THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
MARAHNYA FAROUQ DAN ILHAM



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Sejak semalam rumah keluarga Basalamah sudah dalam formasi lengkap. Farauq dan Ilham sudah datang. Pagi ini saat sarapan Farhat bercerita pada kedua putranya masalah Indra.


“Gilaaaa … enggak sangka dia seperti itu. Kalau hanya baca print-print an ancaman aku bisa aja menduga kalau itu hanya chat yang dibikin Jhon dengan nomor asal, untuk menarik simpati AYA. Tapi melihat rekaman CCTV. Apalagi melihat paman Husain sampai dia buat seperti itu aku janji akan bikin perhitungan pribadi terhadapnya,” Farouq anak tengah Farhat memang lebih keras dari abangnya.


“Bener. Abang enggak nyangka dia seperti itu. Kalau enggak ada Jhon, mungkin kita bisa menyetujui bila Indra melamar AYA. Dan sesudah dia menikah, aku dan Farouq bisa dia singkirkan. Karena motivasi dia adalah harta!” Ilham tak menduga Indra yang terlihat cool dan humble ternyata gila harta.


“Itu alasan Abi manggil kalian pulang, bukan hanya karena perkenalan dengan keluarga Jhon saja. Tapi ada masalah intern perusahaan ini. Kalian harus hati-hati. Takutnya juga ada kaki tangan Indra di sana. Mengingat dia punya akses kesemua pegawai. Sepertinya Indira yang jadi sekretarisnya adalah tangan kanannya untuk proyeknya kali ini. Karena baru kali ini Indra minta pendamping,” Farhat menyebut alasannya mencurigai Indira.


***


“Bu, besok pagi-pagi Mas akan nganter Amie ke Solo ngurus surat-surat di kampus lamanya. Lalu kami menginap di Solo sampai hari Minggu. Karena mas Jhon akan mengadakan pertemuan dua keluarga dengan calon istrinya hari Sabtu malam,” Putut memberitahu ibunya tentang jadwal acaranya esok pagi.


“Kowe ki ngomong koq dadakan, Ibu belum menyiapkan sesuatu untuk bude Diah,” sang ibu tentu saja marah karena Putut lalai memberi khabar.


“Aku juga lupa Bu, baru ingat barusan pas Mas Putut matur, maaf ya Bu,” pinta Amie. Dia malah sibuk menyiapkan berkas dan mengurusi perbaikan rumah belakang.


“Bawakan yang ada aja Bu, nanti Mas yang minta maaf pada Bude. Akan Mas katakan kalau Mas yang salah karena bilangnya ngedadak. Dan juga jangan bawakan makanan yang basah ya Bu. Karena Mas ke rumah bude hari Sabtu sore. Sedang Mas berangkat besok habis subuh. Rencananya Mas nginep di hotel dulu hari Jumat malamnya. Daripada kami bolak balik Jogja ~ Solo,” Putut membuat alasan capek bolak bailk ke Jogja. Padahal emang maunya dia menginap di hotel sebelum acara.


“Ya … nanti Ibu dan bulek Harti akan menyiapkan apa yang ada. Yang pasti bawakan degan ( kelapa muda ) karena itu yang bude suka. Untung siang ini masih sempat nyuruh orang metik. Kalau kamu bilangnya nanti malam, Ibu tambah kalang kabut,” bu Tiwi agak lega karena masih ada sedikit waktu bila untuk menyiapkan hasil kebun.


Andai Putut dan Amie tidak memberitahu jangan bawa makanan basah, tentu dia akan memasakkan sesuatu untuk besannya itu.


“Rencananya kamu mau bikin ruang pertemuan resepsi pernikahanmu dimana Mas? Di rumah depan atau belakang?” tanya bu Tiwi.


“Kalau Ibu dan Ayah merasa rumah depan ada yang perlu di renovasi atau ditambah, silakan bikin oret-oretnya. Nanti Mas ajukan ke Hendri biar sekalian dikerjakan sehabis renovasi rumah belakang,” Putut menyerahkan semua keputusan pada ibunda terkasih. Dia tak mau mendoktrin orang tuanya.


“Kalau akan ada selasar beratap dan bawah berconblock, Ibu rasa tamu dan pengantin biar di rumah depan Mas. Dan semua proses masak di rumah belakang. Toh kalau hujan yang antar makanan tidak akan kehujanan atau terpeleset karena becek,” usul bu Tiwi.


“Nah itu bagus Bu. Jadi di depan tidak terlihat ribet. Akan terlihat bersih,” Amie menyetujui usul ibu mertuanya.


“Ya monggo aja di atur. ‘Kan tadi Mas sudah bilang, Mas manut aja,” jawab Putut diplomatis. Dia senang Amie berani mengemukakan pendapatnya.


“Kamu enggak nambah Dek?” tanya Amie pada Saka. Amie sangat menyayangi adik bungsu suaminya ini. Sebaliknya Saka juga senang mempunyai kakak perempuan.


“Kayaknya hari ini aku enggak nambah Mbak. Tadi sepulang sekolah aku dan beberapa teman diberi arem-arem oleh Rusdi. Hari ini di rumah Rusdi ada jagong bayi, dan Rusdi membawa banyak kue ke sekolah. ( JAGONG BAYI = adalah istilah untuk acara menengok bayi yang baru lahir. Tuan rumah tentu menyiapkan aneka makanan untuk para tamu ).


\===========================================


SAMBIL NUNGGU YANKTIE UPDATE CERITA INI, KITA MAMPIR KE CERITA KARYA YANKTIE YANG LAIN DENGAN JUDUL CINTA KECILNYA MAZ YOK!


DAN SEKALI LAGI YANKTIE INGETINI JANGAN LUPA SUBSCRIBE CERITA DENGAN JUDUL  CINTA KECILNYA MAZ  ITU YA.



Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaaaaaaaaaa.


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.


Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta