
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
“Maem dulu ya Mas, baru kekebun,” pinta Amie.
“Dedek atau Bundanya yang lapar?” goda Putut.
“Ih, paling yang lebih kelaparan Ayahnya,” Amie malah balas menggoda Putut.
“Kalau Ayah jangan ditanya. Udah laper bangeeet. Mana Bunda enggak beliin Ayah jajan,” keluh Putut.
Hari Amie menghukum Putut dengan tidak membawakan kue basah sebagai cemilan suaminya itu.
“Paklek, mampir *maem riyen njih*,” pinta Amie pada kerabat yang hari ini membantu menjadi driver pengganti karena Putut belum bisa menyetir dan Amie belum selesai sekolah mengemudinya. \[ mampir maem riyen njih \= mampir makan dulu ya \].
“*Bade mampir teng pundi*?” jawab sopir. Dia menanyakan mau mampir di ( rumah makan ) mana?
“Mana Mas?” Amie malah melempar pertanyaan pada Putut.
“Rumah makan yang kelewatan dan sebelah kiri saja. Jadi tidak repot. Kamu enggak ada yang dikepengini tho?” tanya Putut.
“Aku enggak pengen apa pun,” balas Amie yang memang tak rewel tentang makanan saat hamil ini.
“Di depan ada warung sate kambing, mau makan disitu?” tanya driver pada pasangan itu.
“Boleh paklek. Aku pengen tongseng pedes,” Amie langsung setuju mereka makan dirumah makan dengan menu utama dari daging kambing itu.
Akhirnya sang driver membelokkan mobil kerumah makan yang dia tanya tadi.
“Paklek pesan aja jangan malu,” Amie meminta sang driver pesan sesukanya. Sementara untuk dirinya dan Putut dia memesan tongseng pedas, sate satu porsi, nasi goreng kambing satu porsi dan nasi putih tentunya.
“Kamu enggak salah? Pesan nasi goreng pakai tongseng?” tanya Putut.
“Lagi pengen aja,” balas Amie santai.
Saat nasi goreng datang, Amie memisahkan 3/4 untuk dibungkus dan dia makan sisanya dengan tongseng pedas yang dia inginkan. Tentu tongseng juga Putut makan sedikit.
“Sepertinya sejak ada Dedek kamu suka banget pedes ya,” Putut berkomentar kesukaan baru istrinya.
“Buat redam keinginan makan kalau enggak ada lauk ikan,” jawab Amie. Sejak hamil memang tak boleh tak ada ikan dalam lauk Amie.
“Lha tadi kenapa mau makan disini? Kan tahu disini enggak ada ikan?” Putut baru ingat kebiasaan Amie saat hamil.
“Pas paklek bilang menu kambing, aku kepengen tongsengnya. Jadi ya langsung setuju aja. Lagi enggak ada ikan Dedek enggak rewel asal lauknya pedas,” balas Amie sambil terus mengunyah.
“Aaaaminnnn.”
\*\*\*
Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ….
Resepsi pernikahan terjadi juga. Setelah menikah sepuluh bulan pernikahan Amie dan Putut dirayakan. Tak ada yang berduka. Keluarga besar Amie dari ibunya memang tak ada lagi . Ada sepupu jauh yang tidak terlalu kenal. Keluarga dari pihak ayahnya hanya pakde Siswojo yang sudah menjadi ayah angkatnya.
Kerabat dari mbah kakung dan mbah putri memang banyak yang hadir. Namun Amie juga tak terlalu kenal karena memang kekerabatannya jauh.
Teman SD hingga teman SMP banyak yang hadir. Teman kuliah dan teman SMA tak ada karena memang dia sekolah di Solo dan Amie tidak mengundang mereka.
Sebaliknya, teman SD, SMP hingga SMA Putut banyak yang hadir karena mereka memang mayoritas masih berdomisili di Jogja.
“Kamu cape Yank?” tanya Putut berkali-kali. Dia tak ingin istrinya kelelahan.
Bahkan Putri berkali-kali mengecek adik iparnya. “Mbak, nanya satu kali lagi dapat hadiah gelas lho,” goda Amie pada Putri.
“Ha ha ha ha, habis Mbak takut kamu enggak kuat karena kelelahan,” balas Putri. Dia yang anak bungsu tentu senang menikah dengan Putro mempunyai banyak adik ipar. Itu sebabnya dia selalu care pada semua adik iparnya. Bukan hanya pada Amie. Terlebih sejak pak Farhat mendeklarasikan mereka semua menjadi satu keluarga besar.
“Selamat yo Nduk,” pak Handoyo dan Asih menyampaikan selamat pada mantan menantunya itu.
“Njih maturnuwun Pak,” balas Amie pada ayahnya Angga mantan suaminya.
“Selamat yo Mbak. Dan juga semoga sehat sampai melahirkan nanti,” Asih memang tahu kalau Amie kembali hamil.
“Iya Sih, terima kasih yaaa,” Amie pun dengan tulus menyampaikan terima kasih pada adik iparnya itu.
\*\*\*
“Hubby, aku mual,” Farah yang baru saja selesai mandi mengeluh pada Jhon.
“*Honey*, bukannya obat suntik masih sampai bulan depan?” tanya Jhon. Mereka masih di Cangkringan sehabis resepsi pernikahan Putut. Bukan menolak rejeki, tapi resepsi pernikahan mereka baru akan diadakan bulan depan. Jhon tak ingin kedua mertuanya tercoreng namanya kalau orang mengira Farah menikah karena hamil terlebih dahulu.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR itu ya.