
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Ada tiga jenis salak yang memang asli daerah Jogja yang dikembangkan oleh pak Cokro. Yaitu SALAK PONDOH, SALAK MADU dan SALAK GADING. Semuanya memiliki keistimewaan sendiri.
Yang pertama salak pondoh merupakan jenis salak yang paling terkenal dan populer di masyarakat. Umumnya salak pondoh memiliki ukuran yang paling kecil dibanding salak-salak populer lainnya. Dia biasa dijual dompolan ( masih menyatu dengan batang buah ).
Tidak diragukan lagi, salak pondoh merupakan salak terbaik di Indonesia. Salak yang banyak dibudidayakan di daerah Merapi, Sleman ini juga banyak didistribusikan ke berbagai supermarket. Bahkan rasa manisnya yang khas ini terkenal hingga mancanegara dan sering jadi buruan oleh-oleh turis asing yang memang sering datang ke kaki gunung Merapi.
Daging buahnya manis dan tekstur daging buahnya renyah. Meski tak semanis salak madu, tapi justru itu yang menjadikan salak pondoh begitu populer. Nah, rasa manis yang pas dan sama sekali tidak sepat itu yang membuat salak pondoh cocok untuk semua lidah.
Jenis salak kedua adalah salak madu. Tidak kalah dengan salak pondoh, salak madu juga banyak dicari. Itu sebabnya pak Cokro juga menanam jenis ini.
Kandungan air salak madu lebih banyak dari salak pondoh. Rasanya manis seperti madu, dagingnya berwarna kekuningan, bertekstur renyah dan lembut.
Untuk ciri dari luarnya, kulit salak madu tipis dan mengkilap. Bentuk buahnya segitiga atau lonjong. Salak madu bisa berbuah berbuah sepanjang tahun, tanpa mengenal musim.
Dan jenis terakhir adalah salak Gading. Salak gading bisa dibedakan berdasar warna kulit dan dan ukuran buahnya. Salak gading warnanya kuning – gading dan mengkilap, ukurannya sedang hingga besar.
Rasa salak gading sedikit lebih masam, biasa dicari oleh orang-orang yang tidak terlalu suka manis.
Salak gading memiliki ukuran yang lebih besar dibanding dengan ukuran salak pondoh dan salak madu. Warnanya juga berbeda yaitu putih kekuningan seperti gading gajah, sehingga disebut juga dengan nama salak bule.
Namun salak ini konon berkhasiat dan dijadikan sebagai salah satu terapi pengobatan, diabetes, kolesterol dan stroke. Hal ini menjadikan salak gading memiliki harga lebih tinggi dari salak pondoh dan salak madu.
Semua rombongan tour panen salak bersiap. Agar tak terlalu mencolok memang tidak semua mobil digunakan.
Anak muda seperti saat ke lokasi sunrise hanya menggunakan dua mobil saja. Rombongan orang tua pun seperti itu. Pak Basalamah dan nyonya ikut mobil pak Lesmana. Pak Cokro ikut mobil pak Siswojo.
Ada tiga kebun yang akan mereka datangi. Karena tiap jenis salak berbeda lokasi. Hal ini agar tak terjadi perkawinan silang sehingga rasa buah tidak berubah.
Lokasi pertama yang rombongan datangi adalah kebun salak Gading. Salak berkulit kuning dan berasa asam ini tetap saja menjadi primadona penghasilan bagi para pekebunnya karena harganya justru lebih mahal dari salak madu dan salak pondoh. Itu karena salak jenis ini mempunyai khasiat obat yang berbeda dengan salak madu dan salak pondoh.
Farouq sang fotografer selain tangannya cekatan mengambil foto, mulutnya juga paling heboh. Semua hal dia komentari. Banyak foto candid yang dia ambil.

“Buahnya cantik ya,” bu Basalamah memuji bentuk warna dan size salak gading ini.
“Sayang rasanya masam,” sahut bu Lesmana yang sedang mencicipi hasil panen.
“Iya tapi banyak dicari karena baik untuk kesehatan,” sahut bu Basalamah lagi. Para ibu memang berkumpul sendiri.
“Bener juga ya. Walau kalau dimasak kandungannya pasti susut sedikit akibat pemanasan,” bu Lesmana yang dokter membenarkan cara konsumsi setelah diolah.
“Iya, dulu alternatifnya kan hanya dibuat manisan atau asinan. Sekarang banyak yang nyoba disayur.” bu Tiwi memberi keterangan.
"Kalau begitu saya mau minta yang muda untuk saya coba tumis,” sahut bu Basalamah penasaran.
Bu Tiwi langsung meminta seorang pegawai untuk memanen satu dompol yang masih sedikit muda agar bisa dimasak.
\*\*\*
Lokasi kedua adalah kebun salak madu. Salak yang paling manis dari tiga jenis yang pak Cokro budidayakan.
Bagi yang tak suka manis, jenis ini kurang disukai. “Ini bener-bener seperti madu ya, manis banget,” Ilham yang sedang mencicipi salak yang baru panen memuji kadar gula salak madu.
“Ini lebih enak dari yang gading ya. Manis,” pak Lesmana ikut memberi penilaian.
“Tergantung yang mengkonsumsi Pak. Yang suka manis sekali akan memilih salak madu. Tapi yang suka manis dan masir lebih memilih salak pondoh walau size buah sangat kecil.” jawab pak Cokro.
“Nah yang butuh buat obat akan membeli salak gading,” lanjut pak Cokro pemilik kebun.
“Ini langsung ada pembeli setiap panen?” tanya pak Farhat. Dia melihat pengepul sudah menunggu tanpa perlu pekebun menjajakan hasil panennya ke pasar.
“Iya, seperti ikan dan susuu sapi, hasil kebun juga langsung ada penampung sehingga kami tak perlu repot memasarkan."
"Kalau harga yang dia tawarkan terlalu rendah dan beda jauh dari harga pasar, kita langsung hubungi calon pembeli lain. Sehingga pengepul disini tak berani menekan harga. Karena kompetitor mereka juga sangat banyak,” jawab pak Cokro.
“Bagaimana bila tak ada yang ambil hasil panennya?” tanya pak Lesmana penasaran.
“Para ibu penggerak PKK bersedia ambil. Mereka akan olah menjadi manisan kering, manisan basah atau asinan,” pak Cokro menjawab pertanyaan pak Lesmana.
“Intinya tak perlu takut tidak terjual ya,” pak Farhat kembali membuka salak entah yang keberapa.
\*\*\*
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNREQUITED LOVE itu ya.