsung memberitahu Amie, malah memberitahu bulek. Kesalahan kedua bulek lupa memberi tahu pesan dari Wahyu.
Bu Tiwi membantu Putut duduk dengan ganjal bantal. “Kamu suapi Mas mu ya?” bisik bu Tiwi pada Amie.
“Kasihan Mas mu sakit.” Sengaja bu Tiwi mengajuk hati Amie agar tergerak mendengar Putut sakit.
Tanpa diduga, Amie menganggukkan kepala. Bulek, bu Tiwi dan Putut sampai tak percaya. “Ya sudah. Ini bubur Mas mu. Suapi sampai habis biar Mas cepat sembuh ya?”
Tanpa berkedip Putut terus memandangi istrinya yang tanpa ekspresi bisa menyuapinya. Amie hanya memandang mangkok bubur lalu mulutnya saja.
“Cukup, aku sudah kenyang,” Putut berkata lirih. Namun Amie menjawab dengan gelengan dan tetap menyodorkan sendok ke mulut Putut.
“RA, Mas mau maem lagi kalau kamu bicara dan minta Mas maem. Kalau kamu enggak bicara, Mas enggak mau maem lagi. Sudah kenyang,” bujuk Putut.
“Aaa …,” Amie meminta Putut membuka mulutnya dengan menyebut ‘Aaaa’ untuk meminta Putut buka mulut.
Tentu saja sesuai janji Putut membuka mulutnya dan menghabiskan porsi bubur yang disiapkan ibunya.
Bu Tiwi yang duduk di kursi dekat ranjang hanya bisa meneteskan air mata melihat interaksi anak dan menantunya. Dia bersyukur, sakitnya Putut bisa merangsang interaksi Amie dan Putut lebih baik.
“Sini, piringnya, nih kamu kasih Mas mu minum ya,” bu Tiwi mengambil mangkok yang sudah kosong dan mengganti dengan gelas berisi air putih.
Bu Tiwi mengambilkan obat dan memberikan langsung pada Putut.
“Sekarang kamu maem ya, kamu belum maem ‘kan?” sekarang Putut yang menyuruh Amie untuk makan siang.
Bulek perawat membantu Amie pindah ke meja belajar di kamar Putut dan mempersilakan Amie makan. Sudah hampir seminggu Amie bisa makan sendiri asal jangan lauk ikan. Karena takut ada durinya.
“Habiskan ya, habis itu bobo sini sama Mas,” Putut meminta Amie menghabiskan makannya. Lalu dia sendiri langsung tidur karena pengaruh obat.
Bu Tiwi melihat dari luar kamar, Amie bingung sendiri sehabis makan.
“Kamu bobo aja di samping mas Putut,” bu Tiwi kasihan pada Amie, dia menghampiri perempuan itu dan membantunya agar berbaring di sebelah Putut.
Setelah Amie berbaring baru dia keluar dan menutup pintu kamar anaknya. Sementara perawat langsung kembali ke rumah Amie, sesudah Amie selesai makan tadi.
Putut terbangun, ternyata ada Amie yang tertidur berbantal bahunya dan memeluknya erat seakan tak ingin ditinggalkan.
Putut tak bisa memandang bagaimana wajah manis istrinya karena dari sudut pandangannya hanya terlihat puncak kepala Amie.
Putut menggeser sedikit badannya perlahan agar Amie bisa tidur dengan bantal dan dia bisa melihat wajah innocent istrinya yang sedang terlelap.
‘Mas tak pernah bosan memandangi wajahmu. Bodohnya Mas dulu menolakmu ketika Mas akan berangkat ke Bandung pertama kali. Maaf ya sayankku,’ batin Putut.
Putut mencium kening dan kedua mata Amie yang sedang terpejam.
Amie yang merasa posisi tidurnya berubah dan merasakan ciuman di kening dan kedua matanya langsung bereaksi.
Amie membuka perlahan matanya. Dipandangi mata Putut yang sedang menatapnya. Entah malu atau ada perasaan lain, Amie langsung menundukkan pandangan matanya, tapi tak bisa menundukkan wajahnya karena dagunya dipegang Putut.
“Mas sayang kamu, kamu harus cepat sembuh,” Putut bicara lirih dan mengecup bibir istrinya. Hanya kecupan selintas. Dia tak ingin Amie kaget dan menolak. Sesudah itu Putut memeluk lembut tubuh istrinya. Dan Putut merasa senang karena merasakan Amie membalas pelukkannya.
“Mandi ya, Mas panggilkan bulek buat temani kamu pulang. Nanti kalau sudah mandi, kamu boleh ke sini lagi,” bisik Putut setelah cukup lama memeluk istrinya.
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR itu ya.