
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
"Karena melihat foto kamu cepat kemajuannya ya Yank. Mas inget dikejar target agar kamu siap datang ke resepsi pernikahan mas Putro," Putut tiduran di paha istrinya dengan wajahnya ke perut Amie yang makin bulat. Dia ciumi perut buncit istrinya.
"Iya Mas, kalau enggak ada foto pernikahan kita aku sulit ingat ya?" Amie ingat saat itu dia tidur berbantal lengan atas dan bahu suaminya. Putut mendekatkan Amie agar bersandar di dada kanannya. Dia membuka galeri foto miliknya dan membuka album WE.
Di sana ada foto saat tangan Putut bersalaman dengan pakde Siswojo saat akad nikah.
Foto ketika Putut mencium kening Amie dengan bude Diah dan bu Cokro sebagai pendamping. Ada juga saat Amie mencium tangan Putut dan foto buku nikah mereka.
Sengaja Putut memperlihatkan hal itu karena waktu pernikahan Putro semakin dekat dan mereka bersiap berangkat ke Solo.
“Itu foto akad nikah kita,” Putut menerangkan semua detail foto.
“Ini saat kamu mencium tangan pertama kali sejak kita resmi sebagai suami istri."
"Ini saat aku mengecup keningmu sebagai istri dengan penuh doa agar pernikahan kita di ridhoi Allah,” begitu seterusnya semua foto Putut terangkan dengan rinci.
“Sudah ya, sekarang kamu bobo,” Putut menyimpan ponselnya di meja kecil dekat tempat tidurnya dan langsung memeluk lembut tubuh istrinya. Dia kecup keningnya.
Itu saat Putut membantu Amie mengingat kalau mereka sudah menikah.
\*\*\*
"Kita sudah nikah lama. Kenapa Mas enggak pernah menyentuhku? Bahkan menciumku aja ketika itu belum?" Tanya Amie penasaran.
"Jujur sebagai lelaki, Mas ingin mengambil hak Mas sebagai suami. Terlebih kamu selalu ada dalam pelukan Mas."
"Tapi Mas tidak ingin melakukannya saat kamu belum normal Yank."
"Mas tak ingin kamu malah terguncang. Mas akan selalu sabar. Bahkan mencium bibir istrllis Mas saja saati itu Mas belum berani."
"Takut akan dampaknya."
Amie mengusap wajah suaminya yang ada dalam pangkuannya. Wajah pria yang sangat dia cintai. Bukan hanya karena rupawan. Tapi memang pekertinya sangat bagus. Terlihat saat Amie tak berdaya aja dia tak mau menyentuh walau sudah legal sekali pun.
"Eh, Mas inget waktu habis ngajarin kirim pesan?" Pancing Amie.
"Kenapa?" Putut penasaran.
"Kan Mas tinggal kerja. Seharian aku cuma tulis hapus tulis hapus aja. Mau aku kirim takut Mas ke ge er an," tutur Amie.
"Emang kamu tulis apa koq Mas jadi ge er kalau terima pesanmu?" Putut penasaran.
Amie ingat pelajaran ketika Putut mengajarkan dia.mengirim.pesan dahulu saat baru dibelikan ponsel.
“Kamu tekan icon ini, lalu pilih siapa yang kamu mau kirimi pesan. Tulis pesanmu dan kirim,” sehabis sarapan Putut mengajari Amie membaca dan mengirim pesan di sms dan WA.
Merasa Amie sudah cukup bisa, Putut segera siap berangkat kerja. Hari ini ada dua tambak yang akan dia tebar benih. Tambak lainnya ada yang persiapan panen besok.
“Mas berangkat ya. Kamu di rumah sini atau pulang ke rumah simbah, tapi enggak boleh ngelamun ya."
"Ini ponselnya dikantongi. Kalau mau hubungi Mas, kamu sudah bisa ‘kan?” Putut mengulurkan tangannya pada Amie.
Dikecupnya kening Amie lembut dan dibisikinya kata-kata rutin sejak Amie belum sadar seperti sekarang.
‘**Mas kerja ya. Kamu doakan Mas, biar usahanya berkah. I love you istriku**!’
Sepeninggal Putut, bulek mengajak Amie ke dapur untuk membantunya masak. Amie tak boleh melamun atau mendengar sesuatu yang memicu ingatannya.
Hari itu menu yang akan dibuat adalah pecel. Karena itu banyak sayuran yang akan mereka persiapkan. Selain itu juga akan membuat bumbu pecelnya dengan cara ditumbuk menggunakan lumpang. Yaitu alat tumbuk berbahan dasar kayu.
Bu Tiwi lebih suka membuat bumbu pecel dengan lumpang daripada menggunakan blender. Dan biasanya bu Tiwi memerintah asisten rumah tangganya membuat bumbu sekalian banyak lalu disimpan. Sehingga saat butuh tinggal mencairkan saja.
\*\*\*
Putut yang di lapangan, bekerja dengan fokus. Dia memang tak ingin lebih dulu menghubungi Amie.
Putut ingin Amie mempunyai keinginan lebih dulu menghubunginya. Bukan membalas pesan atau telepon darinya.
\*\*\*
Didapur Amie tak konsentrasi masak, tepatnya membantu masak.
Dia hanya mengutak ngatik ponselnya.
Bulek perawat hanya memperhatikan pasiennya saja. Sang bulek juga harusnya tak ikut masak. Tapi daripada bengong tak ada pekerjaan medis ya dia ikut membantu di dapur.
Sampai siang Amie tak juga mengirim pesan satu pun. Padahal di kebun sang suami menunggu pesan dari istri tercinta
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul INFIDELITY BEFORE MARRIAGE itu ya.