THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
PENAMPUNGAN USUL



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




"Bagaimana persiapan untuk rumah weekend? Bukannya minggu kemarin harusnya sudah mulai tinggal disana?" Tanya Amie saat dia sedang berdua dengan Putri.



"Rencananya hari Jumat besok baru akan mulai menempati rumah weekend yang pertama kali," kata Putri.



"Tapi kan berbenturan sama resepsinya Jhon, jadi kita agak bingung karena kan bawa baju banyak lalu malam Sabtu kita, termasuk kamu seharusnya menginap di hotel tempat acara kan?" Putri memang belum memutuskan apa hari Jumat besok sudah mulai tinggal di rumahnya. 



"Senang ya udah punya rumah impian," kata Amie lagi.



"Iya aku senang banget. Belanja furniture dan peralatan dapur juga seneng banget," Putri memang merasa sangat senang bisa menjadi diri sendiri. Selama ini dia harus menuruti semua kemauan mamanya.



"Jadi besok pending Mbak?" Amie memerjelas aa keputusan Putri.



"Enggak, nggak pending. Aku malah udah preparing banyak  baju.  Setiap hari pulang kerja aku tunggu-tumpukin yang mana yang mau aku bawa ke sana sekalian persiapan untuk resepsinya Jhon. Enggak lah Aku udah nungguin lama Masa harus di pending,"kata Putri lagi. 



"Pokoknya aku nggak akan ganggu hari-hari pertama dirumah sendiri," goda Amie.



\*\*\*



"Gimana persiapan apa namanya yang kamu bilang kemarin?" tanya Siswojo pada putra sulungnya.



"CAMPING BACK TO NATURE? Papa sih bilang setuju. Aku juga udah searching buat cari alat-alatnya." sahut Putro, dia memang pernah bercerita selintas dengan Siswojo akan menggulirkan ide ini.



"Emang alatnya butuh apa aja?" kata Ragil yang saat itu sedang ikut nimbrung dengan mereka. Putut pergi mengantar bu Dyah bertemu bu Basalamah.



"Ya cuma tenda aja sama kompor-kompor karena kan kompor camping kayak gitu kita nggak punya. Kompor masak buat di dapur umum itu kompor masak biasa sih.  Cuma yang yang buat setiap tenda aja  jumlahnya harus banyak." 



" Yang buat tiap tenda berupa kompor camping yang kecil buat tiap keluarga itu loh. Yang buat bikin kopi pagi hari," jelas Putro.



"Saran aku sih nggak usah deh Mas kompor kecil itu," kata Ragil.



"Siapin aja dispenser yang panas dingin di dapur umum. Semua yang mau bikin kopi tinggal tuang disana. Siapin juga kompor kalau kompor di rumah kan cukup pindahin ke dapur umum jadi kita cuma perlu tenda aja Mas," kata Ragil lagi.



"Iya bener nggak usah tiap-tiap keluarga dikasih kompor belum tentu juga mereka bisa nyalainnya kalau kompor camping," kata Siswojo. Dia sependapat dengan anak bungsunya.



"Lebih baik memang di taruh di dapur umum aja ada kompor biasa kan mereka bisa gampang kalau tak suka dengan air dispenser. Mereka juga bisa bikin mie instan sendiri."




"Baik nanti aku revisi lagi konsepnya." Lanjut Putro. Walau Lesmana menyerahkan semuanya kepada Putro sebagai pelaksana, tapi dia harus membicarakan semua konsep pada papa mertuanya itu.



"Yang sangat diperlukan untuk tiap tenda itu adalah colokan listrik Mas. Semua butuh untuk ngecas hp-nya.  Enggak mungkin kan charge HP ditaruh di dapur umum atau ruang utamanya."



"Itu yang perlu ada tiap tenda keluarga." Ragil kembali memberikan pendapat briliant nya.



"Aku catat itu," kata Putro. Dia menulis pesan di notes ponselnya tentang kebutuhan tiap tenda.



"Bener Mas, zaman sekarang itu nggak bisa disepelekan soal colokan. Mungkin ada yang butuh bawa laptop atau camera digital yang pakai batere," Siswojo kembali setuju dengan ide Ragil.  



"Iya, ini langsung aku tampung sarannya," Putro kembali menulis poin itu.



"Antisipasi hujan. Walau sekarang bukan musim hujan. Di posko sediakan beberapa payung," ucap Ragil



"Aku catat," jawab Putro sambil kembali menulis di ponselnya.



"Tuh pas di Cangkringan Mas Putut kan nyediain bebakaran tapi malam kan Nggak ada acara tuh Mas. Karena ini camping maka kita bikin rebusan jadi menunya menu rebusan buat malam itu loh Mas ya. Ada ubi rebus, pisang rebus. Apa kacang rebus gitu Mas pasti pada suka itu,"



"Wah enak banget kui," kata Pak Siswojo.



"Pak Farhat juga sukanya itu. Kalau papa senangnya gorengan," kata Putro. 



"Aku tampung tuh Dek keren idenya. Kalau nggak sharing begini tuh nggak kepikiran."



"Yang pasti cari info dari setiap keluarga,  bisik-bisik cari info agar tak ketahuan. Tanya apa yang paling disukai tiap keluarga. Walau sedikit siapkan. Misal keluarga ak Farhat sukanya aap, keluarga pak Cokro sukanya apa. Sebagai tuan rumah siapkan aja dua atau tiga bungkus."



"Kalau mereka ke dapur umum kan ada kejutan buat mereka."



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul UNREQUITED LOVE ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1676182322951.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul UNREQUITED LOVE itu ya.