THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
INGIN LIBURAN BERDUA DI SOLO



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Amie baru saja selesai meminta pendapat dari kepala administrasi kampusnya. Dia mendapat keterangan bagaimana mengurus surat pindah serta melengkapi nilai-nilai mata kuliah yang pernah ditempuhnya dulu. Semua dia catat rapi agar tak lupa dan mudah di cek apa saja yang harus dia persiapkan.


Sementara Putut hanya menunggunya di luar ruangan. Hari ini Amie juga sekalian ke fakultas tempat Angga mengajar. Dia menandatangani banyak surat tentang administrasi Angga. Juga sekalian pencairan uang-uang yang harus dia tanda tangani.


Amie tak menyangka masih banyak uang yang dia peroleh. Sebenarnya bukan ini tujuan utamanya. Awalnya dia hanya ingin berterima kasih atas uang duka yang dia terima dan baru dia tahu bulan lalu. Ternyata dia dipanggil untuk menyelesaikan semua administrasi milik Angga.


“Sudah sampai sini, mengapa kamu tidak sekalian urus penutupan rekeningmu?” tanya Putut. Karena kalau harus transfer tiap hari, akan butuh waktu lama serta harus tiap hari ke ATM karena rekening lama Amie tidak menggunakan mBangking yang bisa trasnfer dari ponsel saja.


“Owh iya deh Mas. Lagian kalau ke rumah bude hari gini juga masih kosong,” jawab Amie.


“Tapi Mas, nanti kita harus kembali lagi ke sini. Untuk urus surat mas Angga dan juga urus nilai mata kuliahku. Dan aku butuh surat kematian mas Angga. Jadi kita harus minta ke pak Handoyo.”


“Ya enggak apa-apa ‘kan kita ke pak Handoyo. Sekalian kasih tahu kalau kita sudah nikah dan akan mengadakan resepsi. Jangan kita langsung kasih undangan. Rasanya enggak sopan,” jawab Putut santai. Dia tak merasa sungkan ke pak Handoyo. Toh dia tak merebut Amie dari Angga.


“Aku manut aja kapan Mas bersedia ngantar aku ke rumah pak Handoyo,” Amie pun tak mau memaksa kapan Putut bersedia mengantarkannya ke rumah mantan mertuanya itu.


***


“Lhooooo, udah lama?” tanya pak Siswojo yang baru masuk ke rumahnya. Tadi Amie hanya tanya ke budenya kapan sang bude ada di rumah. Tadi di kampus lamanya Amie baru selesai pada pukul 15.20 karena sekalian urus penutupan rekening juga.


“Baru Pakde,” jawab Amie sambil member salim pada pengganti ayahnya itu. “Pakde sehat?”


“Alhamdulillah sehat Nduk,” jawab sang ayah pengganti tersebut. Amie sangat bersyukur ada pakdenya yang bisa menggantikan sosok dan tanggung jawab ayahnya. Karena simbah sudah tak mampu lagi mengasuhnya sejak mbah uti meninggal.


Bude Diah mengeluarkan singkong goreng untuk teman minum teh sore ini. “Kalian enggak janjian dengan Ragil?” tanya bu Diah.


“Mboten. Ini Amie habis urus surat-surat di kampus, jadi kami sekalian ke sini,” jawab Putut. Memang sejak Amie sehat, keluarga pakde sudah tidak rutin datang setiap akhir minggu ke Jogja.


“Kalau bisa kalian ikut datang ke rumah Farah. Malam Minggu depan orang tua Farah mengundang keluarga untuk kenalan. Memang tak akan buru-buru nikah karena mereka tahu bude baru mantu mas Putro dan akan mantu kalian. Jadi mereka akan kenalan dulu,” bude Diah mengabari tentang rencana hari Sabtu besok.


“Dalem manut mas Putut ke mawon Bude,” jawab Amie. Dia tak berani memutuskan. ( Dalem manut mas Putut ke mawon = saya tergantung/ menurut mas Putut saja ).


“Sepertinya orang tuamu belum perlu. Karena ini hanya perkenalan dua keluarga. Dan Amie kan anak kami, jadi dia dan pasangannya ikut,” jawab pak Siswojo.


“Njih Pakde, insya Allah hari Sabtu siang kami sudah di sini,” jawab Putut.


“Jangan lupa bawa baju lho, kalian tidak boleh pulang malam-malam. Jadi harus menginap di sini,” pesan bude Diah.


Sehabis makan malam Amie dan Putut pamit.


“Mas serius akan datang ke Solo hari Sabtu?” tanya Amie saat mereka dalam perjalanan pulang.


“Yank, pakde dan bude ‘kan mertuaku. Apa pantas aku bohong dan hanya sekedar manis dimulut pada mereka? Apa kamu yang keberatan kalau kita datang ke rumah Farah?” balas Putut.


“Enggak gitu, aku takut aja merepotkan Mas. Harus nemani aku kemana-mana,” jawab Amie masih takut merepotkan suaminya.


“Mas malah kepikiran kita ke Solo dari Jumat subuh Yank. Jumat pagi kamu urus-urus di kampus. Lalu malamnya kita sudah menginap di Solo. Tapi enggak di rumah pakde. Kita nginap di hotel jadi bisa pulang tengah malam. Nah Sabtu siang atau sore baru kita ke rumah pakde. Gimana?” tanya Putut.


“Mauuuuuuuuuuuuuuuuu bangeeeeet Mas,” jawab Amie antusias. Dia membayangakn liburan semalam berdua dengan suaminya.


“Kalau begitu, besok kita harus ke rumah pak Handoyo. Jadi bila besok belum bisa ketemu, kita masih bisa datang lagi hari Kamisnya,” jawab Putut.


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL INFIDELITY BEFORE MARRIAGE YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL INFIDELITY BEFORE MARRIAGE ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa….


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.


Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta