
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Mas Putro langsung membaringkan Amie di dipan yang biasa digunakan penjaga tambak. Aku memberikan fresh care yang memang biasa ada dalam saku celanaku. Mas Putro mengupayakan agar Amie bisa segera sadar.
“Ada apa?” tanya Putut yang baru masuk kembali ke tambak dan dilaporkan Amie pingsan.
“Entah apa yang dia dengar dari bisik-bisik konsumen. Lalu dia teriak dan pingsan,” jawabku.
“Itu sebabnya tadi aku melarang mas Putro bertanya tentang keluarga Angga. Karena bila mendengar nama itu, Amie akan terpancing emosinya. Kemarin dia menjerit rupanya di televisi ada iklan sinetron yang tokohnya bernama Angga.” Jelas Putut. Padahal yang di setel adalah film kartun, dan Putut atau perawat tidak tahu kalau akan ada iklan sinetron di tayangan itu.
Cukup lama Amie baru tersadar. Mas Putro langsung memeluknya serta membisikkan kata-kata lembut untuk adiknya. Sementara Ragil langsung membuatkan teh hangat manis. “Kita pulang saja yok, biar Amie bisa tiduran untuk istirahat,” ajakku.
Kali ini Putut dan mas Putro yang duduk di depan, aku dan Ragil mengapit Amie di kursi belakang. Putut mengirim pesan padaku dan mas Putut. ‘Untuk selanjutnya jangan pernah membicarakan tentang Angga atau tragedi kecelakaan di dekat Amie.’
Pesan yang sama Putut kirimkan pada kedua perawat, ibu, Wahyu, ayah. Dia tak ingin kasus serupa terjadi lagi. Aku dan Ragil membimbing Amie masuk kamarnya, tapi perempuan itu tak mau, dia menahan langkahnya agar tidak masuk ke kamar. Maka aku langsung mengerti dan membawanya ke sofa ruang tamu.
“Aku sudah baca pesanmu,” mas Putro dan Putut duduk di teras, ada empat gelas kopi tersedia di sana. Rupanya mbok Pedes juga menyiapkan kopi untukku dan Ragil.
“Itu lah Mas, sekarang dia mulai mendengar apa yang kita bahas, walau belum ada reaksi. Dia hanya akan bereaksi bila pembicaraan menyebut kata Angga atau kecelakaan, atau bisa juga bayi. Makanya tadi aku melarang Mas menanyakan masalah keluarga Angga,” balas Putut.
Putut dan Putro tak habis pikir, saat ini sudah tiga bulan sejak meninggalnya Angga, dan semua keluarga Angga tak ada yang peduli pada kondisi Amie.
“Besok 100 harinya Angga, kita lihat, apa keluarga Angga ada yang teringat terhadap adikku, istri resmi almarhum Angga!” aku langsung ikut bicara menginterupis diskusi mas Putro dan Putut
“Kalau sampai tak ada yang ingat, aku akan langsung memulangkan surat tanah dan surat mobil Angga pada kedua orang tuanya. Akan aku kosongkan rumah Angga dari barang Amie. Aku juga akan buang semua foto Amie dan Angga di rumah itu. Aku tak mau adikku dihina seperti ini!” aku sudah sangat terluka.
Aku sangat sakit hati, Amie tak dianggap oleh keluarga Angga. Aku akan datang untuk memutuskan hubungan kekeluargaan Angga dengan Amie.
“Aku sependapat Mas, aku juga tak suka Amie dibuat keset seperti sekarang,” tetiba Ragil juga memberi pendapat. Rupanya Amie sudah di kamar ditemani oleh perawatnya.
“Boleh juga seperti itu, biar ayah dan ibu juga menemui mantan besannya itu. Mereka minta baik-baik ke rumah kita, maka besok kita memutuskan juga baik-baik. Kita lakukan akhir minggu ini sesuai jadwal ayah dan ibu datang ke Jogja. Kita ke sana hari Sabtu, karena hari Jumat aku tidak bisa bareng ayah dan ibu nginep sini.” mas Putro pun akhirnya ikut memberi masukan. Hanya Putut yang tak mau ikut berpendapat soal ini.
“Mulai besok kita kosongkan barang Amie dari rumah Angga. Dan Ragil, motor Amie kamu jual saja, nanti dibelikan yang baru. Aku tidak mau Amie terkenang dengan kecelakaan itu bila dia melihat motornya. Kalau bisa belikan yang warnanya beda dengan motor lama Amie.” Aku langsung ingin bergerak cepat.
***
Sesuai rencana, Ragil, dan ibu membantuku membereskan barang-barang Amie di rumah Angga. Kami tahu, rumah ini sudah Angga miliki sebelum menikah dengan Amie. Begitu pun mobil. Karena itu, kami tidak ingin bila keluarga Angga berpikir Amie mau menguasai harta Angga. Bahkan semua buku tabungan dan dompet Angga akan kami kembalikan. Penghinaan keluarga Angga terhadap Amie sudah sangat menyakitkan.
Bulat sudah tekad kami untuk memutus tali silaturahmi antara keluarga Angga dengan keluarga kami.
Andai Amie dirawat di Solo lalu keluarga Handoyo tidak datang menjenguk, mungkin kami akan memakluminya. Namun ini, Amie dirawat di desa Cangkringan Jogja, jarak dengan kediaman keluarga Handoyo hanya tak lebih dari 12 KM saja. Alasan apa mereka membuang Amie?
Semua biaya perawatan Amie juga tak ditanggung oleh keluarga Angga. Semua ditanggung sendiri ayahku. Attensi penuh hanya dari keluarga Cokro. Lalu apa salah Amie? Perempuan belia itu sama sekali tidak merugikan keluarga Handoyo.
Keluarga Cokro bahkan tak mau gaji dua orang perawat ditanggung oleh ayahku. Mereka minta itu mereka yang tanggung karena mereka merasa Amie adalah bagian keluarga mereka.
‘Aku akan bicara tegas, aku tak ingin Amie dihina seperti ini. Hari ini sudah hari ke 104 sejak meninggalnya Angga, dan ternyata keluarga Angga sama sekali melupakan sosok istri almarhum Angga yang masih hidup dan berada di desa sebelah dari rumah tempat mereka tinggal. Mereka memang sudah tak punya hati,’ batinku geram.
Sekarang semua barang Amie di rumah Angga kembali ke kamar Amie semasa gadis. Uang penjualan motor sudah disetorkan ke tabungan Amie semasa gadis.
Seminggu sejak Angga meninggal, pihak kampus sempat mendatangi rumah sakit tempat Amie di rawat. Management kampus melaporkan sebulan sejak menikah Angga mengurus pemindahan gaji rutin dan semua pendapatannya langsung ke rekening Amie.
Sehingga uang duka dari kampus serta uang sumbangan rekan serta mahasiswa semua langsung di setor oleh management kampus ke rekening Amie. Mereka memberikan copy bukti transfer. Semua berkas itu diterima oleh mas Putro sebagai wali dari Amie.
Rupanya sejak lama Angga mempunyai firasat akan meninggalkan Amie. Tentu saja uang duka sangat besar, karena kampus Angga bukan universitas negeri yang mempunyai program pensiun. Kalau karyawan meninggal tak ada uang pensiun bulanan dari kampus. Sebagai gantinya adalah uang duka yang diberikan sekaligus.
Kami merasa itu hak penuh Amie, tak akan diberikan kepada keluarga Handoyo.
***
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNREQUITED LOVE YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL UNREQUITED LOVE ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta