THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
JANGAN JAGO NGAMBEG SEPERTI BUNDA



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Kamu emang bidadari kecilku,"  Putut mengecup selintas bibir istrinya. Dia usap lembut perut buncit Amie. Ada buah cinta mereka disana.



"Kamu jangan jago ngambek kayak Bunda ya cantiknya Ayah," bisik Putut. Dia inget Amie kalau ngambeg lucu dan menggemaskan.



"Terima kasih ya RA,” Putut menerima suapan bakso dari Amie. Itu kalau dulu dia sakit.



“Cukup ya, kamu habiskan baksonya. Mas cukup.” Putut mengusap lembut tangan Amie agar perempuan itu tak merasa ditolak. Putut mau mengusap kepala Amie tak bisa karena terlalu jauh. 



“Kenapa mie nya enggak kamu habiskan?” tanya Putut lembut. Dia lihat Amie meletakkan mangkoknya di meja.



“Sini, Mas suapi ya?” pinta Putut. Amie hanya makan baksonya saja, mie nya tidak dimakan sama sekali.



Amie menggeleng, dan berbalik badan memunggungi Putut. “RA, enggak kasihan ama Mas? Mas masih pusing, koq malah kamu marah?” tanya Putut. 



Putut tahu Amie marah karena dia hanya mau sepotong bakso saja ketika Amie menyuapinya. Tapi memang Putut merasa sangat pusing jadi malas makan. 



Putut langsung memejamkan matanya untuk tidur saat di kamar hanya ada Amie. Dia sudah sejak tadi menahan pening dan kantuk akibat pengaruh obat yang diminumnya. Dia biarkan Amie yang masih memunggunginya. 



‘*Jangan lupa bawa Amie keluar, aku mau tidur*,’ pesan Putut lewat chat pada Wahyu sebelum dia terpejam. 



Tengah malam Putut terbangun karena haus, dia merasa ada yang memeluknya erat. 



'*Mengapa Amie tidur di sini? Perempuan itu belum berganti baju tidur. Apa dia tidak kembali ke rumahnya*?' Putut mengambil gelas yang ada di meja samping tempat tidurnya, diminumnya hingga puas lalu dia membuka ponselnya. 



Putut yakin Wahyu pasti meninggalkan pesan untuknya.



‘*Mbak Amie enggak mau pulang. Bahkan enggak mau makan malam. Dia langsung ‘mapan’ ( berbaring ) di sebelahmu*,’ chat dari Wahyu.



‘*Kamu yang ngambeg, koq kamu yang kalang kabut karena aku tinggal tidur*?’ Putut memeluk erat istrinya dan mengecupi kening, mata, pipi dan terakhir dia \*\*\*\*\* lembut bibir istrinya. 



“Met bobo cantiknya Mas,” bisik Putut. Dia yakin Amie akan mendengar bisikannya.



‘*Subuh bantu aku ke kamar mandi, untuk buang hajat sekalian wudhu*,’ Putut membalas chat adiknya sebelum kembali tidur. 



Paginya Wahyu membantu Putut berjalan ke kamar mandi. Kakaknya masih sangat lemah. Dia membantu Putut hingga selesai membersihkan diri, lalu menunggu sang kakak selesai salat sambil duduk. Dan kembali mengantarkannya naik ke tempat tidurnya.



“Sarapanku dan Amie nanti langsung bawa kamar saja, minta juga bulek bawakan baju ganti Amie. Biar dia mandi di rumah kita. Tak perlu dia bolak balik ke rumah belakang,” perintah Putut pada Wahyu.


\*\*\* 



'*Cinta kita lucu ya Yank*,' Putut terus mengelus perut istrinya. Dia rasakan bayinya bergerak.



"Apa kamu lapar Nak?" saat bertanya pada putrinya, Putut jadi ingat saat Amie mulai bicara lagi.



"Lapar!” Begitu teriakan Amie siang itu. Tentu semua kaget dan tak percaya.



Bulek perawat, dan dua orang rewang ( asisten rumah tangga ) di rumah mbah Harjo kaget mendengar suara Amie.



“Mau ngemil atau dahar ( makan ) nasi Mbak?” bulek perawat segera menjawab begitu sudah tersadar dari kagetnya.



“Bakso!”



“Njih, sebentar ya, dibelikan dulu,” bulek langsung mengambil telepon khusus untuk menghubungi Putut. 



“Tenan Bulek?” Putut memastikan, dia bertanya beneran ketika diberitahu Amie bicara minta bakso.



“Tenin Mas,” jawab bulek, kata tenin itu lebih kuat dari kata tenan dalam bahasa Jawa. Artinya sangat benar. 



“Ya wis, aku langsung beli. Ini sudah hampir dekat kios bakso. Pas aku memang mau pulang,” Putut bahagia, istrinya sudah menunjukkan perkembangan yang sangat baik.


\*\*\* 



Putut memasuki rumah mbah Harjo dengan tergesa. “Mas beli bakso yang kamu minta,” diserahkannya kresek bakso pada bulek dan dia langsung memeluk istrinya. Dia cium kening dan pipi Amie dengan penuh cinta. Amie menatapnya dengan bingung.



“Nih, kamu maem bakso yang kamu minta ya,” Putut memberikan mangkok bakso yang beralas piring agar tidak panas. Bisa makan sendiri ‘kan?” 



Amie menjawab dengan anggukan sambil menerima mangkok miliknya. Dan Putut yang sejak pagi ingin bakso juga segera mengambil mangkok bakso miliknya yang hanya berisi bakso kuah tanpa mie. 



Putut mengarahkan ponselnya, sengaja dia letakkan dengan posisi mengarah ke Amie. Ditekannya rekam video. “Baksonya enak enggak RA?” anya Putut.



Amie menjawab dengan anggukkan. “Mas PU enggak akan membelikan lagi kalau kamu hanya jawab dengan anggukan. Enak enggak?”



“Enak,” jawab Amie lirih setelah menelan makanan yang ada di mulutnya.



“Kamu suka?”



“Iya,”



Putut langsung mengirim video itu pada Putro, Jhon dan Wahyu. Jhon yang baru saja turun dari pesawat mendapat notif dari Putut segera membuka kiriman video dari adik iparnya itu. Putro sudah memberitahu mengenai pernikahan Putut dan Amie padanya. 



“Gilaaaaaaaaa,” tanpa salam Jhon langsung teriak saat Putut mengangkat telepon darinya.




“Baru aja Mas, aku lagi ke kebun saat dia teriak lapar dan minta bakso. Aku yang sedang jalan pulang langsung beli bakso langganannya,” Putut bercerita apa adanya.



“Ayah dan ibuku sudah kamu beritahu?” tanya Jhon.



“Aku lupa, saking gembira. Aku cuma kirim ke Mas Putro dan mas Jhon saja,” balas Putut.



“Baik, aku akan kirim ke ibu dan bapak. Kalau mereka bisa biar besok kami ke Jogja. Aku baru saja turun. Mungkin besok pagi aku bisa meluncur sendirian,” Jhon tidak sabar ingin bertemu Amie.



“Oke Mas, aku tunggu.”



Sementara Putro yang sedang praktek tak bisa leluasa membuka pesan dari Putut. Hampir sore dia baru membuka pesan video yang Putut kirim. Seperti Jhon, dia juga langsung menelepon adik iparnya itu.



“Itu bukan editan ‘kan?” tanya Putro ragu. Seperti pada Jhon, Putut pun menceritakan keajaiban hari ini. 



“Mas Jhon bilang besok pagi dia ingin kesini,” Putut memberitahu Putro tentang



Perkembangan yang sangat baik sejak tujuh bulan Amie semedi dalam dunianya sendiri. 



Tapi semua tak instan. Amie jarang bicara dulu seperti saat dia teriak lapar. Setidaknya dia akan menjawab bila ditanya. Itu pun tak selalu menjawab.



“Jangan cuma mengangguk atau geleng dan sepatah kata dong. Mas sayang sama kamu RA. Mas pengen kamu seperti dulu. Kamu mau Mas tinggal ke Bandung lagi?” ancam Putut. Sebenarnya dia hanya mengajuk hati Amie. 



“Enggak,” jawab Amie sambil terus menggeleng dan ada air mata disudut matanya.



Putut mengambil tissue dan menghapus tetes bening di sudut mata istrinya. “Jangan menangis. Mas enggak bakal ninggalin kamu, kalau kamunya mau ngobrol sama Mas. Buat apa Mas ada kalau kamu enggak mau ngobrol?”



Amie menatap Putut, dia takut ditinggal kembali ke Bandung, dan dia mulai ingat ada sosok lain yang pernah dekat dengan dirinya, namun dia tak jelas siapa sosok itu. Kepalanya tetiba sangat sakit seperti di pukuli palu. “Aaarrrghhhhh,” erang Amie.



“Kamu mencoba mengingat sesuatu yang kamu ingin lupa? Jangan dipaksa ya,” lembut Putut berbisik di telinga Amie. Dia menggeser kursinya agar bisa memeluk istrinya. 



“Habiskan kentangmu,” perintah Putut. Ayam dan 1 porsi kentang sudah dihabiskan Amie. Sisa 1 porsi yang memang tadi Putut pesan. Saat itu mereka sedang makan ayam goreng di gerai ayam berlogo badut.



Putut memanggil seorang pegawai gerai makan tersebut. “Mas, tolong ini bungkus dan tambahkan paket family serta 4 porsi kentang goreng lagi ya.”



Putut membimbing Amie menuju mobil, setelah pesanannya diantar dan dia bayar. “Sekarang kita bicara dulu sebentar ya,” mesin mobil sudah menyala dan Putro sudah menyalakan AC. 



“Mas tahu kamu dengar semua yang Mas bilang. Sekarang semua terserah kamu RA. Mau tetap diam atau ngobrol dengan Mas.,"



"Kalau dengan orang lain kamu belum mau atau belum bisa. Mas minta, dengan Mas kamu bisa. Kalau enggak mau dan enggak bisa, ya Mas nyerah."



"Mas kembali ke Bandung aja. Itu ‘kan yang kamu mau?” desak Putut. 



Menurut buku kejiwaan yang tiap malam Putut baca, juga hasil konsultasi dengan teman mas Putro yang selalu memantau perkembangan Amie, sekarang waktunya Putut sedikit memberi challenge pada Amie. 



Putut mulai memundurkan mobil untuk segera meninggalkan area parkir. Dia masih menunggu reaksi Amie. 



Walau bagaimana pun, tak bisa langsung ditekan. Dalam perjalanan pulang sengaja Putut tak ingin memulai percakapan. Dia rasa cukup tantangannya tadi. 



Sampai di rumah pria itu langsung turun membawa bungkusan ayam goreng dan memasuki rumahnya sendirian. Dia bukan tak peduli pada istrinya. Dia hanya ingin mengetahui reaksi Amie jika dia tak mengindahkan wanita itu. 



“Hiks … hiks … hiks,” Amie menangis melihat Putut keluar mobil dan tak peduli padanya. 



Lama Amie menangis sendirian. Putut memperhatikan dari balik jendela. Dia ingin tahu bagaimana Amie keluar dan turun dari mobil. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan istrinya itu. 



Puas menangis, Amie keluar mobil dan bergegas mencari Putut. Dia tak ingin ditinggal seperti dulu lagi. 



Putut yang melihat Amie menuju rumah segera pindah dari balik jendela dan berlari masuk kamarnya. Amie mencari Putut di ruang tengah. Tak ada siapa pun di sana. 



Amie segera memasuki kamar Putut. Dilihatnya lelaki itu sedang duduk membelakangi dirinya yang baru masuk ruangan itu. Putut sedang membaca buku penjualan kebunnya. Amie mendekat dan duduk di ranjang dekat kursi yang Putut duduki. “Mas.”



Putut bergeming, dia ingin tahu apa kelanjutan tindakan istrinya. 



Walau sebenarnya dia ingin segera bereaksi, bahkan juga ingin memeluk istrinya agar jangan bersedih. Tapi semua dia tahan demi kesembuhan istri tercintanya. 



“Mas, jangan marah.” Tiga kata keluar dari bibir Amie dengan lirih. Putut masih diam. Dia ingin memancing emosi Amie lebih dalam.



“Mas, jangan pergi ya?” pinta Amie sambil memegang lengan Putut dan mengguncang pelan minta perhatian pria itu. 



Tentu saja Putut sangat senang. Suatu perkembangan yang sangat luar biasa. Perlahan Putut menengok ke arah istrinya yang sedang menatap dirinya penuh harap. 



Andai tak sedang berupaya membangkitkan emosi Amie, tentu Putut akan segera memeluk istrinya itu.  



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1677132608184.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.