
Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
Putut memandang wajah lembut yang sedang terbaring di ranjang mereka. Amie istrinya sedang tidur lelap sehabis makan siang. Perut perempuan itu buncit seiring usia kehamilannya yang menginjak bulan kedelapan
Sebentar lagi dia akan bertemu dengan buah hati mereka. Hasil pemeriksaan kemarin bayi sudah tak sungsang. Kepala sudah dibawah.
Bidan di ruang senam hamil mengajarkan Amie mengembalikan posisi bayi sungsang di dalam kandungan dengan mengangkat panggul setinggi 30 cm dari lantai.
Amie harus berada dalam posisi telentang dengan lutut ditekuk dan kaki menapak.
Amie dianjurkan melakukan selama 10-15 menit, sebanyak tiga kali setiap hari.
Selain itu Amie dan Putut juga melakukan terapi suara.
Amie dan Putut selalu rajin membujuk agar bayi mereka bergerak ke posisi yang seharusnya. Itu mereka lakukan rutin. Terutama Putut. Dia bisikan terus menerus di dinding perut istrinya.
'*Inikah gadis kecil yang menyatakan cinta padaku saat dia berusia empat belas tahun. Gadis yang masih duduk di kelas delapan atau kelas dua SMP*?'
Putut teringat dua hari menjelang keberangkatannya ke Bandung, Amie, nama gadis kecil itu datang ke rumahnya. Putut yang sedang membaca di bawah pohon sawo di depan rumahnya kaget saat Amie sudah duduk di sebelahnya.
“Mas, jadi lusa berangkat ke Bandung?" tanya Amie saat itu.
“Insya Allah jadi,” jawab Putut tanpa mengalihkan wajahnya dari buku yang dia baca.
“Aku mau bicara serius bisa?” tanya si kecil tanpa ragu.
Putut kaget, anak yang baru naik kelas delapan itu ingin bicara serius. Putut menutup bukunya dan menoleh pada wajah lugu gadis kecil di depannya.
Gadis sederhana yang sangat manis. Putut adalah orang yang paling menghargai orang lain tanpa pandang bulu. Maka saat ada gadis kecil ingin bicara serius, maka dia pun menanggapinya dengan serius pula.
“Kamu mau bicara apa?’
“Aku mau Mas jadi pacar aku, dan tidak melupakan aku saat Mas sudah di Bandung nanti.” Tanpa ragu Amie menyatakan niatnya. Anak ABG itu membuat Putut terkejut.
“Mas tidak bisa, kamu baru aja naik kelas dua SMP ‘kan? Kamu belajar aja yang rajin. Mas aja yang sudah lulus SMA belum niat pacaran, masa kamu malah pengin punya pacar?”
Putut berupaya menjawab dengan halus agar tak melukai perasaan gadis kecil di depannya.
“Aku tahu, aku masih kecil, tapi Mas tunggu aku. Tunggu sampai aku bisa jadi dewasa. Aku akan selalu setia menunggu Mas pulang dari Bandung.” Balas Amie dengan yakin.
“Tidak bisa. Kamu tak usah menungguku. Aku terlalu tua untukmu. Dan terlalu lama aku menunggumu hingga dewasa!” tolak Putut halus.
Amie berbalik badan dan langsung berlari pulang.
Sejak itu Amie tak pernah datang saat Putut mudik, padahal rumahnya ada di belakang rumah Putut.
Kalau Amie ingin keluar rumah, akan selalu melewati gang kecil dipinggir pagar rumah Putut.
Putut jadi sedih kalau ingat dia pernah menolak cinta istri kecilnya ini.
Lalu Putut ingat, dia kembali ke Jogja untuk mengejar cintanya. Tapi saat itu dia terpukul saat tahu Amie akan menikah dengan sahabatnya ketika SMA.
Amie menikah dengan Angga di tanggal ulang tahunnya. 07 - 07.
Putut tak bisa lagi merengkuh Amie. Tapi nasib membawa Amie pada pelukannya.
Kisah pengungkapan cinta Amie adanya sampai dia.menikah dengan Angga persis sama dengan lagu lawas yang ayah Putut sering putar. Lagu berjudul *Don't Cry Joni* dari penyanyi Conway Twitty. ( yang penasaran cari deh lagu itu di youtubb).
Bulan Februari Amie kehilangan bayi dan suaminya saat kecelakaan sepulang periksa kehamilan.
Lalu Amie terganggu jiwanya. Putut yang sudah kerja di PT TELKOM Bandung langsung datang ke Solo. Dan saat itu dengan restu kedua orang tuanya Putut memutuskan resign dari kantor demi merawat orang yang dia cintai.
Orang tuanya tak melarang dia berhenti kerja 'hanya' untuk mengejar cinta janda yang sedang hilang kesadaran.
Putut ingat saat di rumah sakit pertama kali dia menengok Amie yang sedang depresi. Amie tak mau bicara pada siapa pun dan tak mau mendengar perintah siapa pun kecuali suaranya.
Saat itu di rumah sakit, ponsel Putut bergetar, dia keluar ruangan untuk menerima telepon.
Amie yang keluar dari toilet tak melihat Putut langsung berlari untuk mencarinya. Tentu saja Ragil dan Jhon yang berada di dalam kamar kaget.
Amie yang tak menemukan sosok yang dicari tentu saja berontak tak mau dipegangi. Sedang Putut tanpa sadar berjalan menjauh beberapa kamar dari kamar Amie.
Saat itu temannya kerjanya di Bandung bertanya tentang file yang tak bisa dibukanya sehingga agak lama Putut memandu sang teman agar bisa membuka file yang dimaksud. Saat itu Putut belum resign. Itu pertama dia pulang ke Jogja untuk mengunjungi Amie di Solo.
Saat kembali dari telepon Putut melihatnya Putro sedang mencegah Amie untuk terus keluar kamar.
“Mau ke mana?” tanya Putut.
Tanpa berpaling atau melihat pada Putut, Amie langsung tenang. Dia kembali ke kamarnya dan naik tempat tidurnya dengan dibantu Ragil.
Bu Pratiwi ibunda Putut memperhatikan reaksi tenang yang diperlihatkan Amie setelah mendengar suara Putut. ‘*Bener kowe Nang, kalau kita pulang sekarang, tentu Amie akan histeris mencari sosokmu*,’ batin bu Tiwi saat itu.
Sejak itu Putut ingat kakak-kakak Amie meminta voice notenya.
“Put, aku minta voice note mu,” mas Jhon tetiba punya ide seperti itu.
“Buat apa Mas?” Putut tentu bingung.
“Kalau nanti tengah malam atau besok subuh Amie rewel, akan kuperdengarkan suaramu biar dia tenang,” jawab mas Jhon. Maka Putut pun mengirim pesan suara ke nomor mas Jhon.
‘*Bobo lagi ya RA*!’
‘*Mas PU di sini, kamu tenang ya, bobo lagi*!’
Dua pesan itu di kirim Putut untuk Jhon. Selain itu dia mengirim shalawat yang dilantunkannya. “Setel aja shalawat ini saat terlihat dia mau bangun Mas, biar agak tenang.”
“Panggilan kalian special ya?” goda Jhon.
“Itu enggak sengaja kami ciptakan Mas. Saat itu Amie baru kelas lima sekolah dasar, seperti biasa dia senangnya membuntutiku ke mana pun aku pergi."
"Sore itu aku sedang baca komik silat di bawah pohon nangka di belakang rumah. Amie duduk di ayunan."
”Mas, namamu itu nek manggilnya disingkat persis nama perempuan,” ujar Amie kecil.
“Maksudmu Cil?” Putut memanggil Amie dengan sebutan CIL dari kata cilik ( artinya kecil ).
“Nek disebut depannya PUT, ‘kan seperti mbak Puput yang rumahnya di ujung gang itu. Nek disebut belakange TUT, ‘kan seperti bulek Tuti.” Jawab Amie sambil terkekeh.
“*Iso wae kowe Cil. Ya kowe jangan manggil disingkat lah, ben ra koyo perempuan*.” Jawab Putut sambil terus membaca komiknya. Tadi Putut bilang, bisa saja kamu Cil, ya kamu jangan memanggil disingkat, biar tak seperti perempuan.
“Aku ‘kan enggak pernah nyebut namamu. Aku kalau manggil ‘kan cuma Mas. Tapi kalau aku nyingkat, aku akan panggil mas dengan sebutan Mas ‘PU’ aja, biar terdengar gagah.” Amie kecil menyatakan pendapatnya.
“*Karepmu*.” Jawab Putut. Artinya terserah kamu.
“Apa Mas PU enggak mau bikin nama spesial untukku?” tanya Amie polos.
“Buat apa aku bikin nama spesial untukmu? Enggak guna banget,” Putut bergumam.
‘*Lucu banget nih anak kecil*,’ batin Putut kala itu.
Amie yang kesal langsung berjalan dengan membanting-banting kakinya karena kesal.
“RA.” Panggil Putut. Dia menyebut Amie dengan sebutan ‘RA’, penggalan dari Rahmi. Karena penggalan nama Amie adalah nama umum yang semua kenal.
Amie berbalik badan dan tersenyum mendengar ia punya panggilan berbeda dari Putut.
Sejak itu mereka punya panggilan spesial. Sebenarnya bukan panggilan mesra. Karena saat itu saja Amie baru kelas lima SD.
***Ditunggu komen manisnya ya***.
***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.
***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.
Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR ya.

Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul KESANDUNG CINTA ANAK BAU KENCUR itu ya.