THE BLESSING OF PICKPOCKETING

THE BLESSING OF PICKPOCKETING
SUAMI TAPI BELUM PERNAH TAHU KAMAR SANG ISTRI



DARI SEDAYU ~ JOGJAKARTA, YANKTIE MENGUCAPKAN SELAMAT MEMBACA CERITA SEDERHANA INI.


JANGAN LUPA SUBSCRIBE YAAA


\~\~\~\~\~


Bude Diah sangat senang melihat putrinya datang. Dia menciumi Amie dengan penuh cinta. Gadis kecil yang memang dia sayang lebih dari sekedar sayang terhadap keponakan. Karena sejak tahu ketiga anaknya lelaki semua. Maka Amie lah kompensasi sosok anak perempuan baginya. Saat itu Amie baru berusia tiga tahun. “Kamu bawa apa aja sayang? Banyaaaaaak banget?” bu Diah terperanjat melihat bawaan oleh-oleh yang Amie turunkan.


“Ini enggak seberapa bude, karena kami di Solo sejak kemarin. Sehingga saya pesan ke Ibu untuk tidak membawakan sayuran yang mudah layu. Dan saya bilang mau ke Solo juga mendadak, jadi Ibu sedikit kesal karena enggak bisa mbawain bude banyak oleh-oleh. Maafkan saya ya Bude,” cetus Putut.


“Wah ada degan, kita buka sekarang yok,” Ragil yang akhirnya bisa ikut di acara mas Jhon langsung membawa degan ke dapur. Dia juga langsung merebus gula merah untuk pemanisnya.


“Aku suka ini,” Jhon memegang bumbu pecel yang dikirim bu Tiwi. Mereka langsung ngobrol melepas rindu.


“Mas, koper kita dimasukkan ke kamarku aja,” Amie memberitahu Putut.


“Aku ‘kan belum pernah tahu kamarmu Yank,” sahut Putut. Dia memang belum pernah ke rumah ini sebelum menikah dengan Amie.


Amie tersipu dan menunjukkan letak kamarnya dulu. “Di sini Mas.”


Amie juga memberitahu letak kamar mandi di belakang dekat dapur.


“Mbak Putri nanti kesini dulu atau langsung ke rumah mbak Farah?” tanya Amie saat menerima telepon dari kakak iparnya itu.


“Kami sedang on the way, hanya mau nge cek kamu sudah datang belum,” balas Putri.


“Saya sejak kemarin sudah di Solo, dan sudah dirumah bude sejak tadi,” balas Amie.


“Oh ya sudah, sebentar lagi kami sampai,” Putri menutup percakapan mereka.


“Bagaimana persiapan pernikahan kalian?” tanya pak Siswojo pada Putut.


“Kami memangnya menyiapkan apa Pakde? Semua diurus Ibu dan Bude. Kalau soal baju pengantin, kami sudah memilih busana pengantin Jogja diperias pengantin. Nanti seminggu sebelum acara  tinggal ukur badan karena kalau jauh hari diukur takutnya banyak berubah.”


“Terlebih untuk pengantin putri. Periasnya bilang adakalanya pengantin putri tambah gemuk atau tambah kurus karena stress menjelang pernikahan,” jawab Putut sambil mengambil serabi solo yang dihidangkan bude Diah.


“Iya, memang sebaiknya kalian tinggal terpisah. Walau hanya sebelah rumah, tapi kalian punya privasi. Karena mau sedekat apa pun hubungan kita dengan mertua, tentu ada satu masa kita perlu mandiri.”


“Bukan hanya perempuan, lelaki pun sebagai menantu pasti ingin punya suara dalam rumah tangga. Sedang orang tua tidak berpikir hal itu. Bude sangat setuju kalian memilih tinggal di rumah belakang,” bu Diah menyuarakan isi hatinya.


Tak sengaja Putro dan Putri mendengar semua itu saat mereka akan masuk kerumah pak Siswojo. Putri merasa keputusannya memenuhi permintaan kedua orang tuanya sangat tidak tepat. Dia telah mengabaikan perasaan suaminya.


“Assalamu’alaykum,” Putri berupaya suaranya terdengar normal. Dia tak menyangka sebenarnya ibu mertua menyesalkan keputusan Putro ikut tinggal di rumahnya.


Selama ini kedua mertuanya selalu membiarkan mereka mengambil keputusan. Mereka hanya akan memberi masukan bila diminta pendapatnya.


“Wa’alaykum salam,” jawab semua yang sedang berkumpul di ruang keluarga.


Sore nan cerah, semua bahagia bisa berkumpul dalam formasi komplit. “Nanti kita bawa apa Bude?” tanya Amie di ruang makan. Para perempuan memang sedang berkumpul disana. Amie sedang menyendokkan es degan untuk Putro dan Putri yang baru datang.


“Mas mu bilang kita hanya makan malam, jadi enggak perlu bawa apa-apa. Tapi tadi bude dan mas Jhon sudah menyiapkan parcel buah. Selain itu bude bawa serabi aja. Belum ada serah-serahan karena bukan lamaran,” jelas bu Diah.


“Aku enggak nyangka, sahabatku dari SMP akan jadi iparku,” Putri ikut urun suara.


“Iya Mbak, padahal mereka kenal bukan karena pernikahan Mbak Putri ya,” Amie menaruh gelas es degan di nampan dan membawanya ke ruang tengah.


\===========================================


Ditunggu komen manisnya ya.


Jangan lupa juga kasih LIKE, hadiah secangkir kopi atau setangkai mawar dan setiap hari Senin gunakan VOTE yang kalian dapat gratis dari noveltoon/mangatoon untuk diberikan ke novel ini ya.


Salam manis dari Sedayu ~ Yogyakarta


Sambil nunggu yanktie update cerita ini, kita mampir ke cerita karya yanktie yang lain dengan judul BETWEEN QATAR AND JOGJA  ya.



Dan sekali lagi yanktie ingetin jangan lupa subscribe cerita dengan judul  BETWEEN QATAR AND JOGJA itu ya.