THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
BERSAMA SEJAK SD



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




'*Kamu emang special ya RA. Kamu pengisi ruang hatiku*.' Putut membelai wajah lembut istrinya.



Putut ingat bagaimana Amie kecil selalu saja mengikuti dirinya sejak dia kecil. Dia seperti bayangan Putut. Sebelum kejadian penolakan cinta. Sehabis ditolak Amie langsung menghindarinya. 



Putut ingat ketika dia terjatuh sehabis main bola sore hari.



‘Kamu lagi apa?’ tanya Putut kecil pada perempuan kecil tetangga rumahnya. Putut baru pulang dari ladang kering yang digunakan untuk bermain bola, lututnya memar karena terjatuh.



“Main dokter-dokteran,” jawab Amie yang baru saja masuk kelas 1 SD.



“Coba obatin luka Mas ini,” pinta Putut.



“Mas berdarah, aku ambilkan obat beneran. Mas diam di sini,” Amie bergegas masuk rumah Putut dan mengambil kapas serta obat merah. 



Amie hafal letak tempat obat karena dia terbiasa di rumah Putut. Lalu dengan tangan kecilnya dia membasahi kapas dengan obat merah dan menempelkan perlahan pada luka di lutut Putut sambil dia tiup-tiup.



“Perih.” Desis Putut, saat lukanya di beri obat merah oleh Amie. Obat yang di tuang Amie menetes karena Amie menuangnya kebanyakan, sehingga tulang kering Putut berwarna merah. Putut tersenyum mengingat kejadian itu, saat dia masih SD.


\*\*\*



Putut juga ingat saat Amie sudah dibawa ke Jogja atas permintaannya. Amie ngamuk siang itu.



Putut baru memasuki gerbang desanya saat mendapat signal. Ada notifikasi banyak panggilan tak terjawab dari nomor ibu dan nomor khusus perawat Amie. 



Putut bergegas menuju rumahnya. ‘*Pasti ada sesuatu dengan Amie*,’ pikirnya. 



Putut memasuki rumah dan langsung membuka jaket serta topinya. Dia langsung masuk kamarnya untuk membersihkan diri dari debu yang menempel selama perjalanan. Sesudah bersih baru dia ke rumah belakang.



“Enggaaaaaaaaak ….” Putut mendengar teriakan Amie, saat dia belum sampai di rumah Amie, dia bergegas. Dilihatnya Amie sedang dalam cekalan ibunya dan perawatnya untuk ditenangkan. 



“RA, tenang ya RA.” katanya sambil memeluk Amie yang masih memberontak.



“Kamu kenapa RA? Apanya yang enggak?” Putut membimbing Amie duduk di sofa agar bisa bicara. Dia memeluk lembut tubuh Amie. Dan menerima air putih dari perawat memberikan pada Amie. 



“Bajumu basah, ganti baju dulu sama bulek, nanti kita ngobrol lagi ya. Mas PU tunggu di sini,” Putut mengajak Amie ke kamarnya untuk di lap badannya dan digantikan baju. Dia segera keluar kamar dan tak lupa menutup pintunya.



“Ada apa ya Nang?” tanya bu Tiwi yang sampai berkeringat menangani amukan Amie tadi.



“Sepertinya ada lintasan di benak Amie, Bu. Mungkin masalah tabrakan yang dialaminya,” duga Putut. Dia pun mengambil tissue untuk mengeringkan keringat di dahi dan lengannya.



“Apa perlu kita bawa ke dokter lagi, biar dikorek-korek apa yang dia rasa?” tanya bu Tiwi lagi.



“Ibu lihat sendiri, saat ditanya dokter jiwa saja, dia tak terpancing. Matanya tetap diam tanpa ekspresi. Mendingan reaksi dia saat aku tanya ‘kan? Matanya kadang berputar, kadang ada anggukan. Kemarin ke Wahyu saat ditawari ice cream dia juga ada respon, menggenggam lebih erat.” Putut menolak membawa Amie ke dokter karena dia habis rewel. 



Putut ingin menyelesaikan lewat pendekatan personal saja. Putut yakin, mereka akan bisa membawa jiwa Amie kembali dari petualangannya saat ini.




Perawat mendudukkan Amie di sebelah bu Tiwi dan dia kembali ke kamar Amie untuk membereskan baju kotor serta handuk basah bekas mengelap badan Amie.



“Ibu sayang Amie. Kalau Amie sedih, Ibu juga sedih. Ibu ingin kamu bahagia sama Ibu ya Nduk,” bu Tiwi membelai puncak kepala Amie dengan lembut.



Putut mendekati Amie yang masih dalam dekapan ibunya. Dikecupnya kening Amie lembut dan ditatapnya mata Amie. “Kamu di sini dengan ibu ya. Mas mau maem dulu. Jangan rewel lagi. Kalau RA rewel, mas PU enggak mau sayang sama RA.” Putut melihat Amie memandang matanya lekat. Lalu dia jatuhkan pandangannya ke bawah saat mendengar Putut tak mau menyayanginya lagi. Dengan gerakan bola mata itu, Putut merasa Amie mulai merespon. Dia langsung meninggalkan rumah Amie untuk makan siang. Namun sebelumnya dia berbisik ke ibunya.



Sehabis makan malam, Putut membawa Amie ke teras. Dia mempersilakan bulek perawat makan malam dulu. Di teras Putut menggenggam jemari Amie lembut namun erat. 



“Mas mau kamu sembuh, nanti kita main sepeda lagi ya? Kamu ingat ‘kan, sering mbonceng sepeda sama Mas saat kita ke sawah dulu? Atau kita ke tambak bakar ikan?  Sekarang Mas mulai tanam patin dan gurame selain lele dan nila. Kamu bilang ingin makan gurame asem manis.” Putut menciumi jemari Amie. 



Putut sedih melihat jiwa pujaan hatinya berada di dunia lain, padahal tubuhnya berada di depannya. Ada sedikit tarikan dari tangan Amie saat jemarinya dikecup Putut. Semua reaksi sekecil apa pun akan dicatat oleh Putut.



“Enggak suka ya tangannya Mas cium? Atau malu? Atau mau dicium tempat lain?” tanya Putut ambil terus memandang bola mata Amie lekat-lekat. 



Kalimat Putut bukan gombalan untuk menggoda. Itu rangsangan untuk melihat reaksi Amie.



Dia ingin melihat pergerakan bola mata itu. Dia ingin memastikan ada reaksi di sana. Dilihatnya bola mata itu bergulir ke bawah seakan malu mendengar pertanyaannya. Dia mengecup kening Amie dengan lembut. “Mas sayang kamu RA, cepat sembuh ya!”


\*\*\*



'*Untung kamu sembuh ya Yank. Walau enggak singkat. Semua daya Mas kerahkan ketika jiwamu belum kembali. Perjuangan itu tak sia-sia*.' Putut terus saja membelai lembut pipi istrinya.



Putut kembali mengingat saat dia proses menyembuhkan Amie.



"Kita jalan-jalan sore ya,” ajak Putut pada Amie, sudah seminggu ini, setiap sore Putut mengajak Amie berjalan ke jalan raya di depan rumah Putut, bukan rumah simbah Harjo yang ditempati Amie. Rumah Putut persis ditepi jalan raya, sedang rumah Amie yang sekarang mereka tinggali di belakang rumah Putut.



Putut ingat saat itu bulan ke empat sejak Amie mengalami kecelakaan, bulan Juni. Sebentar lagi bulan kelahiran Amie sekaligus setahun hari pernikahannya. Putut sangat berharap Amie segera bisa berinteraksi. Kemajuan di bulan ini tatapan Amie sudah tidak selalu kosong. Kadang terlihat Amie seperti mengerti sesuatu. Namun lalu kembali lagi ke mode semula, mode tanpa jiwa. 



Kadang, ada beberapa tetangga yang kenal atau teman Amie yang lewat akan menyapa perempuan itu. Dan kadang akan terlihat senyum di bibir Amie sebagai balasan dari sapaan itu. 



Tentu saja kadang yang di maksud Putut bisa dihitung jari satu tangan. Tapi semua itu sudah kemajuan yang patut Putut syukuri. Saat sedang menemani Amie sore ini, ada chat dari nomor baru yang diterima Putut. ‘*Mengapa nomorku di blokir*?’ Putut sadar, ini pasti nomor Nadia, mantan kekasihnya ketika di Bandung dulu. karena hanya nomor perempuan itu yang di blokir oleh dirinya. Tanpa pikir panjang, nomor baru itu kembali Putut  blokir.



Putut mundur beberapa langkah dari Amie, sengaja ingin mengetahui respon Amie bila perempuan itu sadar tak ada dirinya disamping Amie. 



Cukup lama Putut menunggu reaksi Amie menyadari ketidak hadirannya disisi perempuan mungil itu, setelah 15 menit Putut mulai melihat kepala Amie bergoyang tanda gelisah. Putut tetap diam tak bersuara atau bergerak. Akhirnya Amie duduk bersimpuh di tanah memeluk lututnya, kepalanya ditenggelamkan di kedua lututnya.



“Kamu nyariin Mas PU? Kalau nyariin kenapa enggak manggil? Kenapa enggak nengok ke belakang nyari Mas, lalu peluk Mas?” bisik Putut sambil memeluk bahu Amie yang sedang terisak. Isakan Amie semakin kencang, dia langsung memeluk Putut dengan erat seakan takut ditinggalkan.


\*\*\* 



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1677068230941.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.