THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
TAK PERCAYA



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Lalu kecoa gendut  menyebutkan nama seorang pengusaha terkenal di Solo, pemimpin sebuah  perusahaan besar lengkap dengan nama perusahaannya dan alamat lengkapnya



Semua di ruang meeting itu diam tak percaya



"Agar tidak salah duga, dan jangan sampai menjadi fitnah. Saya tanya, apa ini bos anda?" petugas memperlihatkan dulu ponselnya ke kamera yang merekam kejadian itu sehingga semua peserta meeting di hotel bisa melihat foto siapa di ponsel petugas, sebelum memperlihatkan pada kecoa gendut.



Di ponsel itu terlihat foto seorang pengusaha yang namanya telah disebut oleh kecoa gendut tadi.



"Betul Pak dia atasan saya dia Bos saya dia yang memberi perintah pada saya Oke terima kasih jawab petugas itu.



Semua tak percaya saat video dari pak Adnan selesai diputar di laptop.



Farhat menutup wajahnya dengan kedua tangannya sedang bu Farahdina terisak karena tak mempercayai rekaman yang diputar tadi.  



Farouq langsung berjalan cepat menghampiri uminya. Dia memeluk ibunda terkasih.



Jhon memeluk erat istrinya yang juga terisak.



"Bagaimana mungkin?" Ilham berkata lirih. Lesmana, masih menatap layar monitor yang telah kembali ke wallpaper bergambar markas polisi.



"Itu video dari pak Adnan.  Sudah jelas apa dan siapa pelakunya!



"Kami juga punya bukti transfer atas nama pelaku jadi jelas kan tidak boleh ada yang bocor ke luar ruang ini," kata Juned.



Di depan pintu pun ada tiga orang yang berjaga untuk mengantisipasi ada pendengar di luar keluarga Basalamah.



"Kak Dina, Kak Farhat, Farah dan kalian semua harus bersabar. Kami tidak akan menangkap pelaku sebelum acara pesta selesai digelar, karena nanti akan heboh."



"Nanti orang tersebut akan datang ke acara resepsi anda. Dia tak mungkin tidak datang agar tak kelihatan kalau dia bintang utama kejahatan kemarin."



"Aku akan menangkap sesudah resepsi berlangsung paling tidak besok pagi." Janji Juned.



"Baik kami menerima dengan sabar hati," kata Farhat.



Farhat masih tidak percaya pelaku adalah orang yang sangat dekat dengan dirinya dan anaknya yaitu Farah.



"Ada pertanyaan lain?" Juned bertanya pada audience. 



"Tidak," jawab beberapa orang.



"Jelas ya ini tidak ada hubungannya dengan Indra dan Indra."



"Kalau tidak ada kaitannya dengan Indra dan Indira, mengapa semua harus datang?" Lesmana penasaran.



"Kalau yang datang hanya istri atau suaminya saja. Lalu begitu selesai meeting pasangannya tanya pasti akan diskusi. Itu misi rentan bocor."



"Atau kalau tidak diskusi, pasangan akan ribut karena masing-masing akan ngotot. Yang satu tak bisa bercerita karena sudah dilarang, pasangannya ngotot mendesak harus cerita. Bukankah itu tambah bikin runyam?" Jawab Juned lugas.



"Keluar dari ruangan ini tidak ada diskusi tentang masalah ini. Baik sesama suami istri atau antara kakak adik.  Diskusi boleh dilakukan setelah besok siang karena maksimal besok pagi kami baru akan eksekusi pelaku."



"Mulut anda adalah kunci keberhasilan misi kami. Kalau misi kami gagal anda yang akan menanggungnya. Sampai sini pertemuan kali ini. Selamat siang.  Wassalamu'alaykum warahmatullahi wabarakatuh."



Juned menutup pertemuan yang itu. Tak ada yang bisa bicara walau mulut gatal pengen ngomong.


\*\*\*



Sesuai dengan ultimatum Juned. Semua keluar ruangan meeting dengan diam tak ingin bicara banyak dan tak ingin salah karena nanti akan berakibat fatal.



"Kita ngemil sore aja yok," Ajak Amie pada Putri.



"Habis ngemil dan ngeteh di ruang meeting, mau nyari apa lagi ?" tanya Putra pada Amie.



"Oh ya aku mau ngambil kue lagi aja,"  Putut berlari ke dalam ruangan meeting lagi  lalu mengambil banyak kue baru dia keluar.



"Ampun kui bojomu Mie. Bikin malu aja," goda Putri.



" Ha ha ha, itulah bojoku tercinta," sahut Amie tanpa rasa bersalah. 



"Yang hamil siapa, yang ngidam siapa," ejek Jhon sambil berjalan meninggalkan mereka karena dia sudah harus mulai ke ruang rias pengantin lelaki.



"Ojo ngenyek tho Mas.  ketulah nembe ngerti kowe," sahut Putut sambil mulai mengunyah kuenya.



"Mau apa lagi Yang?" Putut bertanya pada sang nyonya.



"Pengen ngebakso pedas panas ngono lho Mas. Biar ini mulut diem soalnya kepengen ngomong aku," kata Amie.



"Ngomongin bojo yang tukang makan yo Dek," goda Putri. Mereka bercanda karena tak mau keceplosan omong soal masalah tadi di ruang meetingya.



"Kita ke cafe aja yuk," kata Putri. 



"Aku yo kepengen bakso pedas panas, eh tapi yo pengen siomay juga sih," Putri malah bingung menentukan pilihan.



"Jangan-jangan udah jadi Mbak," kata Amie.




"Ealah kirain udah jadi biar anakku ada temannya."



Akhirnya mereka berdua ke Cafe diikuti suami mereka pastinya. Farah sudah berpisah karena dia sudah bersiap akan dirias terlebih dulu. Farah dan Jhon akan mulai dirias.



Amie memesan bakso kuah. Sedang Putri memesan bakso pangsit kuah tanpa mie. Putut tidak memesan apa-apa. Dia sibuk mengunyah snack yang dia bawa dari ruang meeting.



"Mas beli siomay sana," pinta Putri.



"Kenapa?"



"Nanti aku kan cobain," kata Putri lagi.



Putro pun memesan siomay sesuai keinginan istrinya.



"Enggak mau coba rujak Mbak?" kata pegawai hotel yang menulis pesanan mereka.



"Ada rujak serut, rujak bebeg dan rujak iris," tawarnya lagi.



"Aku minta rujak serut sedang saja," pesan Putut.



"Tumben," Amie menggoda suaminya.



"Kepengen aja.  Kok kayaknya denger rujak serut langsung kemecer membayangkan enaknya.



"Kalian tuh yang hamil sopo toh?" kata Putri. Sebagai dokter dia tahu apa yang dialami Putut. Sindrom couvade. 



"Aku yang hamil tapi yang ngidam bojoku," kata Amie sambil mengelus-ngelus perutnya.



"Enak kayak aku Mbak. aku makan nggak pantang  nggak ngidam atau muntah-muntah. Enggak rewel pokoknya hamilku.."



"Santai wae yang rewel malah Mas Putut," kata Amie.



"Malah enak tuh," kata Putro.



"Iya Mas. Malah enak. Jadi nggak keganggu asupan untuk bayinya. Dia kan nggak susah karena muntah. Jadi semua makanannya buat bayi." Jelas Putut.



"Yang agak repot susunya harus pakai air rebusan jahe atau air rebusan kacang hijau. Tapi dalam hal lain baby enggak rewel dengan muntah.



"Enggak ada yang rewel bayinya," Putut memuji calon anak di perut Amie.



"Alah bukannya dia rewel nek enggak maem ikan," protes Putro.



"Itu mergo anakku sadar dia anaknya juragan tambak Mas," kata Amie.



"Anak juragan tambak kan ngerti bapake punya ikan banyak," semua tertawa.


\*\*\*



Farahdina atau nyonya Basalamah dipapah oleh Ilham dan Faruq untuk kembali ke kamarnya. Dia sangat terpukul melihat siapa otak pelaku rencana pemasukan racun untuk dirinya, anak-anak dan menantunya. 



"Umi harus lupain semuanya. Umi harus lupain semua hasil rapat. Kita sekarang fokus pada resepsi Aya dan Jhon."



"Iya," kata bu Basalamah.



"Umi bawa suplemen buat stamina nggak? tanya Farouq.



"Bawa. Ada di tas Umi," jawab Faradina.



"Ya udah minum itu supaya nggak drop nggak lemes. Kita harus kuat sampai nanti tengah malam pesta usai," kata Farouq.



Kedua anak lelaki itu membawa Uminya ke kamarnya.



"Habis ini Umi langsung ke ruang rias tempatnya Aya," kata Ilham.



"Iya Bang temenin Umi ya sampai ke ruangan dandan," Basalamah serasa agak melang kalau jalan sendiri dari kamarnya ke ruang rias.



"Pakaian Umi udah disiapin?" 



"Pakaian pesta udah. Pakaian Abi juga udah di ruang ganti laki-laki," kata umi Basalamah.



"Ya udah ayo kita bersiap nanti aku anterin Umi ke ruang ganti perempuan sekalian Umi di rias.



"Ayo." 



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1676655715170.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA itu ya.