THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
TAK BISA MENUTUP MULUT ORANG LAIN



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI. JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


“Aku titip adikku ya, kami akan sering bertanya perkembangannya. Mohon kamu jangan bosen bila kami bertanya,” aku mewakili mas Putro dan Ragil pamit pada Putut.


“Siyaaaap Mas, hanya untuk kontrol minggu depan mohon di atur waktu, takutnya saya belum kembali dari Bandung. Paling tidak ada yang menemani ibu dan bapak saya di rumah sakit nanti.” balas Putut. Dia belum bisa memperkirakan akan berapa lama di Bandung nanti.


“Iya, nanti Mas atur waktu,” mas Putro langsung menjawab. Aku malah lupa jadwal kontrol Amie minggu depan.


Hari ini hari ke sebelas Amie berada di Jogja, aku yang sedang tak bekerja datang menengoknya. Tentu sambil membawa bahan  makanan yang sekiranya dibutuhkan untuk Amie dan simbah. “Jadi sampai saat ini mertuanya Amie atau keluarga Angga lainnya  belum ada yang datang mengunjungi Amie?” tanyaku gusar.


“Tak usah berharap Mas, sudah jelas mereka baik hanya karena ada Angga. Setelah Angga tak ada, Amie bukan siapa-siapa untuk mereka. Terlebih lagi tak ada anak Angga di perut Amie.” Putut memperjelas bagaimana sikap keluarga Angga kepada Amie.


Putut sendiri pun tak menyangka, keluarga Handoyo bersikap seperti itu. Seakan mereka tak kenal Amie. Padahal jarak tempat tinggal mereka hanya selisih satu desa saja.


“Hallo cantiknya Mas, sedang apa?” tanyaku. Aku melihat Amie sedang diberi kegiatan melipat baju. Hanya ada dua helai T Shirt yang diberikan untuk dilipat.


Sang perawat dengan telaten mengajak Amie melihat obyek yang sedang dia kerjakan. Berhasil atau tidak, biasanya kegiatan itu akan berlangsung maksimal 90 menit. Itu yang Putut jadwalkan.


Aku melihat tubuh Amie mulai cerah berisi. Tidak kusam seperti saat tidur di rumah sakit. Aku bersyukur adikku mendapat kerabat yang benar-benar mau mengurusinya dengan ikhlas. Aku peluk bahu Amie yang sedang duduk di kursi, karena aku berdiri di belakangnya, dengan mudah dia bisa mengecup puncak kepala Amie.


“Cepet sembuh ya de’, Mas kangen dengan cerewetmu!”


“Mas, nanti kalau Amie sembuh, apa tidak sebaiknya kuliahnya dipindah ke Jogja saja? Di kampusnya, semua memori tentang kebersamaan dengan Angga sangat melekat,” tanya Putut.


“Kemarin Ragil juga sudah bilang hal ini, saat kami jalan pulang mengantar Amie dari rumah sakit minggu lalu. Kami di mobil bertiga, setuju hal itu. Tapi ‘kan masih lama? Percuma kita pindah sekarang, kita harus menunggu dia bisa berkomunikasi dahulu,” jawabku


“Wah enggak nyangka Ragil yang masih SMA bisa berpikiran panjang seperti itu,” celetuk Putut.


“Kedekatan kami bertiga dengan Amie, punya ruang tersendiri. Ragil memang dekat untuk urusan hura-hura dan bercanda. Mungkin karena mereka merasa seumuran. Kalau denganku biasanya Amie kolokan. Dia selalu menjadikanku pelindungnya. Tapi dengan mas Putro dia sayang yang lebih ke rasa hormat.”


“Kalau untuk bermanja dan bercanda, Amie tidak berani ke mas Putro. Dia sangat menurut pada mas Putro. Tidak berani membantah. Kalau denganku dia berani membantah dan merengek manja.” Aku memberitahu bagaimana sikap Amie pada kami bertiga.


Tentu Putut mengerti perbedaan itu. Karena usia mas Putro sangat jauh dengan Amie.


***


“Mas, gimana kalau kita makan siang di tambak? Kita bakar dan goreng lele yang hari ini di panen.” Putut menawarkan para tamunya untuk makan di lokasi kolamnya yang hari ini panen. Aku, mas Putro dan Ragil memang sedang mengunjungi Amie.


“Wah asyiiiiik,” Ragil langsung bereaksi terhadap tawaran Putut.


Putut berjalan ke dapur rumahnya, minta dibungkuskan nasi dengan daun pisang untuk 8 orang. Dia juga minta dibuatkan sambal mentah dan bumbu untuk mengoles ikan yang akan dibakar dan di goreng.


“Ayo Mas, kita berangkat ke tambak,” ajak Putut. Ragil menggandeng Amie, tujuan mereka makan di tambak memang membawa Amie ke sana agar ganti suasana.


Mereka sampai di tambak saat semua ikan sudah selesai diangkat, walau satu kolam, tapi ukuran ikan tidak seragam. Maka sekarang waktunya menyortir ikan sesuai size.


Putut meminta beberapa lele yang besar untuk di goreng dan di bakar untuk makan siang mereka. Simbok pembantunya ternyata membawakan 12 bungkus nasi timbel dengan lalapan, sambal serta kerupuk. Selain bumbu ikan bakar dan ikan goreng serta kecap.


“Kamu bisa bakar ikan Mie?” tanya mas Putro. Dia tentu tak akan menyuruh Amie membakar ikan. Itu hanya ajakan agar adiknya ada respon terhadap kegiatan mereka hari ini.


Karena perawat tidak ikut, maka Putut yang sekarang menyuapi Amie. Putro dan Jhon melihat Putut hanya membantu membersihkan ikan dari duri, lalu menaruh nasi dan lauk di sendok. Awalnya tangan Amie masih dibantu dipegangi oleh Putut.


“Sekarang mas Putro dan mas Jhon ingin lihat kamu maem sendiri. Ayo kamu maem ya?” bujuk Putut.


Walau lambat, Amie berhasil menyuap satu sendok nasi dan lauk yang sudah disiapkan Putut. Selanjutnya kembali Putut menyiapkan nasi dan ikan disendok Amie. Sesekali dia menyuapi kerupuk ke mulut Amie. Aku dan mas Putro tentu saja senang melihat kemajuan adik kami.


“Pinter ya sudah maem sendiri.” Pujiku sambil mengusap puncak kepala Amie, persis seperti menghadapi anak balita. Ini sudah masuk bulan ketiga Amie dirawat di Jogja. Sekarang sudah bulan Mei. Ragil sudah selesai ujian akhir. Ternyata Wahyu adik Putut yang masih kelas sebelas juga ikut ujian jalur akselerasi. Sehingga mereka akan satu tingkat kalau kuliah nanti.


“Apa keluarga …,” Putut langsung mencolek Putro untuk menghentikan kalimatnya. Dia menggeleng agar Putro tidak menyebut nama Angga di depan Amie. Karena dia tahu, kadang Amie mendengar walau hanya lamat-lamat. Dan nama Angga akan memicu emosi Amie.


Putut memang bisa mencegah orang sekitarnya tutup mulut tidak menyebut nama Angga. Tapi tak semua mulut bisa dia bungkam. Tanpa sengaja seorang pembeli panenan ikan menyebut nama Angga di dekat Amie.


“Itu istri almarhum Angga dari desa Purbowinangun yang meninggal karena kecelakaan ‘kan?” bisiknya bertanya pada pegawai Putut yang sedang menimbang ikan.


“Enggaaaaaaaaaaaaaak! Enggaaaaaaaaaaak!” teriak Amie sambil menutup telinganya dan membenamkan kepalanya di balik lututnya. Memang Amie sedang duduk di tikar dekat penimbangan ikan.


“Enggaaaaaaaaaaaaaaak!”


Brughh ….


“Amieeeeeee… Amie …!” secara reflek aku, mas Putro, Ragil langsung berteriak.  Putut saat itu sedang melayani pembayaran seorang konsumen, di dekat mobil bak yang diparkir di jalan raya, jauh dari tambak sehingga tidak mengetahui Amie jatuh pingsan.


\=========================================


Hallo semua. Semoga selalu sehat yaaaa


YANKTIE  mengucapkan terima kasih kalian sudah mampir ke cerita sederhana ini. Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya


Salam manis dari Sedayu~Yogyakarta