THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
D DAY BEBAKARAN



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




“Ini lebih enak,” pak Farhat memuji salak pondoh yang sedang dia cicipi. Mereka sudah dikebun ketiga. Disini lebih banyak pengepul yang datang untuk membeli.



“Iya, dan lebih laris daripada salak madu. Kalau di Jogja memang lebih banyak yang cari salak pondoh. Walau size lebih kecil tapi sejak muda buah salak pondok tidak sepet,” sahut pak Cokro. 



Pak Cokro sejak dari kebun pertama sudah mempersiapkan buah yang akan dia berikan sebagai oleh-oleh para tamunya. Jadi para pegawainya tadi telah dia suruh urntuk membawa hasil panen ke rumahnya agar siap packing bila tamunya nanti pulang. 



Beda orang beda yang disukai tergantung selera. Seperti itulah penggemar salak di Jogja. 


\*\*\*



Selesai sudah tour panen salak pagi ini. Rombongan menuju ke lokasi panen ikan. Seperti biasa Farouq sudah heboh melihat ikan yang saat mereka tiba mulai dipanen dan calon pembeli sudah siap untuk mengangkut hasil panen itu. 



Panen pertama adalah ikan gurami. Ikan dengan size besar dan harga cukup lumayan sudah ditunggu pembeli.



“Para ibu yang mau langsung masak bisa ke lokasi makan siang. Yang masih mau disini monggo,” Jhon yang akan mengantar rombongan ibu yaitu bu Diah, Amie dan bu Tiwi. Ternyata Farah dan Putri juga ingin langsung ke lokasi makan saja karena mereka sudah pernah melihat keseruan panen ikan. 



Farouq dan Ilham mengabadikan moment itu. Mereka berpose dengan gurame besar yang masih bergerak dengan latar belakang kolam dan pekerja yang sedang panen. Video itu langsung mereka unggah di sosial media milik mereka. 



Bu Basalamah yang pernah janji akan masak untuk makan siang lupa karena dia tertarik melihat proses panen dan juga memperhatikan keseruan dua jagoannya. 



Di lokasi makan siang, Amie dan bu Tiwi mulai mengolah ikan goreng, juga gurame asem manis. Sedang ikan bakar sengaja dibiarkan diolah saat semua peserta sudah datang. Hal itu agar semua ikut terlibat dengan kegiatan ini.



Bu Diah memasak patin kuah asam. Digunakan belimbing wuluh yang sengaja hanya disigar ( dibelah dua memanjang ). cabe hijau juga hanya disigar. Mereka masak dengan senang walau masak diruang terbuka. 



“Kamu enggak mual dengan bau amis dan bau bumbu Nduk?” tanya bu Diah. Dia takut anak perempuannya tersiksa karena harus ikut masak. 



“*Mboten Bude, mboten rewel koq*,” jawab Amie, dia mengatakan kehamilannya tidak rewel ( mboten \= tidak ).



"*Wong niki malah nek maem pengene lauk ikan. Mboten purun daging, ayam mbonten pati seneng*," sahut Amie lagi, memberitahu kalau bayi dalam kandungannya maunya makan dengan lauk ikan. Tak mau dengan daging dan ayam tak terlaku suka.



“*Syukur nek ngono. Sing ati-ati yo Nduk*,” mereka berlima terus saja bercerita sambil masak. Farah dan Putri hanya bertugas membantu mempersiapkan area. 




“Bener Mbak. Harusnya gurame dipanen minggu lalu atau sebelumnya. Tapi karena sengaja dipersiapkan untuk event ini maka mas Putut menunda panen gurame satu tambak ini,” jawab Amie.



“Jadi karena sudah lebih lama  maka makin besar Mie?” Putri memperjelas apa yang dia dengar.



“Bener banget Mbak,” balas Amie.



“Mie maaf, sepertinya umiku lupa janji mau masak gurame asem manis. Dia keasyikan lihat orang panen ikan,” Farah meminta maaf atas kealpaan uminya. 



“Ha ha ha … aku sudah antisipasi Mbak. Dan untungnya hamilku enggak rewel. Jadi aman aja masak. Enggak ada beban. Mungkin baby tahu ayahnya sedang sulit bergerak, jadi dia enggak mau bikin ayahnya sedih kalau enggak bisa bantu bundanya,” jawab Amie santai tanpa beban.



“Iyo yo Nduk, Putut pasti sedih nek enggak bisa nuruti ngidammu atau mbantu kamu pas lagi *morning sickness*,” bu Tiwi baru menyadari keadaan menantunya.



“*Injih* Bu. Malah saya yang agak repot karena mas Putut yang sensi dan enggak sabar nek pengen makan kue basah. Lha dia enggak mau ngemil kue kering atau snack ringan yang banyak dijual itu,” sahut Amie. 



“Nah kui, kalau mau kue kering kan kamu bisa bikin banyak dan disimpan di toples yok,” sahut bu Diah. 



“Namanya ngidam, bagaimana mau kita atur?” jawab Putri. 



“Waaaah, sudah selesai masaknya? Maaf saya terlupa janji mau bantu masak,” bu Basalamah yang baru datang melihat semua ikan sudah diolah kecuali yang akan dibakar.



Jhon yang menemani ibu mertuanya langsung menuju tempat pembakaran. Dia datang bersama Ragil dan Wahyu yang juga akan bertugas membakar ikan. 



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita BARU karya yanktie dengan judul JINGGA DARI TIMUR ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1675483343508.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul JINGGA DARI TIMUR itu ya.