
DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.
JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA
“Saya yakin Senin Indra akan masuk ke ruangan Farhat dan melancarkan serangannya. Saya minta kamu singkirkan dulu Husain agar dia tak perlu disingkirkan oleh Indra. Baik dengan membuatnya tidur atau membuat ban mobilnya kempes semua seperti kejadian yang sudah-sudah. Beri Husain tugas luar saja jadi sejak pagi dia sudah pergi dari kantor. Jangan lupa pagi sebelum berangkat minta Husain bicara dengan Indra. Entah hanya memberi tahu soal berkas atau apa pun. Yang penting Indra tahu kalau hari itu Husain akan tak ada di kantor,” sekarang Dwipa yang memberi masukan sesuai bidangnya.
“Farah atau AYA ya panggilannya, tak perlu terlihat sibuk di kantor. Kalau tidak salah hari Senin suamimu ada di Solo ‘kan? Sebisa mungkin kamu hanya berada di lobby seakan kamu ngobrol dengan tamu. Orang lain belum tahu dia suamimu, jadi wajar kamu ngobrol di lobby. Agar kaki tangan Indra melihat ruang pak Farhat aman tak ada Husain dan AYA,” lanjut Dwipa.
“Kalau suami AYA tidak bisa, ya mas Putro atau Ragil ini lah yang bertamu. Pokoknya AYA harus mudah terlihat!” lanjut Dwipa. “Sampai sini jelas enggak?”
“Lalu sampai kapan saya di lobby?” tanya Farah.
“Kita tidak bisa menentukan saat ini. Kita lihat di lapangan besok. Semua menunggu info dari pak Farhat. Dan kamu ‘kan bisa melihat dari ponselmu kapan Indra selesai dengan ayahmu?” Dwipa memberi pengarahan pada Farah.
“Sepertinya Putri hari Senin kosong, dia juga bisa datang ke kantormu untuk ngobrol dan makan siang. Kalau saya enggak bisa,” Putro memberitahu hari Senin dia tak bisa meninggalkan pekerjaannya.
“Aku juga enggak bisa Mbak, Senin ada mid test,” Ragil memberi tahu jadwal ujian dikampusnya.
“Wah asyiiiik. Oke aku tunggu Putri di kantorku hari Senin ya mas Putro. Nanti kak Jhon juga biar datang. Biar makin rame,” Farah langsung senang mendengar sahabatnya akan menemuinya untuk ngobrol.
“Kalau memang serangannya hari Senin pagi, maka hari Senin malam saya tunggu di ruang kantor saya,” Dwipa mengarahkan ada diskusi untuk langkah berikutnya.
“Paling tidak pak Farhat dan AYA harus datang, yang lain boleh tidak datang. Dan kalau serangannya hari Selasa, saya akan beritahu lagi dimana bisa bertemu. Harus saya lihat jadwal kerja saya dulu.”
***
Hari ini Jhon tiba di rumah Farah. Seperti biasa tentu dia butuh tidur. Tapi karena ini adalah di rumah mertua dan bertepatan dengan hari libur bagi Farhat dan Farah tentu dia sungkan hendak langsung tidur.
'Apa aku harus mengungsi ke rumah ayah untuk tidur? Aku salah. Seharusnya tadi dari bandara pulang ke rumah ayah dulu. Sore baru kesini,’ Jhon tak enak hati.
“Kak, kalau mau langsung tidur, ya enggak apa-apa,” Farah memberikan piring sarapan untuk suaminya.
“Jhon, kamu jangan sungkan. Kami tahu kamu lelah sehabis membawa pesawat dalam jangka waktu lama. Sehabis ini kamu tidur saja,” bu Basalamah langsung mengerti omongan putrinya.
“Iya Umi, habis ini saya akan rehat,” jawab Jhon lega.
“Iya, nanti kita akan bahas soal rencana om Dwipa kalau kamu sudah istirahat,” Farhat juga setuju Jhon langsung istirahat.
“Ok Bi,” balas Jhon dan dia melanjutkan sarapannya.
“Kak, baju kotornya aku keluarkan boleh?” tanya Farah. Dia masih belum berani sembarangan membuka koper kerja suaminya. Saat ini mereka sedang di kamar.
“Buka aja Queen. Aku belum terbiasa bawa oleh-oleh. Karena sejak dulu keluargaku sudah melarang aku membeli oleh-oleh disetiap penerbanganku,” Jhon memberitahu kombinasi angka kunci kopernya.
'Pantas setiap habis terbang dia mematikan ponselnya, rupanya tak ingin diganggu istirahatnya,’ Farah melihat Jhon yang langsung lelap. Dia membuka koper dan mengeluarkan semua baju kotor.
Baju bersih kembali dia simpan di almari. Dia juga langsung memasukkan koper kedalam tas pelindung koper dan menyimpannya setelah memastikan koper telah kosong.
“Jhon sudah tidur?” tanya bu Basalamah saat melihat putrinya keluar membawa baju kotor.
“Masuk kamar langsung hilang dari peredaran,” Farah menjawab sambil tertawa kecil mengingat kelakuan suaminya.
“Kita baru tahu. Ternyata para pilot sangat lelah membawa pesawat,” balas bu Basalamah.
“Kalau yang penerbangan dekat enggak terlalu Umi. ‘kan kalau yang penerbangan lokal hanya butuh beberapa jam sudah tiba di tujuan. Kalau yang luar negeri ada yang sampai belasan jam, tentu butuh stamina yang prima walau bergantian,” Farah memberitahu sang bunda.
“Iya ya, mereka walau bergantian tentu tetap letih,” bu Basalamah membawa teh hijau miliknya ke ruang tengah.
***
“Jadi besok pagi mau pasang CCTV tambahan Bi?” tanya Jhon.
“Iya,” sahut Farhat. Sore ini mereka sedang santai di halaman belakang sambil melihat ikan koi yang meliuk-liuk memanjakan mata.
“Saya lupa, kalau hari Minggu sudah ada di Solo. Harusnya kalau Ragil tidak bisa datang juga enggak apa-apa,” Jhon memberitahu mertuanya.
“Enggak apa-apa, semakin rame akan semakin tidak ketahuan kalau kalian memang memasang CCTV. Biarkan satpam banyak yang mengajak ngobrol saat Farah berpura-pura ambil berkas di ruangannya,” pak Farhat tak mempermasalahkan kehadiran Ragil saat Jhon ada ditempat.
***
Sesuai rencana, pagi ini Farah mengunjungi rumah Wiwied yang sekarang dia biasakan menyebut dengan panggilan mbak Putri sesuai kedudukannya sebagai adik ipar sahabatnya itu. Sedang Ragil akan datang bersama dua teknisi. Mereka janjian didekat kantor Farah.
“Kamu sudah pulang ma … eh Jhon,” Putri hampir salah menyebut Jhon dengan panggilan mas. Sekarang Jhon adalah adik iparnya. Mereka semua memang harus membiasakan diri memanggil sesuai kedudukan dalam keluarga.
“Sudah Mbak, kemarin subuh sampai di bandara, jam tujuh sampai rumah pas sarapan,” jawab Jhon. Mereka pun segera berangkat ke kantor Farah karena Ragil sudah memberitahu mereka on the way ke TKP.
***
Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa
YANKTIE mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.
Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya
Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta