THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
HARUS MULAI EGOIS



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Farah dan Jhon tiba saat hampir makan siang. 



"Langsung ke kekamar wae Mbak. Amie lagi ngasih ASI," kata Putut. 



Jhon pun memberikan semua kado pada Farah. Tentu dia tak mau masuk saat Amie sedang memberi ASI.



Hanya stroller yang tidak diberikan ke Farah. Jhon memberikan langsung pada Putut.



"Gimana Dek rasanya ngelahirin?" Farah penasaran.



"Standart sih Mbak sama lah semuanya Mbak. Enggak usah mikir itu sakit atau apa. Semua sakit dan capek itu hilang begitu lihat muka bayi kita Mbak," kata Amie.



"Iya juga ya," Farah  walau belum melahirkan pasti bisa membayangkan bila telah bertemu dengan bayi yang selama ini dikandungnya.



"Sekarang Mas Putut berubah lho Mbak," Amie memberitahu Farah.



"Berubah gimana?" Farah penasaran akan perubahan seorang lelaki yang baru jadi Bapak tiga hari.



"Dia bikin peraturan Mbak," Amie mulai bergosip



"Maksudmu?"



"Kan kalau biasanya kalau orang *tilik* bayi Mbak di kampung itu wajar sih pada minta gendong nyobain gendong bayinya lalu pada diciumin bayinya. Ama mas Putut semua yang datang nggak boleh Mbak. Kecuali keluarga kayak abi umi boleh gendong Rani."



"Tapi kalau tetangga atau saudara enggak dekat, nggak ada yang boleh." Amie menjelaskan peraturan yang Putut buat.



"Enggak aneh lah. Sebenarnya itu bagus. Emang kita tahu mereka sakit atau enggak. Emang mereka yang mau nanggung kalau anak kita sakit?" Farah malah setuju pendapat atau peraturan yang Putut buat.



"Aku ngerti Mbak, mas Putut bener. Aku ngerti, tapi adat di sini kan beda," keluh Amie.



"Susahnya di situ tapi itu bener kok Dek. Jangan korbanin anak kita buat orang lain lah." Farah menghibur Amie yang galau karena tak enak dengan para tetangga.



"Iya ibu juga gitu Mbak. Biasanya ibu paling enggak enakan aman tetangga. Eh tadi beda."



"Tadi ibu bilang kamu makan makan aja  Kamu harus pikirin dirimu sendiri nggak usah peduliin orang lain. Biasanya Ibu nggak enakan sama tamu."



"Sekarang kita harus sedikit egois. Karena semua itu buat kepentingan kita. Aku yakin Mas Jhon juga akan seperti itu kalau anak kami lahir.



"Iya bener Mbak. Ya udah Mbak makan dulu sana." Amie menyuruh Farah makan siang.



"Aku mau makan ayo Dek kita makan." Ajak Farah.



"Nanti ya Mbak habis nyusuin baru aku makan."



Saat Amie selesai menyusui Jbon boleh masuk oleh Putut.



"Jadi ini nih anaknya juragan tambak?" Goda Jhon melihat keponakannya. Mereka langsung tertawa semuanya



"Itu princess Ayah lho Pakde," balas Amie.



Tak lama Ragil dan Wahyu pun ikut masuk.



"Aduh ini para jomblo bikin ruangan jadi sempit," Farah menggoda dua 'adik-adiknya' itu.



Tak lama dua anak jomblo berikutnya masuk yaitu Ilham dan Farouq.



"Ayo pada makan siang dulu," ajak Putut.



"Ayo ayo makan siang," Jhon pun cepat menanggapi karena memang sudah lapar.



"Bunda mau keluar yuk, Ayah tuntun keluar," Putut siaga menjaga istrinya.



"Ayah nih, wong Bunda bisa jalan kok dituntun," kata Amie.



"Cie cie sekarang panggilannya beda," goda Farah.



Semua pun keluar. Bayi baru umur tiga hari kan nggak bakal nangis. Kerjanya masih tidur terus.



"Ayo udah kita tinggal aja," kata Putut.



Mereka pun semua makan di luar.



"Lho siapa yang jagain baby?"  Umi yang baru masuk ke rumah belakang langsung bertanya.



"Sendiri Umi. Baru mimik ASI," jawab Putut.



"Ya udah Umi masuk ya," kata Faradina.



"Iya Umi silakan," Putut mengantar Uminya masuk. Tak berapa lama datang Cokro, Siswojo dan Farhat.



"Mau lihat baby Abi?" kata John.



"Iya," balas Farhat.



"Ayo saya antar," Jhon akan mengantar para bapak ke kamar Putut.



"Ngapain diantar wong Ini rumahku," kata Siswojo. Dia kan emang anaknya mbah Harjo pemilik rumah.



"Oh iya ya, ada Ayah," kata John. Lalu John pun meninggal kan tiga Jagoan itu untuk masuk ke kamarnya Putut.



"Ini sekarang makannya udah nggak harus pakai ikan lagi Mie?" Goda Jhon.




"Kenapa?" Farah heran Amie wajib makan ikan.



"Sekarang harus banyak proteinnya," balas Putut meyakinkan



'Nah dia mulai kan dia Mbak," kata Amie.



"Mulai *piye tho* Yank?" Bantah Putut.



"Mulai ngatur-ngatur," jawab Amie.



"Ya kalau nggak diatur kamu makan sak karepmu. Sekarang kamu makan itu udah untuk berdua sayank,"  jawab Putut. 



"Iya lho Dek kita harus kasih yang terbaik buat anak kita," Farah kembali setuju dengan Putut.



"Pastinya lah Mbak," Jawab Amie.



Semuanya pun makan dengan lahap menu makan siang kali ini seperti yang Putut siapkan yaitu ikan bakar dan bebek rica.



"Abang gimana ceritanya tiba-tiba sampai sini?" Tanya Ragil pada Farouq dan Ilham.



"Waktu itu bilang kan udah lahir, udah tuh cuma bilang kan mau otw gitu kan "



"Enggak kepikiran juga mau beneran berangkat. Aku juga cuma bilang kan Oke nanti kita meluncur tapi belum punya wacana mau ke sini," kata Farouq."



"Begitu Putut bilang mau bikin aqiqah karena Jhon mau datang. Abang Ilham langsung cari tiket.  Kalau disini ngumpul semua ngapain Kita ketinggalan di ujung dunia sana?"



"Kita pesen tiket diem-diem," kata Ilham.



"Jadi Abi juga nggak tahu?" Tanya Wahyu.



"Enggak. Tadi aku dijewer sama Abi karena bikin kejutan," kata Ilham.



Memang waktu Abi dan Uminya datang mereka kaget jadi dia dijewer.



Semuanya tentu tertawa mendengar Ilham dijewer oleh Abi Farhan.



"Rasain makanya jangan nakal," kata Farah.



"Kebayang nggak sih ini makanan kayak gini ini yang aduh,  bikin terbayang-bayang,"  kata Farouq. 



"Padahal beli di mana-mana juga ada. Suasananya pokoknya ngangenin," kata Ilham. 



"Kita waktu Amie sakit itu tiap minggu lho ke sini tapi nggak pernah bosen tuh," kata Ragil.



"Malah enggak sabaran mau ke sini," kata John.



"Aku yang sering bolos karena aku terbang, tapi begitu aku libur aku ke sini sendirian."



"Iya bahkan pernah naik Prameks ya,"  goda Farah.



"Iya kalau nggak gitu kita nggak ketemu jodoh," jawab Jhon.



"Abang nanti jangan lupa bikin foto-fotonya," Putut meminta pada Farouq.



"Siap," jawab Farouq, dia memang tak pernah lepas dari kamera.



"Nanti aku bikin dari mulai kambingnya dipotong ya buat dokumentasi," janji Farouq.



"Iya Bang terima kasih," Putut senang. Sejak Rani lahir semua momen selalu dia dokumentasikan.



"*Anake juragan tambak gaya yo*? Baru lahir aja panggil fotografer dari Singapore," goda Ragil.



Tentu semua terbahak. 



Sore ini Putut memotong dua kambing. Yang wajibnya kan kambingnya satu untuk anak perempuan. potong dua ekor kambing, karena takutnya nanti kurang untuk para tamu.



Itupun masih ditambah ayam karena ada yang nggak makan kambing karena takut penyakit darah tingginya kambuh atau memang tak suka.



"Mbak kapan ketahuan jenis kelaminnya?" Amie penasaran dengan jenis kelamin bayi ya Farah.



"Bulan depan Dek. Tapi daddynya bilang sih ini  baby boy." Jawab Farah.



"Feeling aku seperti itu," jawab Jhon.



"Feeling atau hasil investigasi tiap malam?" kata Ilham.



"Mulai deh nyerempet-nyerempet kayak sudah berpengalaman," protes Wahyu.



"Aku kan emang nengokin,"  kata Jhon.



"Sstt, jangan dilanjut. Banyak anak kecil," Farouq melarang membahas nengok bayi. Mereka pun semua tertawa.



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1677442408891.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNCOMPLETED STORY itu ya.