THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
AMIE ‘MENGHILANG’



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Putut dan Jhon hanya terkekeh pelan tanpa memberitahu kalau Putut telah memiliki Amie. Tentu saja Amie merasa insecure. Dia merasa kehadirannya sebagai sosok istri tidak diakui Putut di depan khalayak ramai. Amie langsung menarik diri.


Pelan tapi pasti Amie mundur, dia berjalan menuju meja makanan yang belum dibuka plastik atau tutupnya karena acara belum dimulai. Akhirnya Amie hanya mengambil air putih dan mencari tempat duduk di pojokan.


Sadar Amie tak  ada disekitarnya Putut kalang kabut. “Mas, lihat Amie?” tanya Putut pada Jhon dengan sedikit panik.


“Tadi ‘kan ada dibelakangmu?” jawab Jhon sambil celingak celinguk mencari sosok adiknya. Acara belum dimulai, jadi yang ada di gedung baru kerabat dan panitia serta pagar bagus dan pagar ayu, sehingga seharusnya masih mudah mencari Amie.


“Kamu lihat Amie?” bisik Jhon pada Ragil dan Farah yang sedang ngobrol berdua.


“Enggak, tadi ‘kan sama Mas Putut,” balas Ragil. Dia pun celingak celinguk.


“Koq bisa ngilang Kak? ‘Kan dari tadi selalu berdua dengan mas Putut,” Farah juga ikut bingung. Farah sudah tahu bagaimana kondisi Amie. Dia pun ikut mencari di mana perempuan ayu itu berada.


Cukup lama Putut mencari. Di ruangan makan Amie pun belum terlihat. Ruangan itu masih kosong. Sebenarnya Amie ada di sudut ruang dan terhalang oleh saung kambing guling sehingga tak terlihat oleh suaminya.


Jelas saja semua kalang kabut. Baik Jhon, Ragil, Wahyu mau pun Farah. Mereka sengaja belum memberitahu pak Cokro dan bu Tiwi. Farah yang ingin mengambil air putih akhirnya bisa melihat sosok yang dicari sedang diam di sudut ruang.


“Mbak, dicari Mas Putut,” dengan lembut Farah menyapa Amie.


“Mas Putut ada yang suka, aku enggak perlu dicari lagi,” jawab Amie lirih sambil menggeleng.


“Lho koq gitu, sebentar … aku ambil minum dulu nanti aku ke sini lagi,” Farah langsung menjauh dan menghubungi Jhon.


“Kak, segera ke sudut dekat air minum. Mbak Amie ada di sana dan dia bilang Mas Putut enggak perlu mencari dia lagi,” tanpa menunggu balasan Farah langsung menutup sambungan telepon dan bergegas menghampiri Amie kembali.


***


Jhon malah bingung, apa maksud Farah sudut dekat air minum? Karena terburu-buru Farah ngomong jadi belibet. Maksudnya sudut ruang tempat disediakannya meja air minum, Farah hanya menyebut sudut dekat air minum! Jhon berpikir keras, terlebih mendengar kalimat akhir kalau Amie bilang Putut tak perlu mencari dirinya lagi.


“Kamu di mana? Farah sudah menemukan Amie,” Jhon langsung menghubungi Putut yang masih mencari istrinya.


“Di mana?” jawab Putut cepat.


“Farah buru-buru, dia bilang sudut dekat air minum, aku sedang menuju tempat disiapkannya air minum bagi para undangan. Semoga mereka masih di sana. Karena kata Farah Amie marah padamu. Amie bilang kamu tak perlu mencari dia lagi!” balas Jhon sambil berjalan ke sudut tempat menyiapkan air minum.


***


“Ayo Mbak, kita kembali ke depan, bersiap terima tamu. Sebentar lagi ‘kan acara mau di mulai,” Farah membujuk Amie.


“Enggak perlu. Aku biar di sini aja. Kamu kembali ke depan. Kamu terima tamu aja,” jawab Amie sambil kembali menggelengkan kepalanya.


Farah mau meneruskan membujuk tapi ragu, karena dia belum tahu kondisi mental Amie. Dia takut malah salah bicara. Lebih baik mengulur waktu menunggu Jhon atau Putut datang.


“Dek, ke depan yok,” ajak Jhon yang baru mengetahui posisi Amie.


“Aku mau pulang aja Mas. Aku mau ke rumah bude di Solo. Enggak mau pulang ke Jogja!” Amie langsung merengek minta pulang ke Solo. Artinya ingatannya kalau dia pernah tinggal bersama Jhon di Solo mulai kembali.


“Iya boleh pulang ke rumah. Tapi nanti nunggu acara pesta Mas Putro selesai ya. Masa kamu  enggak mau lihat mas Putro dan mbak Putri resepsi?” bujuk Jhon, dia celingak celinguk menunggu kedatangan Putut.


“Kamu haus Yank? Koq ambil minum enggak ajak Mas?” tanya Putut yang baru sampai dekat Amie dan Jhon.


“Ngapain ngajak Mas? Mas ‘kan malu punya istri seperti aku?” jawab Amie sarkas.


“Yank, kamu ngomong apa?” Putut memeluk istrinya yang masih duduk dengan lembut.


“Mas enggak pernah malu punya istri cantik dan pintar seperti kamu. Mas malah bangga banget koq ama kamu!” lanjut Putut masih lembut walau dia bingung mengapa Amie bisa berpikiran dia malu punya istri Amie.


“Buktinya saat ada yang bilang kalau adiknya naksir sama Mas, Mas enggak bilang sudah punya istri. Mas juga enggak kenalin kalau aku sebagai istri Mas. Mas malu ‘kan menikah dengan janda seperti aku?” protes Amie yang langsung membuat Jhon dan Putut kaget.


‘Astagfirullaaaaaaaah, Amie mendengar celoteh Syarif tadi,’ Jhon langsung mengingat saat sepupunya bilang, sejak dulu adiknya menyukai Putut dan akan menghubungi Putut lagi.


‘Ya ampuuuun, aku enggak nyangka tindakan diamku malah berakibat fatal seperti ini. Aku berharap persoalan ini tidak membuat jiwa Amie kembali rapuh. Tadi aku tidak menggubris omongan Syarif karena aku tidak menganggap serius. Dan kalau pun serius, aku tak akan menanggapinya!’ pikir Putut penuh penyesalan.


\===========================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta