THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
RUMAH WEEKEND



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Sementara para istri sibuk membahas proses kehamilan. “Aku akan pamerkan copy surat nikah kami di undangan. Agar semua orang bisa melihat kapan kami menikah. Karena rencananya bulan depan aku enggak akan perpanjang suntik KB ku,” Farah memberitahu pada Amie dan Putri soal rencananya. 



“Jadi kalau saat aku nikah sedang hamil seperti Amie sekarang, aku enggak membuat abi dan umi malu,” demikian alasan Farah akan memamerkan copy buku nikah di undangannya. 



“Undanganku ‘kan juga seperti itu, mas Putut sengaja memperlihatkan. Karena didesa kalau belum menikah kan rame jadi bahan gunjingan. Jadi saat mas Putut mengurus itsbat, dia langsung lapor RT dan Dukuh untuk diketahui. Mas Putut juga urus pecah kartu keluarga ( KK ). Sehingga aku dan mas Putut tidak nyampur KK nya dengan ayah,” Amie menjelaskan langkah yang telah Putut ambil. 



“Iyaa, hidup didesa lebih riskan akan omongan orang ya. Bahkan dilingkungan ibu dan ayah saja di Solo ‘kan masih lumayan ikatan kekerabatannya. Enggak seperti dirumah abi,” Farah memberitahu. Karena rumah abinya di jalan utama kota Solo. Siapa yang berani mengusik penghuninya? Untuk masuk kerumah utama saja sangat jauh dari pagar rumah.



“Nanti sehabis menikah, ups maksudku sehabis resepsi baru kami akan pisah rumah. Kalau saat itu langsung pisah rumah, kami akan dibilang kumpul kebo karena orang belum tahu pernikahan kami,” lanjut Farah.



“Aku yang sedih, karena enggak boleh keluar ( pindah ) rumah,” Putri sedikit mengeluh karena memang dia tak boleh pindah rumah. Dia anak bungsu dan satu-satunya perempuan. Suatu keharusan menempati rumah orang tuanya.



“Mau bagaimana lagi? Lebih baik kamu menerima dengan legowo agar kamu cepat hamil. Kamu ‘kan dokter. Kamu tahu kalau pikiranmu kalut kamu akan sulit hamil,” Farah menasihati sahabatnya itu. Dia memang tak bisa mencari solusi untuk masalah itu. 



Setiap orang tua tentu punya kebijakan tersendiri bagi anak-anaknya. Untungnya pak Farhat bukan orang tua seperti itu.



Farhat dan istrinya malah lebih suka anak-anaknya hidup merangkak bersama pasangannya agar mereka lebih bisa merasakan suka duka hidup bersama dari nol.



“Mas Putro juga bilang begitu. Tapi aku sering sedih aja. Aku juga pengen kebebasan dirumah sendiri seperti yang Amie rasakan. Dan nanti kamu juga akan rasakan sesudah resepsimu,” masih saja Putri tak terima akan nasib ‘buruk’nya.




“Nah bisa juga tuh. Kamu tinggal dirumahmu sendiri sejak hari Jumat malam hingga hari Senin pagi. Senin siang kamu pulang kerumah papa dan mama hingga hari Jumat pagi!” Farah merinci maksud Amie untuk Putri. Jadi nanti Putro dan Putri tidak meninggalkan rumah keluarganya secara full. Hanya di weekend saja. 



“Wah kereeeeeeen usulnya. Aku akan bahas dengan mas Putro. Bila dia setuju aku akan bilang mama. Baru aku hunting rumah. Kalau sebelum bilang mama sudah beli rumah. Bisa berabe bila tak diizinkan.” Putri sedikit cerah mendengar usul adik iparnya. Dia yakin kalau dia dan Putro sudah lebih dulu membeli rumah, orang tuanya akan merasa diremehkan. Jadi buat amannya memang dia matur ( bicara ) dulu, baru bila proposal disetujui dia bergerak mencari rumah yang cocok bagi dia dan Putro.



“Aku berharap bisa disetujui oleh mama Mbak,” doa tulus Amie berikan untuk kakak iparnya itu. Dia berharap semua kakaknya hidup bahagia. Walau sebentara Amie pernah hidup dengan bu Tiwi mertuanya. Tentu tak sebebas kala dia hidup hanya berdua dengan Putut. Padahal Bu Tiwi bukan mertua yang cerewet. Sebaliknya Putri itu tinggal dengan orang tuanya sendiri. Kan aneh bila dia tertekan ingin keluar rumah. 



“Aamiiiiiiiiiiiin. Aku juga berharap mama mau menyetujui usulan ini,” Farah pun mendoakan Putri bisa merasakan hidup berdua dirumah sendiri seperti yang dia inginkan. 



Farah dan Jhon sudah membeli rumah dua minggu lalu hanya belum lapor pada Farhat. Jhon sengaja membeli rumah sebelum Farhat memberikan hadiah rumah bagi pernikahan mereka kelak. Niatnya diliburan sesudah Jhon tugas besok pasangan itu akan mulai membeli perabot rumah mereka.



“Aku jadi enggak sabaran cerita ke mas Putro. Doain ya agar mama setuju. Kalau mas Putro aku yakin dia enggak akan ribet dengan wacana ini. Dia ‘kan emang buka orang yang mikir njelimet,” Putri antusias terhadap usul Amie itu.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1675533402477.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNCOMPLETED STORY itu ya.