
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
\~\~\~\~\~
Pukul 11.21 Jhon baru sampai rumah. Sejak dia landing sang ibu sudah berpesan agar dia segera pulang. Dia landing pukul 07.39. Tapi sebagai pilot tentu dia harus membuat laporan perjalanan dan hal lain.
Belum lagi dia harus briefing dengan team nya untuk mengevaluasi tugas mereka. Percuma dia menjelaskan hal ini pada ibunda karena orang luar tak akan mengerti SOP ( standart operating procedure ) kerjanya.
“Jhon, habis maghrib temani Bapak ke penginapan ya, kita lihat dan sapa kerabat yang sudah datang. Ragil biar menemani Ibu dan Mas-mu menerima tamu yang datang ke rumah,” pak Siswojo mengatur tugas personal hari ini.
Tentu Jhon senang karena tidak terkukung di rumah dan bisa bertemu lebih dulu dengan para kerabatnya yang tidak tinggal satu kota dengannya. Tinggal satu kota pun kalau tak ada acara besar mereka jarang bisa kumpul karena kesibukannya masing-masing.
“Siyaaaaaap Ndan,” jawab Jhon sigap. Tak ada keluhan dia lelah baru pulang kerja. Sehabis makan dia niat untuk tidur dulu agar bisa fresh nanti malam.
***
Jhon dan pak Siswojo sibuk menyambut semua rombongan yang baru datang, termasuk rombongan pak Cokro yang sudah lama resmi sebagai besannya. Bukan hanya sebagai tetangga di Jogja.
“Kamu sehat Nduk?” tanya pak Siswojo.
“Sehat Pakde,” Amie merasa senang bisa bertemu dengan kakak almarhum ayahnya. Dan dia merasa nyaman ketika Jhon memeluknya erat.
“Adekku makin cantik aja ya,” goda Jhon.
“Mas bisa aja, aku ‘kan emang dari dulu paling cantik diantara kalian karena aku ceweq sendiri. Kalau ada perempuan lain ya enggak mungkin aku tetap yang paling cantik,” jawab Amie. “Aku kangen mas Ragil.”
Amie dengan Ragil memang akrab karena hanya Ragil yang bisa mengimbangi jiwa muda Amie karena mereka hampir sepantaran. Lebih tua Amie 18 bulan, tapi di keluarga Jawa Amie tetap wajib memanggil Ragil dengan sebutan MAS.
“Ragil nemani Ibu dan Mas Putro di rumah. Takutnya ada saudara yang berkunjung,” jawab Jhon.
“Mas Jhon, aku titip Amie sebentar ya, mau nurunkan tas dan koper-koperku,” pamit Putut. Dilihatnya Wahyu sudah selesai menurunkan tas dan koper milik orang tua mereka serta milik Wahyu dan Saka.
Sehabis salat dan dilanjut makan malam bersama semua yang menginap di sana, Putut mengajak Amie langsung masuk kamar. Dia meminimalisir ada yang keceplosan bicara dan membuat Amie terguncang.
Kalau itu terjadi, acara pernikahan Putro bisa terganggu. Dan dia tak ingin itu terjadi. Kalau Amie sudah normal, tentu dia tak akan menyia-nyiakan waktu untuk berjalan-jalan menikmati suasana malam kota Solo.
“Kita enggak perlu nungguin yang pada mau ngobrol. Enggak akan ada rampungnya. Kita langsung bobo aja biar besok enggak kesiangan,” Putut mengajak Amie dan Saka segera masuk kamar. Kamar Saka dan Wahyu bersebrangan dengan kamar Putut.
Perkembangan Amie sampai bisa mengerti tentang pernikahan dan tidak mengingat kegagalan pernikahan pertamanya saja itu sudah prestasi besar yang dicapai Putu. Semua keluarga tak menyangka Amie akan bisa hadir di pernikahan Putut.
Yang mesti dihindari adalah persoalan yang memicu trauma Amie, yaitu kehamilan dan kecelakaan juga kematian.
Walau demikian Putut, Wahyu, Jhon dan Widyo sudah bersiap. Mereka akan menjadi pagar untuk Amie. Widyo juga telah membekali Putut obat terlebih dahulu untuk antisipasi kondisi terburuk.
***
\===========================================
SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL NOVEL UNCOMPLETED STORY YOK!
DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETIN JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL UNCOMPLETED STORY ITU YA.
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta