
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Farah pulang bersama Jhon ketika suaminya datang menjemput. Seperti yang tadi pagi Jhon katakan, dia sengaja tidak turun dari mobil agar tak terlihat mencolok oleh Indra.
“Tadi umi titip bumbu di toko bahan kue. Mampir dulu ya Kak,” pinta Farah saat Jhon mulai melajukan mobil miliknya keluar dari parkiran kantor Farah.
“*Babe*, besok jadwal orang notaris datang ke kantor abi. Aku ‘kan enggak boleh tahu soal pengalihan saham itu. Enaknya aku harus gimana?” tanya Farah.
“Gimana kalau kamu ikut aku kerja?" tanya Jhon iseng.
“Ha ha ha, emangnya aku harus ngebolos satu minggu,” jawab Farah.
Farah tahu Jhon tak akan mungkin menemaninya selama penerbangan. Lalu sehabis itu Jhon akan tidur memulihkan staminanya. Kapan nemani dia coba?
“Ya besok kamu diam di ruanganmu aja. Atau sengaja di lobby seperti waktu itu,” jawab Jhon.
Mereka segera turun dari mobil ketika sampai di toko bahan kue. Beberapa bumbu memang dijual di toko bahan kue ini dan bu Basalamah sering titip pada putrinya.
Setelah membeli titipan ibunya, Farah langsung kembali ke rumah. Selama di Solo dan tidak terbang memang Jhon terus memantau pembangunan proyek pompa bensinnya. Sehingga Farah tahu suaminya pasti lelah.
Jhon tidak enak bila hanya di rumah tanpa bekerja. Kalau dirumah orang tuanya dia bisa mencuci baju dan masak untuk semua penghuni rumah.
Mereka masuk bersamaan dengan Farhat. Padahal dari kantor Farhat sudah pulang lebih dulu dan Farah mampir dulu ke toko bahan kue. “Koq lama sampainya Bi?” tanya Farah.
“Beli sate buntel. Abi masih belum puas kalau enggak makan lagi,” sahut Farhat santai sambil memperlihatkan bungkusan yang dia bawa.
Mereka pun masuk ke dalam rumah bersamaan. Farah memberikan bungkusan dari Farhat dan bumbu yang dia beli pada ibunya. Lalu dia beranjak ke kamar.
“Umi, besok jadwal kak Jhon pergi sebelum subuh. Kasih tahu satpam yang tugas malam ya?” Farah meminta sang bunda bicara dengan satpam. Karena Farhat memang melarang putrinya berhubungan dengan semua pegawai lelaki di rumah ini. Terutama yang masih bujangan.
“Iya,” sahut bu Basalamah. Dia meminta asisten rumah tangga menyiapkan makan malam dan memanaskan sate ke dalam *microwave*.
\*\*\*
Malam ini Amie dan Putut mulai menjalankan rumah tangga yang sesungguhnya. Mereka hidup mandiri. Karena rumah peninggalan orang tua Amie yang direnovasi telah selesai.
Mbok Pedes akan full mengurus simbah walau tak lepas dari pekerjaan lainnya. Tapi yang akan membantu semua urusan rumah tangga adalah bulek Bonirah atau biasa dipanggil bulek Irah.
“Mau nambah Mas?” tanya Amie pada suaminya.
“Cukup Yank, aku nambah sopnya aja,” sahut Putut. Mereka makan bertiga dengan simbah. Tapi simbah makan nasi tim bukan nasi biasa. Lauknya juga lebih banyak di tim. Tidak digoreng dan hanya sedikit garamnya.
Amie dan Putut duduk diteras sehabis mereka makan malam.
“Yank, tadi mas Jhon telepon aku. Dia tanya bisa enggak kita bebakaran hari Sabtu depan,” Putut memberitahu istrinya soal telepon dari Jhon siang tadi.
“Aku hanya sedikit terbatas bergerak. Tapi bukan enggak bisa gerak ‘kan. Bahkan sebenernya aku bisa aja jalan dengan kruk koq. Hanya mas Putro aja enggak mau aku lama pulihnya jadi dia belikan kursi roda ini,” sahut Putut.
“Kalau Mas bisa, ya atur aja. Malah bagus ‘kan mbak-mbak pada main kesini,” jawab Amie.
Amie senang Putut tidak langsung menjawab permintaan Jhon sebelum bertanya padanya. Itu artinya suaminya sangat menghargai dirinya sebagai istri.
Putut langsung menghubungi Jhon. Dia tahu besok pagi Jhon terbang. Itu sebabnya hari Sabtu dan Minggu besok tidak bisa dan mintanya minggu depan.
“Mas, Amie bilang kami bisa untuk minggu depan bebakaran di tambak. Kalau bisa menginap di rumah ya?” pinta Putut. Dia tentu akan senang bila Putro dan Jhon menginap dengan para istrinya.
“Aku dan Farah memang akan menginap. Kalau mas Putro aku enggak tahu. Nanti aku tanya dia ya,” jawab Jhon.
Jhon memang ingin membawa istrinya menikmati pemandangan indah di desa kelahiran ayahnya.
“Siapa *Babe*?” tanya Farah.
“Putut, Queen. Dia memberitahu mereka bisa menerima kita hari Sabtu depan dan meminta kita menginap. Aku menyetujuinya. Kalau mas Putro aku enggak tahu mereka mau menginap juga enggak,” sahut Jhon sambil menyiapkan pakaian di koper kerjanya.
“Wah senangnya kita akan menginap disana, aku akan manasin mbak Putri untuk ikut menginap bareng kita,” sahut Farah senang.
Memang Farah perempuan pingitan. Dia jarang keluar rumah selain dengan ayah, ibu dan kakak-kakaknya. Maka akan menginap dengan suaminya tentu pengalaman yang bagus untuknya. Putri pun demikian. Mereka memang anak yang sangat dijaga oleh para ayahnya.
"Siapkan topi, sun block, sepatu dan lotion anti nyamuk. Kita bukan piknik ke lokasi wisata tapi mau ke kebon dan sawah,” Jhon memberitahu istrinya itu.
“Siyap captain,” sahut Farah sambil memberi hormat pada suaminya.
Jhon gemas dan memeluk istrinya. “Bisa aku ambil hak ku malam ini Queen?” bisik ditelinga istrinya.
“*Off course Capt*,” sahut Farah.
Akhirnyaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa …
Pesawat Jhon bisa landing karena sudah suntik KB. Mereka tak takut bila Farah hamil ‘diluar nikah’.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNCOMPLETED STORY ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNCOMPLETED STORY itu ya.