THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
BUATKU KAMU SPECIAL



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Di depan, Jhon duduk bersama Ragil dan beberapa kerabat Wiwied yang lelaki, termasuk Widyo, sahabat Putro. Dia sudah tak mengingat Farah, karena walau bila berdekatan ada sedikit rasa berbeda, tapi buat Jhon belum terpikir ingin mempunyai kekasih.


“Jadi kapan pernikahannya?” tanya Widyo, saat Putro dan Wiwied mendatangi mereka satu persatu untuk menyampaikan terima kasih atas kehadirannya.


“Belum tahu Mas, itu sedang digodog di dalam dengan para simbah,” jawab Wiwied.  Wiwied dan Putro tidak takut bila besok harus menikah, karena persiapan baju, cincin serta mahar sudah ready.


Yang belum hanya gedung dan cattering. Perias pengantin juga sudah mereka hubungi. Yang mereka tunggu hanya hari yang ditentukan oleh para sesepuh, untuk dapat menyewa gedung dan mencetak undangan.


“Mas Jhon, aku enggak nyangka lho, Mas kenal dengan Farah. Dia sahabatku sejak SMP,” Wiwied menegur Jhon dengan panggilan Mas karena merasa Jhon lebih tua usianya.


“Kamu harus belajar panggil dia “De”, karena dia adikku,” protes Putro.


“Iya, dan karena dia, aku jadi malu. Aku bilang calon kakak iparku bernama Putri. Ternyata oh ternyataaaaaa…,” Jhon sengaja menggantung kalimatnya.


“He he he, memang panggilan dari mas Putro beda, dan dia yang bilang Putri ke keluargamu. Jangan salahkan aku,” elak Wiwied sambil bergayut manja pada lengan kekasih resminya. Ya, kekasih resmi karena sudah melakukan lamaran dengan orang tua.


“Karena buatku kamu memang special,” balas Putro sambil mengecup sekilas pipi calon istrinya. Tentu saja itu membuat Wiwied malu dan pipinya merona merah.


“Kebiasaan, enggak di rumah sakit, enggak di rumah. Selalu aja bikin hati jomlo merana melihat kelakuanmu,” Widyo langsung protes melihat kelakuan sahabatnya.


“Keplak wae Mas,” usul Ragil pada Widyo. Alih-alih Widyo mengeplak Putro, malah Putro yang mengeplak Ragil. Membuat semua yang melihat tertawa. Suara tawa mereka membuat kelompok Farah dan para gadis menengok ke arah suara.


***


“Mas Putro dan mbak Wied ditimbali ( dipanggil oleh orang yang lebih tua ) Bapak,” seorang asisten rumah tangga di keluarga Lesmana memberitahu Wiwied dan Putro dipanggil ke dalam.


“Putro dan Wiwied, kami sudah mendengar persiapan kalian sudah lengkap. Yang belum hanya gedung dan catering saja karena belum ada tanggal pasti. Maka kami sudah menetapkan, kalian akan menikah hari Jumat pagi dua minggu lagi. Sedang resepsinya bisa kalian sesuaikan dengan gedung yang bisa kalian sewa.” Demikian keputusan para sesepuh yang dikatakan oleh Lesmana Suhardono sebagai tuan rumah.


Wiwied dan Putro hanya menjawab dengan anggukan sambil tertunduk. Mereka manut ( menurut ) apa titah para sesepuh.


Kemarin Wiwied dan Putro sudah melihat jenis  undangan yang akan mereka gunakan. Sekarang Putro hanya tinggal mencari gedung yang akan dia sewa. Lalu tinggal memberi tahu tukang percetakan tanggal dan tempat resepsi.


Selesai sudah tahap persiapan. Putro dan Wiwied akan mencari dan membayar gedung besok paling telat lusa agar undangan bisa langsung di cetak.


***


Wiwied dan para sahabatnya sedang membahas pagar bagus dan pagar ayu untuk resepsi pernikahannya. Mereka harus jelas personalnya karena akan disiapkan baju sewaan. Agar tampak bagus tentu bajunya harus pas, tidak kekecilan atau kebesaran.


“Aku dengan mas Widyo,” usul Farah. Dia bingung hendak berpasangan dengan siapa. Saat ini semua panitia diminta berkumpul di rumah Wiwied untuk ukur badan.


“Mas Widyo sudah dengan Arum,” jawab Wiwied melihat catatannya.


“Bukankah ada dua orang adik mas Putro?” tanya Anti, seorang sepupu Wiwied.


“Ya enggak bisa, adik atau kakak mempelai ‘kan pakai seragam keluarga, bukan seragam pagar bagus. Mungkin mereka akan menjadi pagar bagus yang untuk keluarga, agar tahu tamu dari pihak keluarga.”


“Oh iya ya, mereka pakai baju beda.”


“Kamu enggak punya teman akrab yang bisa dimintai tolong?” tanya Farah. “Aku manut wae kamu pasangkan dengan siapa pun. Toh berpasangan hanya saat jadi pagar ayu thok.”


“Kamu ‘kan tahu, kita sama-sama tak boleh punya teman pria. Bagaimana mungkin kita punya teman lelaki yang akrab?” Wiwied mengeluh tentang larangan keras ayah-ayah mereka.


“Adik-adiknya mas Putro ganteng-ganteng ya,” celetuk Anti saat melihat Jhon dan Ragil turun dari mobil. Mereka juga hendak diukur badannya untuk baju seragam keluarga.


Tanpa diberi aba-aba, semua yang sedang ngobrol langsung menengok ke arah pandangan Anti. “Hallo Mbak,” sapa Ragil ramah pada Wiwied. Sementara Jhon hanya memberi senyum pada semua yang berada di sana.


“Hallo Dek, langsung masuk wae, biar cepet dapat giliran,” Wiwied menerima jabat tangan Ragil dan mengajak kedua adik calon suaminya ke teras yang digunakan sebagai ruang ukur laki-laki. Lalu Wiwied kembali ke gazebo, tempat tadi dia ngobrol dengan teman-temannya.


***


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL WANT TO MARRY YOU  YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL   WANT TO MARRY YOU  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta