THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
CAMPING DI RUANG TAMU



Dari SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE mengucapkan selamat membaca cerita sederhana ini.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA




Tanpa diduga, Jhon dan rombongan konvoi datang di Cangkringan hampir bersamaan. “Waaaaaaaah, walau agak gelap, tapi kebayang indahnya pemandangan disini,” celetuk Farouq.



“Iya Bang, aku aja suka bangeeeet disini,” balas Farah.



“Buat yang muda dan ingin lihat sunrise, besok kita berangkat pukul 03.30 ya. Siapakan alat salat karena kita salat dekat lokasi. Pakai pakaian tebal karena super dingin,” Putut mengingatkan jadwal esok hari.



“Dan habis sarapan kita langsung panen salak, sebelum kita panen ikan,” sekarang pak Cokro yang memberi tahu.



“Iyaaa tuh, kemarin kita enggak jadi ikut panen salak gara-gara keasyikan jalan-jalan sendiri,” Putri pun ikut nimbrung dalam pembicaraan.



“Ayok masuk. Kalian yang muda silakan tuang teh sereh jahe untuk para orang tua,” bu Tiwi menyediakan minuman di termos yang ada krannya. Sehingga yang ingin minum tinggal buka kran saja. 



Dimeja sudah tersedia pisang rebus, jadah panggang dan risol isi ragout. Memang semua masih ngumpul di rumah keluarga pak Cokro. 



Diam-diam Wahyu dan Ragil membawa tas dan koper milik mereka ke rumah belakang. 



Ternyata Amie juga menyediakan teh sereh jahe dalam termos kecil untuk dirumah belakang. Di meja juga ada pisang rebus, jadah panggang dan risol isi rogout. Sehingga tanpa perlu ketakutan kehabisan, kedua anak muda ini tak perlu repot kembali ke rumah depan. 



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1675272754661.jpg)



“Beneran enggak mau makan malam lagi?” tanya bu Tiwi pada para ibu. Mereka ngumpul di meja makan. Para bapak di ruang tamu dan anak muda mulai akan ke belakang untuk mengatur kamar mereka. 



“Bang Farouq dan Bang Ilham tidur di rumah ini ya. Kami ke rumah belakang,” Jhon menurunkan ransel-ransel besar milik kedua abang iparnya. Karena dia akan membawa mobilnya ke rumah belakang. Putri dan Putro sudah lebih dulu kesana.



“*Wait*. Kami ikut ke belakang dulu,” Farouq tentu tak mau ikut ngobrol dengan genks old.



“Jalan aja ama aku yok,” ajak Farah. Dia bersama Amie dan Putut akan jalan ke belakang.



“Wah kereeeen. Penghubung rumah sudah seperti ini jadi enggak repot kalau mau ke rumah sebelah,” Ilham kagum pemikiran membuat selasar berpeneduh. Sehingga bila hujan tak perlu repot cari payung dan juga tidak becek karena dipasang paving block sebagai dasar selasar. 



“Iya, ini awalnya sengaja dibuat untuk resepsi besok. Jadi nanti para petugas makanan enggak akan repot bila antar tambahan makanan. Rencananya masak dirumah belakang dan acara di rumah depan,” sahut Putut menerangkan alasan membuat selasar ini.



“Dan beruntung juga, kalau enggak ada selasar ini, Mas Putut repot saat ingin ke rumah depan atau ke rumah belakang disaat kakinya seperti ini,” Amie menjelaskan manfaat selasar ini saat Putut harus pakai kursi roda.



“Iya ya, kalau enggak ada ini, repot kalau lewat jalur tanah,” Farah baru ingat kondisi Putut.  




“Jangan nanti enggak kuat kalau tidur di luar ruangan,” Ragil memberitahu dinginnya di Cangkringan. 



“Bener, kalau dikamar akan lebih nyaman. Di luar sangat dingin walau biasa pakai AC sekali pun.” Jhon memberi tahu kondisi lingkungan disini. 



“Biar aja. Biar tahu dinginnya kaki gunung Merapi,” Putro malah mengizinkan dua kakak ipar Jhon mencoba cuaca dinginnya kaki gunung Merapi saat musim panas. 



Diberitahu seperti itu Farouq malah makin penasaran. “Abang tidur kamar aja di rumah depan, Aku malah pengen tahu dinginnya disini.”



Ilham menuang teh jahe sereh lagi. Dia tambahkan gula batu sesuai keinginannya. Dia galau ingin mencoba tidur disini atau dikamar yang telah disiapkan untuk dirinya di rumah depan. 



“Mie, tehnya enak banget. Cocok buat udara dingin,” Farah yang juga ikut mengisi gelasnya dengan air jahe sereh lagi. 



“Iya Mbak, kalau enggak pakai sereh dan jahe kurang anget dibadan,” jawab Amie. Dia sedang membuat susuu ibu hamil dengan air jahe sereh. Sengaja menggunakan air jahe sereh agar tidak mual. Bila menggunakan air panas putih dia kadang merasa mual. 



“Hamilmu enggak rewel Mie?” tanya Putri. Dia sangat ingin segera hamil.



“Enggak Mbak. Hanya ada keharusan aja. Makan selalu inginnya dengan lauk ikan. Kurang suka tempe atau tahu dan daging. Kalau ayam masih mau.” jawab Amie.



“Yang aneh kan mas Putut Mbak. Dia jadi rakus sama snack basah. Mulutnya enggak bisa berhenti ngunyah. Padahal dia orang yang paling malas ngemil seperti itu,” Amie kembali menerangkan perbedaan saat kehamilannya kali ini. 



“Dia kena *couvade syndrome* atau kehamilan simpatik ( *sympathetic pregnancy* ). Keadaan para suami yang mengalami seperti ngidam. Kadang ada yang muntah pagi-pagi seperti *morning sickness* pada ibu hamil. Kadang ada yang ngidam rujak atau makanan lain yang enggak lazim,” jawab Putri. Dia cukup tahu tentang hal ini.  



“Alhamdulillah dia enggak muntah-muntah. Cuma sensinya kayak kita pas PMS,” dengan terkekeh Amie menerangkan perilaku suaminya. 



Di teras depan para lelaki sibuk bercerita tentang pertandingan bola. “Halaaaaaaah, kemarin kamu juga kalah koq main tebak-tebak score sama aku.” Ragil mengejek Wahyu



***Ditunggu komen manisnya ya***.


***Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya***.


***Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta***.



Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul WANT TO MARRY YOU ya.



![](contribute/fiction/6174183/markdown/10636434/1675272754665.jpg)



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul WANT TO MARRY YOU itu ya.