
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
“Bagaimana kondisimu?” tanya Farah pada Putut.
“Alhamdulillah hasil keseluruhan baik Mbak. Hanya retak di tulang kering yang sudah di gips itu saja. Yang lain baik,” sahut Putut sambil terus menggenggam jemari istrinya.
“Permisi, jatah makan pasien ya Bu,” seorang perawat mengantarkan makan siang untuk Putut beserta mangkok super kecil berisi beberapa butir obat.
“Aku suapin ya?” tanya Amie.
“Aku bisa sendiri koq Yank, nanti saja ya,” Putut masih malas makan.
“Yang lain segera makan saja, tadi Ibu bawa makan dari rumah lho,” Wahyu membagikan nasi dalam bungkus daun pisang serta beberapa macam lauk dan sayur yang dia bawa dari rumah.
“Mbak Farah makan sego kampung yok,” ajak bu Tiwi pada istri Jhon itu.
“*Queen*, kamu coba deh nasi dan lauk ndeso yang biasa semua orang makan dirumah Putut. Rasanya sangat nikmat,” Jhon mempromosikan menu yang dibawa dari rumah Putut.
“Ini tadi bulek Harti membawakan nasi yang porsinya sedikit karena ada kita para perempuan. Tapi kalau mau nasi ukuran normal ya silakan saja,” bu Tiwi memberi tahu timbel ( nasi bungkus ) yang ukuran kecil.
“Ini lele dan patin dari tambak?” tanya pak Siswojo.
“Injih Mas, semua dari hasil kebon dan tambak kecuali bawang merah dan putih sebagai bumbu,” jawab pak Cokro. Menu kali ini adalah pepes patin dan goreng lele serta sayurannya adalah urap.
“Wah jadi pengen ke rumahmu Mie,” Farah yang memang ingin ke Cangkringan jadi tambah ingin kesana. Sayang kali ini tidak bisa karena mereka semua berada di rumah sakit.
“Iya Mbak, nanti kalau Mas Putut sudah pulih main ke rumah ya. Kita bakar ikan ditambak. Makan langsung disana tanpa dibawa pulang ke rumah,” Amie langsung menggoda Farah dengan iming-iming ikan bakar yang masih fresh.
“Serius? Iya aku mau, kabari kapan kami bisa bakar ikan di tambak ya? Nanti sekalian janjian dengan Mbak Putri,” Farah langsung antusias mendengar cerita Amie.
“Kamu tahu *Queen*, minumnya nanti langsung degan yang baru dipetik dari pohon,” Jhon malah semakin membuat Farah penasaran.
“Hubby, jangan bikin aku ngiler,” Farah yang sejak kemarin menambah sebutan baru untuk Jhon makin keqi mendengar suaminya mengimingi-imingi suasana makan yang memikat itu. Awalnya Farah memanggil Jhon dengan BABE, sekarang dia menyebut HUBBY.
Putut, Amie, Wahyu dan Ragil tertawa melihat Farah yang kesal pada Jhon. Sedang Jhon hanya meringis karena habis dicubiti perutnya oleh Farah. “Ampun … ampun…, iya enggak godain lagi,” Jhon meminta ampun pada istrinya.
“Janji ya, begitu Putut sembuh kita bikin acara bakar ikan ditambak,” Farah minta Jhon mengatur waktu bila Putut sudah pulih.
“Iya, lihat jadwal liburku, lalu atur waktu dengan mas Putro juga,” Jhon tentu senang bila makan di tambak seperti yang pernah dia rasakan beberapa kali bila berkunjung ke rumah Putut.
Sore bu Diah dan semua keluarganya pulang kembali ke Solo. “Om, ini ada titipan dari Abi dan Umi. Abi minta maaf tidak bisa datang kesini karena sedang ada permasalahan yang tidak bisa ditinggalkan,” Farah memberikan titipan ayahnya pada pak Cokro.
“Terima kasih juga doa dari Om untuk Abi,” Farah mencium tangan pak Cokro.
\*\*"
“Besok kamu berangkat kerja sendiri ya?” Jhon memberitahu Farah saat perjalanan pulang menuju Solo.
Mereka akan langsung menuju kediaman rumah Farhat. Tadi siang Farah dan Jhon memantau di CCTV tak ada pergerakan Indra yang mencurigakan. Hanya terlihat Indira dan Indra berdiskusi di ruang kerja Indra.
“Si eneng enggak masuk,” Indira berkata pada Indra. Rupanya dia melaporkan pengamatannya dan tahu kalau Farah tidak masuk kerja.
“Kamu tahu apa alasannya?” tanya Indira penasaran.
“Adik ipar sahabatnya di Jogja kecelakaan. Jadi dia menengok ke Jogja,” jawab Indira. Memang Farah lapor ke kantor dia izin karena adik iparnya Putri kecelakaan.
Semua dikantor tahunya Putri sudah menikah dan dia sahabat Farah
“Hari ini kita menunggu si tua bergerak. Aku lihat belum ada tamu dari kantor notaris. Aku sudah minta ke resepsionis untuk ngabari aku bila ada tamu untuk dia. Aku bilang biar aku yang nemani,” Indra rupanya sudah meninggalkan pesan pada resepsionis.
Demikian yang mereka lihat di rekaman CCTV kemarin. “Mereka menyebut abi dengan sebutan si tua ya,” Farah keqi sekali mendengar Indira dan Indra menyebut ayahnya seperti itu.
“Kita enggak bisa nutup mulut orang. Biarkan saja semau mereka,” balas Jhon santai.
“Memang besok Kakak mau kemana?” tanya Farah penasaran.
“Aku ada jadwal bertemu dengan orang pertamina. Dia minta ketemu pagi banget. Jam delapan harus sudah mulai pembicaraan, karena akan terbang ke Bontang. Kan artinya aku harus sudah di kantornya jam setengah delapan,” jawab Jhon.
“Kamu pakai mobil ini aja, aku yang pakai motor biar lebih cepat,” lanjut Jhon. Dia takut terjebak macet bila menggunakan mobil. Dan Jhon tahu Farah malas menggunakan mobil pribadinya karena terlalu mencolok digunakan ke kantor.
“Baiklah, semoga sukses pertemuan besok,” balas Farah.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR itu ya.